Langsung ke konten utama

Sikap Insanul Kamil Hadapi Pujian Manusia Menurut Ibnu Athaillah

Pujian orang lain terhadap kita semacam permen, manis tapi bisa bikin sariawan. Pujian manusia bisa meruntuhkan atau meningkatkan martabat seseorang di sisi Allah. Tetapi pujian hanya menghasilkan rasa malu bagi mereka yang merasa tidak pantas menerima pujian tersebut.

Sikap Insanul Kamil Hadapi Pujian Manusia Menurut Ibnu Athaillah
Sikap Insanul Kamil Hadapi Pujian Manusia Menurut Ibnu Athaillah

المؤمن إذا مدح استحى من الله أن يثنى عليه بوصف لا يشهد من نفسه

Artinya, 'Orang beriman itu ketika dipuji akan malu kepada Allah karena memujinya dengan sifat yang dia tak lihat pada dirinya.'

Orang beriman memandang Allah dalam segala keadaan. Ia menanggap pujian orang lain itu ditujukan untuk Allah karena ia hanya hanya tempat penampakan sifat-sifat-Nya yang terpuji.

Sikap Insanul Kamil Hadapi Pujian Manusia Menurut Ibnu Athaillah
Sikap Insanul Kamil Hadapi Pujian Manusia Menurut Ibnu Athaillah

المؤمن مظهر تجلى اسمه المؤمن وهو المصدق بجميع أنبياء الله وبما جاؤوا به من أنبيائه التى منها تحقيق وجوب الإيمان بها، وجب إيقان معيته تعالى مع كل شيء وإحاطته به علما وقدرة ونظرا، فإذا مدح بين يديه بما ليس فيه أو منه استحيى من أن يثنى عليه بوصف كائن فيه من الله لا يش هده من نفسه كما تقدم بيانه في الكلمة التي قبلها، وهو إما لشهوده منها ضده أو بعضه أو هو ولكن يشهد أن الله فيها أوجده، فتفطن لنقد الرجال ولا تكن به من الجهال.

Artinya, 'Orang beriman itu tempat manisfestasi asma-Nya bernama 'al-mukmin' yang membenarkan semua para nabi dan kabar yang mereka sampaikan di mana salah satunya adalah realisasi kewajiban keimanan. Kebersamaan Allah dengan segala sesuatu wajib diyakini sebagaimana juga cakupan ilmu, kuasa, dan pandangan-Nya atas segalanya. Kalau dipuji di hadapannya dengan sifat yang tak ada pada dirinya atau berasal dari dirinya, ia malu karena ia dipuji dengan sifat yang berasal dari Allah, bukan sifat yang ia lihat dari dirinya sebagaimana penjelasan pada kalimat sebelumnya. Bisa jadi ia memandang lawanan dari sifat terpuji itu, sebagiannya, atau memang sifat terpuji itu sendiri. Tetapi ia melihat bah wa Allah menjadikan sifat terpuji itu pada dirinya. Pahamilah ini dengan mengamati perilaku orang-orang beriman yang hakiki (insanul kamil). Janganlah kau jadi orang yang jahil,' (Lihat Syekh Burhanuddin Ibrahim Al-Aqshara'i As-Syadzili, Ihkamul Hikam fi Syarhil Hikam, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, cetakan pertama, 2008 M, halaman 100-101).

Menurut Syekh Zarruq, mereka yang malu atas pujian orang lain bukan sembarangan orang beriman. Mereka yang malu adalah Mukminul kamil, orang beriman yang sempurna. Makin dipuji, mereka semakin sempurna.

Sikap Insanul Kamil Hadapi Pujian Manusia Menurut Ibnu Athaillah
Sikap Insanul Kamil Hadapi Pujian Manusia Menurut Ibnu Athaillah

قلت: مراده المؤمن الكامل... قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: المؤمن إذا مدح ربا الإيمان الحديث. فالمدح لا يذم من حيث ذاته ولا يحمد من حيث ذاته، فلذلك قد يكون موصلا للكمال أو موصلا للنقص أو غير موصل لشيء منهما.

