Langsung ke konten utama

Sumpah dan Kedahsyatan Energinya

Sumpah dan Kedahsyatan Energinya
Sumpah dan Kedahsyatan Energinya

Sekitar delapan tahun lalu tepatnya pada 20 Januari 2009 Barak Hussein Obama dilantik manjadi Presiden Amerika serikat ke-44. Sayangnya, saat pembacaan sumpah jabatan ternyata Ketua Mahkamah Agung AS waktu itu Johyn G. Robert salah mengucapkan urut-urutan kata yang mesti ditirukan Obama.

Meski hanya kesalahan kecil, kejadian itu menjadi perbincangan media di Amerika Serikat. Terutama tentang keabsahan Obama sebagai presiden AS. Agar tak berlarut-larut, sehari kemudian presiden berkulit hitam pertama negera Paman Sam itu diputuskan mengulang pembacaan sumpahnya (Jawa Pos, 23  Januari 2009).

Berlebihankah media AS yang menuntut Obama mengulangi pernyataan sumpahnya? Apakah tradisi sumpah, baiah atau ikrar dalam pelantikan-pelantikan jabatan mulai jabatan presiden hingga kepengurusan ormas-ormas hanyalah sebatas seremonial dan formalitas belaka?

Agaknya pertanyaan-pertanyaan itulah yang menarik penuis artikel ini untuk mencoba menguak rahasia yang terkandung dalam pernyataan sumpah, ikrar dan sebangsanya hingga ia dianggap begitu penting.  Kita mencoba menelisik beberapa peristiwa dan momentum dalam sejarah di bawah ini.

Baiah Aqabah I


Ikrar ini adalah ikrar yang diucapkan oleh beberapa muslim asal Yatsrib (Madinah) yang baru saja masuk Islam, bertempat di Tanah Aqabah. Mereka berikrar atau bersumpah kepada Nabi Muhammad untuk tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak, tidak mengumpat dan memfitnah, tidak menolak berbuat kebajikan dls. Ikrar ini kemudian dikenal sebagai 'bai ah Aqabah pertama'.

Tidak lama setelah berlangsungnya ikrar ini agama Islam makin tersebar luas di Yatsrib. Dan Nabi Muhammad pun menugaskan Sahabat Mus'ab bin Umar untuk mengajarkan ilmu agama di sana, baik kepada kalangan muslimin Aus maupun Khazraj. Dan lewat perantara ikrar Aqabah satu inilah Nabi Muhammad mendapatkan ilham melakukan hijrah ke Yatsrib karena kota ini dinilai lebih prospektif bagi pengembangan dan masa depan agama Islam.

Baiah Aqabah II


Bermula pada tahun 622 M ketika jumlah peziarah dari Yatsrib yang telah masuk Islam bertambah banyak, tepatnya berjumlah 75 orang terdiri dari 73 laki-laki dan 2 perempuan, Nabi Muhammad punya inisiatif untuk mengikrar, menyumpah mereka di Aqabah yang kemudian popular dengan nama baiah Aqabah dua. jika pada ikrar Aqabah pertama sebatas hanya pada seruan kepada Islam, namun pada ikrar kali ini Nabi muhammad menghendaki agar ikrar kedua ini dapat lebih mengikat dan menjadi pakta persekutuan yang dengan demikian kaum muslimin dapat mempertahankan diri dari tekanan kaum paganisme Quraish (Muhammad Husain Haikal, hal. 173).

Akhirnya - untuk meringkas cerita - bertempat di bukit Aqabah mereka bersedia mengucapkan ikrar. Inilah pernyataan ikrar mereka dihadapan Nabi Muhammad:

'Kami berikrar bahwa kami sudah mendengar dan setia diwaktu suka danduka ,diwaktu bahagia dan sengsara , kami hanya akan berkata yang benar dimana saja kami berada ,dan dijalan Allah ini kami tidak takut kritik siapapun' (Husein Haikal, hal.176).

Peristiwa ikrar ini selesai pada tengah malam di sebuah celah bukit Aqabah jauh dari masyarakat ramai, dengan dasar kepercayaan bahwa hanya Allah yang tahu keadaan mereka. Tahukah dampak dan pengaruh dari baiah Aqabah kedua ini? Sungguh dampak dan pengaruhnya sangat luar biasa bagi perkembangan dan masa depan agama Islam. Berkat ikrar Aqabah inilah yang membuat Nabi memiliki para sahabat dari kalangan Ansor ( penduduk pribumi Madinah) yang sangat loyal dan setia pada beliau sehingga mereka mau dan rela berjuang dan berkorban dalam banyak peperangan demi membela Islam dan melindungi Nabi. Dan dalam perang Badar, Uhud, Khondak serta berbagai ekspedisi ke beberapa daerah para sahabat tersebut membuktikan loyalitas dan kesetiaan mereka hingga titik darah penghabisan. Dan pada akhirnya berkat di dampingi oleh sahabat-sahabat yang militan itulah akhirnya Nabi Muhammad dapat menegakkan agama Islam ini tidak hanya di semenanjung Arab tapi hingga ke pelbagai penjuru dunia.

Sumpah Palapa Gajah Mada

Saat dilantik menjadi Patih Majapahit, Gajah Mada bersumpah dengan mengatakan, 'Saya bersumpah tidak akan amukti palapa ( makan buah palapa ) sebelum berhasil menyatukan Nusantara'. Dan tak dinyana, ternyata sumpah patih Gajahmada tersebut akhirnya menjadi motifasi besar bagi kerajaan Majapahit  menjadi imperium besar dengan wilayah luas mulai Papua sampai Pahang ( Malaysia ). Dalam kisah ini patih Gajah Mada berhasil mewujudkan cita-citanya yaitu menyatukan wilayah Nusantara, karena lewat bersumpah ia dapat membangkitkan kekuatan bawah sadarnya.

Sumpah Pemuda Pra-Kemerdekaan RI

Hari sumpah pemuda diperingati tiap tanggal 28 Oktober. Peristiwa supah pemuda dilatar belakangi ketika para aktivis pemuda Indonesia pada akhir tahun 1920-an meyakini perlunya kesatuan sumpah demi mendapat kemerdekaan. Pada era 1920-an itu kita yang sekarang bernama bangsa Indonesia masihlah berupa komunitas-komunitas, suku-suku dan kerajaan-kerajaan yang terpencar-pencar. Kala itu tidak semua orang berani sekedar punya impian dan harapan terwujudnya kesatuan dan kemerdekaan Indonesia.

Tapi ada sekian pemuda Indonesia yang inovatif dan eksperimental, yang punya cita-cita bisa bersatunya Nusantara dan terbebas dari belenggu penjajahan kolonial Belanda. Untuk membantu merealisasikan cita-cita itu mereka menyatakan sumpah yang kini dikenal sebagai sumpah pemuda. Dan sekali lagi sumpah menunjukkan kekuatannya . Pada 17, Agustus, 1945 harapan dan impian para pemuda tersebut terkabul, proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada hari itu telah dibacakan oleh Ir. Sukarno.

Demikianlah tiga keberhasilan besar dan spektakuler yang tercatat dalam sejarah, hal mana ketiganya sama-sama berpijak dari sumpah atau ikrar sebagai langkah pertamanya. Itu membuktikan (meski tidak secara generik) bahawa suatu sumpah yang dinyatakan baik secara individu ataupun kelompok benar-benar memiliki kekuatan dahsyat yang mendorong individu atau kelompok tersebut dapat mewujudkan cita-citanya. (M. Haromain)



Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/75842/sumpah-dan-kedahsyatan-energinya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...