Langsung ke konten utama

Thariqat dan Doa-doa Gus Dur 2 (Habis)

Thariqat dan Doa-doa Gus Dur 2 (Habis)
Thariqat dan Doa-doa Gus Dur 2 (Habis)


PADA AWALNYA, shalawat atas Nabi dianggap sebagai doa bagi Nabi, karena kecintaan kepadanya. Akan tetapi dalam perjalanannya ia kemudian dipandang sebagai puji-pujian dan penghormatan untuk Nabi ya ng hidup di samping Tuhan. Praktik ini memperoleh legitimasi dari kitab suci Al-Qur'an.

Tuhan mengatakan, 'Jika engkau mencintai Tuhan, maka ikutilah Nabi. Maka Tuhan akan mencintaimu,' Dan bukan hanya manusia yang dianjurkan Tuhan untuk membaca salawat (penghormatan) untuknya, melainkan juga Tuhan sendiri dan para Malaikat. Tuhan mengatakan :

ØÙÙ†ÙŽÙ' ØÙ„لهَ ÙˆÙŽÙ...ÙŽÙ„ÙŽØØÙÙƒÙŽØÙŽÙ‡Ù ÙŠÙØÙŽÙ„ÙÙ'ونَ ØÙŽÙ„ÙŽÙ‰ ØÙ„Ù†ÙŽÙ'ØÙÙ‰ ÙŠÙŽØ ØÙŽÙŠÙÙ'Ù‡ÙŽØ ØÙ„ÙŽÙ'ØÙÙŠÙ'Ù†ÙŽ ØÙ...ÙŽÙ†ÙÙˆØ ØÙŽÙ„ÙÙ'Ùˆ ØÙŽÙ„ÙŽÙŠÙ'Ù‡Ù ÙˆÙŽØÙŽÙ„ÙÙ'Ù...ÙÙˆØ ØÙŽØÙ'Ù„ÙÙŠÙ'Ù...ØÙ‹

'Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.' (Q.S. Al-Ahzab [33]:56).

S halawat dianggap syarat penting agar doa dikabulkan. 'Permohonan (doa) akan dianggap berada di luar pintu langit sampai orang yang berdoa itu mengucapkan shalawat untuk Nabi.'

Penyair Turki abad pertengahan, Asyiq Pasha, mengingatkan orang-orang senegerinya tentang eksistensi primordial Nabi Muhammad saw, yang menjadi suatu segi yang begitu penting dalam profetologi mistikal:

Adam masih berupa debu dan lempungMuhammad telah menjadi NabiDia telah dipilih TuhanUcapkan shalawat untuknya(Annemarie, Dan Muhammad adalah Utusan Tuhan, hlm. 145).

Kaum sufi di manapun berada selalu membaca shalawat berkali-kali baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama dalam jama'ah (kumpulan/kelompok), untuk mengantarkan permohonannya kepada Tuhan. Mereka gemar sekali menyenandungkan do'a shalawat itu dalam bentuk puisi-puisi yang indah. Annemarie Schimmel, pakar mistisisme Islam, pengagum berat Ibn Arabi dan Rumi, menginformasikan bahwa di beberapa kalangan Afrika Utara oran g bisa mendatangi pertemuan-pertemuan shalawat di mana orang itu ikut serta dalam doa bersama untuk Nabi dan berharap agar permintaan yang diucapkan dalam pertemuan semacam itu akan segera dikabulkan. Salah satu do'a shalawat yang popular di sana adalah Doa Pelipur Cordova. (Annemarie, hlm. 143).

'Wahai Allah, berkahilah dengan berkah yang istimewa tuan kami, Muhammad, yang olehnya segala kesulitan terpecahkan, segala kesedihan terhiburkan, segala masalah terselesaikan, yang melaluinya hal yang diinginkan dapat dicapai dan yang dari air mukanya yang mulia awan meminta hujan, dan berkahilah keluarganya dan sahabat-sahabatnya'.

Betapa pentingnya shalawat atas Nabi saw untuk mengawali do'a kepada Tuhan, mengingatkan saya pada Qasidah Burdah, karya sufi penyair Imam Bushairi. Bushiri, sastrawan sufi legendaries abad ke 13, menulis kasidah ini ketika dia mengalami sakit berkepanjangan, stroke.