Artinya, 'Menurut saya, orang beriman yang dimaksud adalah Mukmin yang sempurna... Rasulullah SAW bersab da, 'Orang yang beriman ketika dipuji imannya akan tumbuh-kembang...' Dari substansinya, pujian itu sendiri tidak tercela dan tidak terpuji karenanya pujian itu dapat mengantarkan seseorang pada kesempurnaan, kekurangan, atau sesuatu selain keduanya,' (Lihat Syekh Ahmad Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 124).

Apakah senang tidak boleh ketika dipuji orang lain? Boleh saja. Kesenangan itu dapat menambahkan pahala di sisi Allah. Yang tidak boleh adalah tertipu saat dipuji oleh orang lain sehingga ia menganggap dirinya memang berhak atas pujian tersebut dengan melupakan Allah sebagai zat yang berhak sebagai disinggung Syekh Ibnu Ajibah berikut ini.

Sikap Insanul Kamil Hadapi Pujian Manusia Menurut Ibnu Athaillah
Sikap Insanul Kamil Hadapi Pujian Manusia Menurut Ibnu Athaillah

ولا يضرك مدحك بما تفعل ان لم تقصد التعرض للمدح ففي الحديث عنه صلى الله عليه وسلم أنه قال أتدرون من المؤمن قالوا الله ورسوله أعلم قال الذي لا يموت حتى يملأ مسامعه مما يحب ولو أن رجلا عمل بطاعة الله ف ي جوف بيت إلى سبعين بيتاً على كل بيت باب من حديد لألبسه الله رداء عمله حتى يتحدث الناس بذلك ويزيدون قيل يا رسول الله كيف يزيدون قال المؤمن يحب ما زاد في عمله الحديث وفي حديث آخر قيل يا رسول الله الرجل يعمل العمل خفية ثم يتحدث الناس به فيفرح فقال عليه السلام له الأجر مرتين أجر العمل وأجر الفرح فإن مدح بما ليس فيه واغتر بذلك فهو جاهل بربه

Artinya, 'Pujian atas suatu amalmu tidak masalah buatmu jika kamu tak meniatkannya untuk pujian. Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat, 'Tahukah kalian siapa orang beriman itu?' Mereka menjawab, 'Allah dan rasul-Nya lebih tahu.' '(Mereka) adalah orang yang belum meninggal sebelum ucapan yang mereka sukai (pujian) memenuhi telinga mereka. Seandainya salah seorang beramal untuk Allah di sebuah kamar yang berada di dalam rumah sampai 70 lapisan di mana setiap rumah terdiri dari satu pintu besi, niscaya Allah memakaikannya pakaian amal-Nya sampai orang-orang membicarakannya dan mereka bertambah.' 'Apa maksudnya mereka bertambah ya rasulullah?' 'Orang beriman itu menyukai suatu tambahan dalam amalnya...' lain riwayat Rasulullah bersabda, 'Ya rasulullah, seseorang beramal secara tersembunyi kepada Allah, lalu orang banyak membicarakannya, tetapi ia senang?' Rasulullah SAW menjawab, 'Ia menerima dua pahala, satu pahala amal, kedua pahala senang.' Tetapi ketika seseorang dipuji dengan sesuatu yang tidak ada padanya, lalu terpedaya dengan pujian itu, maka ia jahil terhadap perilaku Allah,' (Lihat Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam, Beirut, Darul Fikr, juz I, halaman 212).

Simpulannya, orang beriman bukan takut dipuji atau tidak boleh senang ketika dipuji. Orang beriman adalah mereka yang memandang Al lah saat orang lain memujinya karena Allah yang berhak menerima pujian itu. Semoga Allah menambah kebaikan kepada mereka. Wallahu a'lam. (Alhafiz K)

Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/82154/sikap-insanul-kamil-hadapi-pujian-manusia-menurut-ibnu-athaillah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...