Langsung ke konten utama

Pesan-pesan Kemanusiaan dari Arafah

Oleh KH Zakky Mubarak

Pada tanggal sembilan Dzulhijjah, umat Islam dari berbagai penjuru dunia yang melakukan ibadah haji berkumpul di Arafah. Di padang Arafah semua jamaah haji dari berbagai bangsa dan suku, dengan berbagai macam status sosial, para pemimpin dan rakyat jelata, semua menyatu dengan alam dalam naungan keagungan Ilahi. Dengan berpakaian sangat sederhana, tidak lagi terdapat perbedaan, semua sama, semua melepaskan atributnya masing-masing. Mereka menyatu sebagai hamba-hamba Allah yang asli alami, tidak berhias, tidak bermake-up, tidak membanggakan diri, mereka larut dalam alam yang amat bersahaja, larut dalam keagungan Maha Pencipta untuk memenuhi panggilan-Nya dengan ikhlas dan pasrah. Bagi umat Islam yang tidak melakukan ibadah haji, menyambut hari itu dengan puasa Arafah, puasa sunnah dalam rangka beribadah dan ikut prihatin terhadap saudara-saudaranya yang sedang melakukan wukuf di sana.

Lebih empat belas abad yang lalu, di padang Arafah yang tandus itu, yang kini ditumbuhi pohon-pohon menghijau, Rasul Muhammad s.a.w. menyampaikan pesan kemanusiaan dan perdamaian. Dalam pidato perpisahannya di sana, juga dalam rangka ibadah haji, yang disebut sebagai haji wada' atau haji perpisahan sebagai ibadah haji terakhir sebelum beliau wafat. Rasul yang menjadi rahmat bagi alam semesta itu menyampaikan pesan-pesan kemanusiaan yang amat mengharukan, berkesan mendalam sampai ke lubuk hati:

Pesan-pesan Kemanusiaan dari Arafah
Pesan-pesan Kemanusiaan dari Arafah

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، كُلُّكُمْ لِآدَمَ، وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ

"Wahai sekalian umat manusia, ketahuilah sesungguhnya Tuhanmu satu (esa). Nenek moyangmu juga satu, kamu semua berasal dari Adam. sedangkan Adam berasal dari tanah. (HR. Ahmad, 23536).

Dalam hadis yang lain, persamaan kemanusiaan dan haknya diperinci lebih lengkap:

Pesan-pesan Kemanusiaan dari Arafah
Pesan-pesan Kemanusiaan dari Arafah

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى

"Wahai sekalian umat manusia, ketahuilah sesungguhnya Tuhanmu satu (esa). Nenek moyangmu juga satu. Ketahuilah, tidak ada kelebihan bangsa Arab terhadap bangsa selain Arab (Ajam), dan tidak ada kelebihan bangsa lain (Ajam) terhadap bangsa Arab. Tidak ada kelebihan orang yang berkulit merah (puith) terhadap yang berkulit hitam, tidak ada kelebihan yang berkulit hitam dengan yang berkulit merah (putih), kecuali dengan taqwanya". (HR. Ahmad, 22978).

Pidato perpisahan yang amat singkat ini membuat para sahabat Nabi terharu, sehingga pakaian ihram mereka yang putih bersih itu bersimbah air mata. Hal itu menandakan bahwa pesan ini sangat berkesan dan sangat berpengaruh pada perilaku mereka. Misi perdamaian dan persamaan hak inilah yang kemudian dikembangkan dan diperjuangkan para sahabat Nabi. Dalam waktu yang singkat, kemudian mereka menjadi umat yang besar dan berwibawa yang senantiasa menegakkan kebenaran dan keadilan.

Konsepsi kemanusiaan dalam Islam begitu luhur, semua manusia memiliki hak dan kewajiban yang sama. Kita semua adalah bersaudara, tidak ada perbedaaan antara satu dengan lainnya, kecuali dengan iman dan amal perbuatannya atau dengan takwanya.

Pesan-pesan Kemanusiaan dari Arafah
Pesan-pesan Kemanusiaan dari Arafah

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا  إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ  إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

"Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakanmu dari seorang pria dan wanita, dan menjadikanmu berbagai bangsa dan suku agar saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantaramu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa, sesungguhnya Allah Maha Tahu lagi waspada" (QS. al-Hujarat,49: 13).

Pesan-pesan Kemanusiaan dari Arafah
Pesan-pesan Kemanusiaan dari Arafah

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ  وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu' (QS. al-Hujarat,49: 10).

Pesan-pesan Kemanusiaan dari Arafah
Pesan-pesan Kemanusiaan dari Arafah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ

'Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kelompok mencela kelompok yang lain, karena boleh jadi mereka yang dicela lebih baik dari mereka yang mencela...." (QS. al-Hujarat,49: 11).

Beberapa ayat tersebut jelas sekali mengarahkan umat manusia agar senantiasa menjalin persaudaraan terhadap sesamanya, saling berbuat baik, saling berpesan mengenai kebenaran, ketabahan dan kesabaran. Dalam beberapa wasiat Nabi s.a.w. banyak sekali dipesankan, agar umat manusia senantiasa menjalin ukhuwah atau persaudaraan dan senantiasa menjalin hubungan dengan Allah, hubungan dengan sesamanya dan hubungan dengan alam sekitarnya. Nabi bersabda:

Pesan-pesan Kemanusiaan dari Arafah
Pesan-pesan Kemanusiaan dari Arafah

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ؛ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

"Engkau dapati orang-orang yang beriman, dalam hal saling mengasihi, saling mencintai, dan beriba hati antara mereka bagaikan tubuh yang satu. Apabila salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka dirasakan sakit pula oleh seluruh tubuhnya sehingga sulit tidur dan demam". (HR. Bukhari, 6011, Muslim, 2586).

Pesan-pesan Kemanusiaan dari Arafah
Pesan-pesan Kemanusiaan dari Arafah

مَنْ لاَ يَرْحَمُ النّاسَ لاَ يَرْحَمْهُ اللهُ

"Barangsiapa yang tidak bersikap kasih terhadap sesamanya maka Allah tidak mengasihinya". (HR. Bukhari, 6013, Muslim, 2319).

Pesan Arafah yang mulia itu akan tetap abadi, yang dapat kita petik dari pesan itu kali ini, bagaimana kita dapat membangkitkan kembali semangat persaudaraan dan ukhuwah di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian, pesan itu benar-benar terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Peranan para dai dan tokoh masyarakat sangat penting dalam memasyarakatkan pesan kemanusiaan ini. Kita semua senantiasa berpegang kepada wasiat Nabi yang disampaikan kepada Muadz bin Jabal dan Abu Musa al-Asy'ari, ketika keduanya dilantik sebagai gubernur di Yaman bagian Barat dan Timur:

Pesan-pesan Kemanusiaan dari Arafah
Pesan-pesan Kemanusiaan dari Arafah

يَسِّرَا وَلَا تُعَسِّرَا ، وَبَشِّرَا وَلَا تُنَفِّرَا ، وَتَطَاوَعَا وَلَا تَخْتَلِفَا

"Permudahlah, jangan kamu persulit, gembirakanlah, jangan kamu takut-takuti, saling mentaatilah kamu berdua dan jangan bersilang sengketa". (HR Muslim, 1732).

Selamat melaksanakan wukuf di Arafah, semoga menjadi haji yang mabrur.

Pesan-pesan Kemanusiaan dari Arafah
Pesan-pesan Kemanusiaan dari Arafah

Penulis adalah Rais Syuriyah PBNU


Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/80859/pesan-pesan-kemanusiaan-dari-arafah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...