Sepanjang hari sepanjang malam dia berdoa sampai begitu lelah dan tertidur. Suatu malam ia bermimpi bertemu nabi. Nabi yang mulia mengusapkan tangannya ke wajah Bushairi lalu menyerahkan selendangnya (burdah). Bushairi terjaga dari mimpinya dan melihat dirinya tak lagi sakit. Semula kumpulan Nazham (puisi-sajak) dengan akhir huruf mim (karena itu biasa disebut ; Al-Mimiyah) diberi judul panjang: Al-Kawakib al-Durriyyah fi Mad-hi Khairi al-Bariyyah (Bintang-Gemintang berpendar gemerlap yang memuji Manusia Paripurna). Akan tetapi karena terlalu panjang hingga menyulitkan orang menyebut dan mengingatkannya, maka diambillah kata 'Al-Burdah al-Bushiri' (selimut atau selendang).

Ketika saya di ke Iskandariyah, Mesir, tahun 1982, saya menyempatkan diri ziarah dan berdo'a di pusara penyair sufi besar ini, tidak jauh dari makam sufi besar; Said Mursi. Di pesantren, saya sempat menghapalnya meski serba sedikit. Tetapi banyak santri yang hapal di luar kepala. Di Universitas Kairo, kasidah ini diajarkan pada setiap hari Kamis dan Jum'at.
< br />Di bawah ini adalah beberapa saja dari bait puisi Bushairi yang seluruhnya berisi 160 bait, yang masih saya hapal. Sebuah Puisi yang memperlihatkan kerinduan Bushairi kepada Nabi Saw. Kasidah ini didendangkan dengan bahar(nada dan ritme) Basith : Mustaf'ilun fa'ilun.



