Langsung ke konten utama

Tuntunan Praktis Shalat Idul Adha Menurut KH Sholeh Darat


Setiap menjelang Idul Adha, seringkali orang mencari-cari referensi mengenai tata cara shalat lebaran qurban. Berikut salah satu rujukan shalat 'idaini (dua hari raya Islam) yang disampaikan oleh KH Sholeh Darat dalam kitab Majmu'atus-Syarî'ah al-Kafiyah lil-'Awâm.

Shalat Idul Adha yang berjumlah dua raka'at hukumnya sunnah. Niat shalat yang dibaca adalah:

Tuntunan Praktis Shalat Idul Adh   a Menurut KH Sholeh Darat
Tuntunan Praktis Shalat Idul Adha Menurut KH Sholeh Darat

أُصَلِّي سُنَّةَ عِيْدِ اْلأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ لِلهِ تَعَالَى

KH Sholeh Darat memaknai isi niat itu seperi ini: 'Saya berniat melaksanakan shalat sunnah Idul Adha dua rakaat karena perintah Allah subhânahu wata'âlâ dan meniru amalan Rasulullah Saw'.

Setelah berniat dilanjutkan takbiratul ihram dengan menyebut: 'Allahu Akbar' dilanjutkan dengan membaca doa iftitah dengan mengucap:

الله أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَاْلحَمْدُ لِلهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا .... � �َجَهْتُ وَجْهِيَ... الخ

Setelah itu takbir tujuh kali (rakaat pertama) dengan mengucap:

Tuntunan Praktis Shalat Idul Adha Menurut KH Sholeh Darat
Tuntunan Praktis Shalat Idul Adha Menurut KH Sholeh Darat

الله أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَاْلحَمْدُ لِلهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا

Setelah itu membaca surat al-Fatihah dilanjutkan dengan membaca surat yang dihafal. Dilanjutkan dengan ruku' dan sujud dan kembali berdiri masuk raka'at kedua.

Setelah berdiri pada raka'at kedua membaca takbir lima kali dengan bacaan yang sama dalam raka'at pertama.

Dilanjutkan dengan membaca surat al-Fatihah dan surat yang dihafal kemudian dilanjutkan dengan ruku' dan sujud. Setelah itu dilanjutkan dengan tahiyyat akhir dan diakhiri dengan salam.

Demikian tata cara shalat Idul Adha yang disampaikan oleh KH Sholeh Darat. Tata cara ini juga berlaku sama ketika shalat Idul Fitri, hanya dengan mengubah kalimat niatnya saja.

Setelah shalat 'id selesai, kemudian dilanjutkan dengan dua kali khutbah sama seperti shalat Jum'at. Ketika sebelum khutba h shalat 'id disunnahkan membaca takbir 9 kali (khutbah pertama) dan takbir 7 kali (khutbah kedua).

Sunnah shalat 'id ini untuk laki-laki dan perempuan dalam keadaan mukim atau sedang musafir baik dengan berjamaah atau sendiri (munfarid). Berbeda dengan shalat Jum'at yang wajib dilaksanakan dengan berjama'ah.

Selamat Idul Adha 1437 H/2016 M.

Wallahu a'lam bis-shawâb.


Tuntunan Praktis Shalat Idul Adha Menurut KH Sholeh Darat
Tuntunan Praktis Shalat Idul Adha Menurut KH Sholeh Darat



M. Rikza Chamami, Wakil Ketua KOPISODA (Komunitas Pecinta KH Sholeh Darat) & Dosen UIN Walisongo


Tuntunan Praktis Shalat Idul Adha Menurut KH Sholeh Darat
Tuntunan Praktis Shalat Idul Adha Menurut KH Sholeh Darat


Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/71118/tuntunan-praktis-shalat-idul-adha-menurut-kh-sholeh-darat

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...