ØÙŽÙ...ÙÙ†Ù' ØÙŽØÙŽÙƒÙÙ'ØÙ ØÙÙŠÙ'ØÙŽØÙ†Ù ØÙØÙÙ‰ ØÙŽÙ€Ù€Ù€Ù€Ù„ÙŽÙ...Ù Ù...ÙŽØÙŽØÙ'ØÙŽ ØÙŽÙ...Ù'ØÙ‹Ø ØÙŽØÙŽÙ‰ Ù...ÙÙ†Ù' Ù...ÙÙ‚Ù'Ù„ÙŽØÙ ØÙـــØÙŽÙ...Ù
ØÙŽÙ...Ù' Ù‡ØÙŽÙ'ØÙ ØÙ„ØÙÙ'ÙŠÙ'ØÙ Ù...ÙÙ†Ù' ØÙÙ„Ù'Ù‚ÙŽØØÙ ÙƒÙŽØØÙÙ...َـــØÙ ÙˆØÙŽÙˆÙ'Ù...ÙŽØÙŽ ØÙ„Ù'ØÙŽØÙ'Ù‚Ù ÙÙÙŠ ØÙ„ØÙŽÙ'Ù„Ù'Ù...ÙŽØØÙ Ù...ÙÙ†Ù' ØÙØÙŽÙ€Ù...Ù
ÙÙŽÙ...ÙŽØ Ù„ÙØÙŽÙŠÙ'Ù†ÙŽÙŠÙ'ÙƒÙŽ ØÙÙ†Ù' Ù‚ÙÙ„ Ù'ØÙŽ ØÙƒÙ'ÙÙÙÙŽØ Ù‡ÙŽÙ...ÙŽØÙŽÙ€Ù€Ø ÙˆÙŽÙ...ÙŽØ Ù„ÙÙ‚ÙŽÙ„Ù'ØÙÙƒÙŽ ØÙÙ†Ù' Ù‚ÙÙ„Ù'ØÙŽ ØØÙ'ØÙŽÙÙÙ‚Ù' ÙŠÙŽÙ‡ÙــــÙ...Ù
ØÙŽÙŠÙŽØÙ'ØÙŽØÙ ØÙ„ØÙŽÙ'ØÙÙ' ØÙ†ÙŽÙ' ØÙ„Ù'ØÙØÙŽÙ' Ù...ÙÙ†Ù'ÙƒÙŽØÙـــÙ...ÙŒ Ù...ÙŽØ ØÙŽÙŠÙ'Ù†ÙŽ Ù...ÙÙ†Ù'ØÙŽØÙÙ...Ù Ù...ÙÙ†Ù'Ù‡Ù ÙˆÙŽÙ...ÙØÙ'ØÙŽÙ'ــــــØÙ...Ù
Ù„ÙŽÙˆÙ'Ù„ÙŽØ ØÙ„Ù'Ù‡ÙŽÙˆÙŽÙ‰ Ù„ÙŽÙ...Ù' ØÙØÙÙ‚Ù' ØÙŽÙ...Ù'ØØÙ‹ ØÙŽÙ„ÙŽÙ‰ ØÙŽÙ€Ù„ÙŽÙ„Ù ÙˆÙŽÙ„ÙŽØ ØØÙ‚Ù'ØÙŽ Ù„ÙØÙÙƒÙ'ØÙ ØÙ„ØÙŽØÙ†Ù ÙˆØÙ„ØÙŽÙ„ــــÙ...Ù
ÙÙŽÙƒÙŽÙŠÙ'ÙÙŽ ØÙÙ†Ù'ÙƒÙØÙ ØÙØÙ'ØÙ‹ ØÙŽØÙ'ØÙŽ Ù...ÙŽØ ØÙŽÙ€Ù€Ù‡ÙØØÙ' ØÙÙ‡� � ØÙŽÙ„ÙŽÙŠÙ'ÙƒÙŽ ØÙŽØÙÙˆÙ'Ù„Ù ØÙ„ØÙŽÙ'Ù...Ù'ØÙ ÙˆÙŽØÙ„ØÙŽÙ'ــــقَÙ...Ù
ÙˆÙŽØÙŽØÙ'ØÙŽØÙŽ ØÙ„ÙˆÙŽØÙ'ØÙ ØÙŽØÙŽÙ'ÙŠÙ' ØÙŽØÙ'ØØÙ ÙˆÙŽØÙŽÙ€Ù€Ù†Ù‰Ù‹ Ù...ÙØÙ'Ù„ÙŽ ØÙ„ØÙŽÙ‡ÙŽØØÙ ØÙŽÙ„Ù‰ ØÙŽØÙŽÙ'ÙŠÙ'ÙƒÙŽ ÙˆÙŽØÙ„Ù'ØÙŽÙ†ÙŽÙ€Ù€Ù€Ù€Ù...Ù
Ù†ÙŽØÙŽÙ...Ù' ØÙŽØÙŽÙ‰ ØÙŽÙŠÙ'ÙÙ Ù...ÙŽÙ†Ù' ØÙŽÙ‡Ù'ÙˆÙŽÙ‰ ÙÙŽØÙŽØÙŽÙ'قَـنÙÙŠ ÙˆÙŽØÙ„Ù'ØÙØÙÙ' ÙŠÙŽØÙ'ØÙŽØÙØÙ ØÙ„Ù„ÙŽÙ'ØÙŽÙ'ØØÙŽ ØÙØÙ„Ù'ØÙŽÙ„َــــÙ...Ù
ÙŠÙŽØ Ù„ÙŽØØÙÙ...ÙÙŠ ÙÙÙŠ ØÙ„Ù'Ù‡ÙŽÙˆÙŽÙ‰ ØÙ„Ù'ØÙØØÙÙŠÙÙ' Ù...ÙŽØÙ'ØÙØÙŽØÙ‹ Ù...ÙÙ†ÙÙ'ÙŠ ØÙÙ„ÙŽÙŠÙ'ÙƒÙŽ ÙˆÙŽÙ„ÙŽÙˆÙ' ØÙŽÙ� �Ù'ØÙŽÙÙ'ØÙŽ Ù„ÙŽÙ...Ù' ØÙŽÙ„ÙــــÙ...Ù


Aduhai, apakah karena kau rindu
pada tetangga di kampung Dzi Salam
Air bening menetes satu-satu
Dari sudut matamu
Bercampur darah

Ataukah karena semilir angin
yang berhembus
dari Kadhimah
Dan kilatan cahaya
dalam pekat malam

Apakah kekasih mengira
Api cinta yang membara di dada
Dapat dipadamkan air mata?
Andai bukan karena cinta
Puing-puing tak mungkin basah airmata

Andai bukan karena cinta
Matamu tak mungkin jaga sepanjang malam
Membayangkan keindahan gunung gemunung
Dan semerbak pohon kesturi
Dan tinggi semampai pohon pinus

Mana mungkin kau ingkari cintamu
Padahal ada saksi menyertaimu
Ketika air matamu berderai-derai
Dan kau jatuh sakit begitu memelas
Dukamu menggoreskan
Tetes air mata dan luka
Bagai m awar kuning dan merah
Pada dua pipimu yang ranum

Ya, aku melihat kekasihku
Berjalan ketika malam muram
Hingga mataku selalu terjaga
Cinta telah mengganti riang jadi nestapa



Seluruh do'a, dzikir dan shalawat atas Nabi ditujukan kepada Allah, hanya kepada Dia, tidak kepada yang lain, termasuk tidak kepada Nabi Muhammad Saw. Karena hanya Dialah Pemilik segala, hanya Dialah Penguasa atas semesta raya dan hanya Dialah Yang mengabulkan segala permohonan hamba-hamba-Nya.

Dialah Titik Pusat dari segala. Pengaduan kepada manusia, siapapun dia, akan kegundahan dan curahan hati karena kemelut hidup yang acap kali datang menghempaskan jiwa dan pikiran, seringkali mengecewakan. Mereka tak mampu memberi jalan terang, dan tak bisa menjawab kebutuhan-kebutuhan yang terus dan terus mengalir bagai air yang sangat deras. Mereka acapkali juga sibuk dengan urusan dan kegalauannya sendiri-sendiri. Mereka juga membutuh kan kepentingan hidup yang juga terus mengejar mereka siang dan malam. Tetapi tidak bagi Tuhan. Dia tidak membutuhkan apa-apa dan siapa-siapa. Sebaliknya Dialah Yang selalu Memberi. Dia bahkan amat senang jika hamba-hamba-Nya meminta.

Gus Dur pastilah sangat mengenal bait-bait puisi Burdah al-Bushiri di atas, bahkan sebagian atau semuanya mungkin dihapal dengan baik. Saya meyakini hal itu pada Gus Dur, karena kedua Qasidah Burdah di atas amat popular di kalangan para santri.
Mereka menghapalnya lalu mendendangkannya dengan nada-nada lagu yang indah dalam acara-acara yang relevan. Hal yang sama juga dilakukan mereka dalam Burdah Madaih atau Na'tiyah, karya Ka'ab bin Zuhair. Burdah ini berisi penghormatan dan pujian kepada Nabi. Ia dikenal dengan Qasidah 'Banat Su'ad' (putri-putri Su'ad). Ini karena Qasidah Burdah yang terdiri dari 58 bait ini diawali dengan kalimat :

ØØÙ†ØÙ' ØÙØØØÙ ÙقلØÙŠ ØÙ„يوÙ...ÙŽ Ù...ØØÙˆÙ„� � ... Ù...ÙØÙŠÙ...ÙŒ ØØØÙ‡ØØŒ Ù„Ù'Ù... ÙŠÙÙØÙŽ Ù...ÙƒØÙولÙ

Ka'ab Bin Zuhair, adalah seorang penyair terkenal pada masanya. Ia suka sekali mencacimaki Nabi. Sikap itu membuat hidupnya jadi galau. Ia lalu menemui Nabi dan menyanyikan kasidah tersebut di hadapan beliau. Nabi begitu senang mendengarnya, lalu memberinya selendang (burdah) yang sedang dikenakannya. Kiai Sa'id Aqil Siraj, ketua umum PBNU, sering menyanyikan puisi-puisi ini manakala memberikan pengajian umum di berbagai pesantren dan pada komunitas warganya: Nahdlatul Ulama. Ia hapal di luar kepala kedua qasidah burdah itu.

Sebagian orang, sebut saja antara lain kelompok Wahabi di Saudi Arabia, menyebut 'tawassul' dengan salawat seperti ini sebagai praktik kemusyrikan (menyekutukan Tuhan). Tawassul, menurut mereka berarti meminta kepada manusia, meskipun ia seorang Nabi dan kekasih-Nya, bukan kepada Tuhan. Kita telah maklum Wahabi adalah kelompok tekstualis. Mereka memaknai segala teks secara harfiyah, dan tidak setuju dengan pemaknaan metaforis (majaz) dan aforisme-aforisme sufistik. Biarkan saja, tak mengapa. Itu hak mereka. Dan itu menunjukkan batas pengetahuan mereka. Tetapi kita tentu amat menyesalkan bila kemudian mereka memaksakan pandangannya kepada orang lain, melalui cara-cara kekerasan, 'hate speech' atau bahkan dengan menghunuskan pedang atau meledakkan bom.

Tawassul dan do'a-do'a Gus Dur itu kini telah menyebar di mana-mana, dikasetkan , di CD kan, di Youtube kan, atau disimpan di HP, diputar berulang-ulang, didengarkan dengan penuh khusyu' di kendaraan-kendaraan pribadi, dan dilantunkan para pengagumnya di berbagai kesempatan menghormat atau mendiskusikan Gus Dur. Beliau menyanyikannya dengan nada-nada elegi dini yang sendu, bagai sembilu yang menyayat-nyayat qalbu. Bait-bait do'a, salawat dan tawasul yang disenandungkan Gus Dur itu sesungguhnya tidaklah asing bagi para santri. Ia telah berabad ditemba ngkan di pesantren-pesantren dan surau-surau. Suara Gus Dur memang tak semerdu suara Hadad Alwi atau Abdul Halim Hafiz, penyanyi kondang dari Mesir atau lainnya. Tetapi lantunan Gus Dur, meski bersahaja, terasa memiliki makna keindahan mitis dan magis yang menghunjam qalbu dan menyimpan rindu-rindu. Ini tentu karena Gus Dur melantunkannya dengan suara hatinya yang bening dan ketulusan cintanya yang penuh.

Di bawah ini adalah doa-doa yang selalu dibaca Gus Dur di samping do'a-do'a yang lain. Semua orang pesantren dan kaum Nahdliyyin mungkin sudah tahu atau bahkan hapal doa-doa itu. Doa-doa ini seluruhnya mengandung permohonan ampunan Tuhan. Do'a pertobatan yang secara literal berarti kembali kepada Tuhan. Ada juga di dalamnya yang memohon petunjuk ke arah jalan lurus (amal saleh) dan anugerah ilmu yang bermanfaat. Sebagian ada yang diawali dengan tawassul melalui Al-Musthafa, Nabi Muhammad Saw. Doa yang terakhir konon ditulis oleh Abu Nawas, sang cendikiawan dan sastrawan terkemuka yang jenaka tetapi amat cerdas itu. Hampir semua orang mengenal cerita-cerita jenaka orang ini dan mendongengkannya kepada anak-anak mereka, terutama menjelang tidur. Ia, ketika muda, konon, pernah menjalani kehidupan glamor, mabuk dan urakan, tetapi cara itu kemudian disadarinya akan mencelakakannya kelak. Tahun-tahun terakhir hidupnya Abu Nawas bertobat dan menjalani hidupnya sebagai seorang zahid, asketik.

Dengan doa-doa itu, kita tentu paham bahwa Gus Dur selalu mohon ampunan kepada Tuhan. Para Nabi, orang-orang arif, kaum sufi dan orang-orang yang rendah hati setiap hari mohon ampunan-Nya, ratusan dan ribuan kali.

Doa Pertobatan 1

Ù...ÙŽÙˆÙ'Ù„ØÙŽÙ‰ÙŽ ØÙŽÙ„ÙÙ' ÙˆÙŽØÙŽÙ„ÙÙ'Ù...Ù' ØÙŽØØÙÙ...Ù‹Ø ØÙŽØÙŽØÙ‹Ø
ØÙŽÙ„ÙŽÙ‰ ØÙŽØÙÙŠÙ'ØÙÙƒÙŽ ØÙŽÙŠÙ'ØÙŽ ØÙ„Ù'ØÙŽÙ„Ù'Ù‚Ù ÙƒÙÙ„ÙÙ'Ù‡ÙÙ...Ù
ÙŠÙŽØ Ø� �ŽØÙÙ' ØÙØÙ„Ù'Ù...ÙØÙ'ØÙŽÙÙŽÙ‰ ØÙŽÙ„ÙÙ'ØÙ' Ù...ÙŽÙ‚ÙŽØØÙØÙŽÙ†ÙŽØ
ÙˆÙŽØØÙ'ÙÙØÙ' Ù„ÙŽÙ†ÙŽØ Ù...ÙŽØ Ù...ÙŽØÙŽÙ‰ ÙŠÙŽØ ÙˆÙŽØØÙØÙŽ ØÙ'لكَØÙŽÙ...Ù
Ù‡ÙÙˆÙŽ ØÙ„Ù'ØÙŽØÙÙŠÙ'ØÙ ØÙ„ÙŽÙ'ØÙÙ‰ ØÙØÙ'ØÙŽÙ‰ ØÙŽÙÙŽØØÙŽØÙ'Ù‡Ù
Ù„ÙÙƒÙÙ„ÙÙ' Ù‡ÙŽÙˆÙ'Ù„Ù Ù...ÙÙ†ÙŽ ØÙ„Ù'ØÙŽÙ‡Ù'ÙˆÙŽØÙ„Ù Ù...ÙÙ‚Ù'ØÙŽØÙÙ...Ù

Wahai Tuhanku,
Anugerahi kedamaian dan keselamatan
Selama-lamanya
Pada sang kekasih-Mu : Ahmad
Ciptaan-Mu yang terbaik dari semuanya
Berkat al Musthafa, sampaikan maksud-maksudku
Ampunilah dosa-dosa yang lewat
Wahai Yang Maha Mulia

Al-Musthafa, dialah sang kekasih
Pertolongannya diharap-harap
Bagi setiap kegelisahan yang memuncak

Do'a Pertobatan 2


ØÙÙ„ÙŽÙ‡ÙÙ‰ Ù„ÙŽØÙ'ØÙ Ù„ÙÙ„Ù'ÙÙØÙ'ØÙŽÙˆÙ'ØÙ ØÙŽÙ‡Ù'Ù„ØÙ‹
ÙˆÙŽÙ„ÙŽØ ØÙŽÙ‚Ù'ÙˆÙŽÙ‰ ØÙŽÙ„ÙŽÙ‰ Ù†ÙŽØØÙ ØÙ„Ù'ØÙŽØÙÙŠÙ'Ù...Ù
ÙÙŽÙ‡ÙŽØÙ' Ù„ÙÙ‰ ØÙŽÙˆÙ'ØÙŽØÙ‹ ÙˆÙŽØØÙ'ÙÙØÙ' ØÙÙ†ÙÙˆÙ'ØÙÙ‰
ÙÙŽØÙÙ†ÙŽÙ'ÙƒÙŽ ØÙŽØÙÙØÙ ØÙ„ØÙŽÙ'Ù†Ù'ØÙ ØÙ'Ù„ØÙŽØÙÙŠÙ'Ù...Ù
ØÙÙ†ÙÙˆÙ'ØÙÙ‰ Ù...ÙØÙ'Ù„Ù ØÙ'ØÙŽØØÙ ØÙ„ØÙŽÙ'Ù...ÙŽØÙ„Ù
ÙÙŽÙ‡ÙŽØÙ' Ù„ÙÙ‰ ØÙŽÙˆÙ'ØÙŽØÙ‹ ÙŠÙŽØ ØÙŽØÙ„Ù'ØÙŽÙ„ØÙŽ Ù„Ù
ÙˆÙŽØÙÙ...Ù'ØÙÙ‰ Ù†ÙŽØÙ‚ÙØÙŒ ÙÙÙ‰ ÙƒÙÙ„ÙÙ' ÙŠÙŽÙˆÙ'Ù...Ù
ÙˆÙŽØÙŽÙ†Ù'ØÙÙ‰ ØÙŽØØÙØÙŒ ÙƒÙŽÙŠÙ'ÙÙŽ ØØÙ'ØÙÙ...ÙŽØÙ„ÙÙ‰
ØÙÙ„ÙŽÙ‡ÙÙ‰ ØÙŽØÙ 'ØÙ ÙƒÙŽ ØÙ'Ù„ØÙŽØØÙÙ‰ÙÙ‰ ØÙŽØÙŽØÙƒÙŽ
Ù...ÙÙ‚ÙØÙ‹Ù'Ø ØÙØÙ„ØÙÙ'Ù†ÙÙˆÙ'ØÙ ÙˆÙŽÙ‚ÙŽØÙ' ØÙŽØÙŽØ ÙƒÙŽ
ÙˆÙŽØÙÙ†Ù' ØÙŽØÙ'ÙÙØÙ' ÙÙŽØÙŽ Ù†Ù'ØÙŽ Ù„ÙØÙŽØÙƒÙŽ ØÙŽÙ‡Ù'Ù„ÙŒ
ÙˆÙŽØÙÙ†Ù' ØÙŽØÙ'ØÙØÙ' ÙÙŽÙ...ÙŽÙ†Ù' Ù†ÙŽØÙ'ØÙÙˆ ØÙÙˆÙŽØÙƒÙŽ

Wahai Tuhanku
Aku bukan orang yang pantas tinggal di surga-Mu
Tetapi aku juga tak sanggup di neraka-Mu
Anugerahi aku kemampuan kembali pada-Mu
Dan ampuni dosa-dosaku
Karena hanya Engkaulah
Satu-satunya yang bisa memberi ampun
dosa-dosa besar

Dosa-dosaku bak jumlah butir pasir di bumi
Anugerahi aku kemampuan kembali pada-Mu
Wahai Yang Maha Agung

Umurku berkurang setiap hari
Tetapi dosaku bertambah-tambah saja
Bagaimana aku sanggup menanggungnya
Wahai Tuhanku,
Hamba-Mu yang berdosa
Telah datang, telah datang
Mengakui begitu banyak dosa
Dan ia telah sungguh-sungguh meminta-Mu

Bila Engkau mengampuniku
Karena hanya Engkaulah yang bisa mengampuni
Tetapi bila Engkau menolakku
Kepada siapa lagi aku bisa berharap

Do'a (3)

Pertobatan, Amal saleh dan Ilmu Yang bermanfaat
ØÙŽØÙ'ØÙŽØÙ'ÙÙØÙ ØÙ„لهÙ' ØÙŽØÙŽÙ' ØÙ„Ù'ØÙŽØÙŽØÙŠÙŽØ ØÙŽØÙ'ØÙŽØÙ'ÙÙØÙ ØÙ„لهÙ' Ù...ÙÙ†ÙŽ ØÙ„Ù'ØÙŽØÙŽØÙŠÙŽ
ØÙŽØÙÙ' ØÙØÙ'Ù†ÙÙŠ ØÙÙ„Ù'Ù...Ù‹Ø Ù†ÙŽØÙÙØÙŽØ ÙˆÙŽÙˆÙŽÙÙÙ'Ù‚Ù'Ù†ÙÙŠ ØÙŽÙ...ÙŽÙ„ØÙ‹ ØÙŽØÙ„ÙØÙŽØ

Aku mohon ampunan Tuhan
Dari segala kesalahan
Aku mohon ampunan Tuhan
Tuhan seluruh ciptaan-Nya
Tunjuki aku kerja yang baik
Tu hanku,
Tambahi aku pengetahuan yang berguna


Dalam berbagai kesempatan bersama Gus Dur, manakala diminta berdoa, beliau seringkali berdoa ini :

ØÙŽØÙŽÙ'Ù†ÙŽØ ØØÙÙ†ÙŽØ Ù...ÙÙ†Ù' Ù„ÙŽØÙÙ†Ù'ÙƒÙŽ ØÙŽØÙ'Ù...ÙŽØÙ‹ . ØÙÙ†ÙŽÙ'ÙƒÙŽ ØÙŽÙ†Ù'ØÙŽ ØÙ„Ù'ÙˆÙŽÙ‡ÙŽÙ'ØØÙ

'Wahai Tuhan kami! Anugerahilah kami rahmat dari sisi-Mu dan tuntunlah kami pada jalan keselamatan.' (Q.S. al-Kahfi, [18]:10) dan diakhiri dengan do'a paling popular:

ØÙŽØÙŽÙ'Ù†ÙŽØ ØØÙÙ†ÙŽØ ÙÙÙ‰ ØÙ„ØÙÙ'Ù†Ù'ÙŠÙŽØ ØÙŽØÙŽÙ†ÙŽØÙ‹ ÙˆÙŽÙÙÙ‰ ØÙ„ØØÙØÙŽØÙ ØÙŽØÙŽÙ†ÙŽØÙ‹ ÙˆÙŽÙ‚ÙÙ†ÙŽØ ØÙŽØÙŽØØÙŽ ØÙ„Ù†ÙŽÙ'ØØÙ

'Wahai Tuhan, anugerahi kami kebaikan hidup di dunia dan kebaikan hidup di akhirat, dan lindungi kami dari siksa neraka'.(Q.S. Al-Baqarah, [2]:201).


Oleh: Husein Muhammad, Pengasuh Pesantren Dar al-Tauhid Cirebon, Jawa Barat




Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/39025/thariqat-dan-doa-doa-gus-dur-2-habis

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...