Langsung ke konten utama

Pentingnya Rasa Malu dan Rasa Bersalah

Rasa malu berkaitan erat dengan keberadaan orang lain. Rasa bersalah berkaitan erat dengan hati nurani atau iman dalam diri sendiri. Jika kita memiliki rasa  malu kepada orang lain tetapi tidak memiliki perasaan bersalah dalam diri sendiri, pastilah kita suka slintat-slintut alias berperilaku munafik.

Orang dengan tipe seperti itu tentu suka membangun image yang baik di depan orang lain karena malu dilihat jeleknya. Maksudnya bukan malu berbuat jelek, tetapi  merasa malu jika perbuatan jeleknya diketahui orang lain. Maka ketika tak ada orang lain, ia bisa berbuat apa saja tanpa perasaan malu karena ia berpikir tak ada orang lain yang melihat.

Perasaan bersalah juga tidak muncul dalam diri seseorang yang hati nuraninya tumpul karena tak pernah diasah. Atau imannya lemah karena tak pernah dipupuk. Hal ini bisa terjadi jika gagasan bahwa Allah Maha Melihat dan Mendengar hanyalah sebuah pengetahuan belaka yang tidak pernah diinternalisasikan dan  diaktualisasikan dalam diri seseorang.  

Sikap terbaik tentu saja adalah seseorang harus memiliki rasa malu terhadap orang lain sekaligus memiliki perasaan bersalah dalam diri sendiri dalam arti positif. Hal ini seperti yang terjadi pada diri Rasulullah SAW sehingga beliau sebagaimana dikisahkan dalam kitab Al-Barzanji disebut syadidal haya

.

Sebutan syadidal haya' secara harfiah kebahasaan berarti "sangat pemalu".  Secara konseptual psikologis sebutan itu berarti memiliki "rasa malu kepada orang lain sekaligus rasa bersalah  dalam diri sendiri"  karena kuatnya iman kepada Allah SWT. Dari perspektif tasawuf, Rasulullah SAW pastilah ma'rifah  billah sehingga selalu melihat Allah dimanapun berada. Jadi dalam hal  ini, syadidal haya'"  bisa berarti tidak saja memiliki rasa malu kepada manusia, tetapi terlebih kepada Allah SWT.

Dalam kaitan dengan teori psikologi, Joseph Burgo dalam artikelnya berjudul The Difference between Guilt and Shame yang ditayangkan dalam situs psychologytoday.com pada tahun 2013, memberikan penjelasan tentang ketidaksamaan antara rasa  malu (shame) dan rasa bersalah (guilt) sebagai berikut:

"Guilt involves the awareness of having done something wrong; it arises from our actions (even if it might be one that occurs in fantasy). Shame may result from the awareness of guilt but apparently is not the same thing as guilt. It's a painful feeling about how we appear to others (and to ourselves) and doesn't necessarily depend on our having done anything."

(Rasa bersalah menyertai kesadaran telah melakukan perbuatan salah; ia timbul dari tindakan-tindakan kita [bahkan bisa jadi kesalahan itu hanya dalam khayalan]. Perasaan malu mungkin muncul dari kesadaran akan perasaan bersalah tetapi  sebenarnya perasaan malu tidak sama dengan perasaaan bersalah. Rasa malu merupakan perasaan tidak nyaman tentang bagaimana kita dilihat orang lain (dan bagaimana kita dilihat oleh diri sendiri) dan hal itu tidak selalu bergantung telah melakukan sesuatu].

Dari penjelasan Joseph Burgo di atas jelaslah bahwa rasa bersalah bisa dibedakan dengan rasa malu dimana rasa malu terkait  dengan keberadaan orang lain termasuk keberadaan diri sendiri. Artinya rasa malu bisa tertuju pada orang lain, dan bisa pula sekaligus tertuju pada diri sendiri. Dalam konteks inipun, sebutan syadidal haya' menemukan relevansinya karena menunjukkan rasa malu tingkat tinggi. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Umar Rasulullah SAW bersabda:

Pentingnya Rasa Malu dan Rasa Bersalah
Pentingnya Rasa Malu dan Rasa Bersalah

فَإِنَّ الْـحَيَاءَ مِنَ الإيْمَـانِ

Artinya: "Sesungguhnya rasa malu merupakan bagian dari iman."

Dalam hadits lain yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda:

Pentingnya Rasa Malu dan Rasa Bersalah
Pentingnya Rasa Malu dan Rasa Bersalah

اَلْـحَيَاءُ وَ اْلإِيْمَانُ قُرِنَا جَمِـيْعًا ، فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ اْلاَ خَرُ.

Artinya: "Malu dan iman senantiasa bersama. Apabila salah satunya dicabut, maka hilanglah yang lainnya."

Hadits di atas menunjukkan bahwa rasa malu dan rasa bersalah yang bersumber dari iman saling berkaitan dan selalu ada secara bersama. Jika tidak, maka rusaklah kepribadian seseorang. Sebagai contoh adalah sebagaimana diuraikan di atas bahwa jika seseorang memiliki rasa malu kepada orang lain tetapi tidak memiliki perasaan bersalah dalam diri sendiri, pastilah ia  suka slintat-slintut. Ia bisa berbuat apa saja di belakang orang banyak tanpa perasaan malu karena ia berpikir tak ada orang lain yang melihat. Dalam hal ini ia mengingkari imannya bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar.

Melihat petingnya rasa malu dan rasa bersalah dalam perilaku seseorang, maka pendidikan karakter, baik di rumah maupun di  sekolah,  harus memperhatikan kedua hal di atas. Artinya, seorang anak harus selalu dididik untuk memiliki perasaan malu kepada orang lain – dalam arti positif - sehingga mampu mengurungkan niatnya untuk berbuat jelek. Itulah sebabnya anak-anak harus selalu dicegah ketika memilih telanjang atau tidak bersedia mengenakan pakaian di depan umum sebab ini merupakan pendidikan terkait rasa malu.  

Selain itu, ia juga harus dilatih memiliki perasaan bersalah – iman yang kuat -  di dalam dirinya sehingga ketika hendak berbuat kejelekan atau kemaskiatan mampu mengurungkannya meski tidak diketahui oleh siapapun karena meyakini bahwa Allah SWT senantiasa melihat dan mendengar apapun yang dilakukannya. Itulah sebabnya anak-anak dilatih berpuasa dengan tidak makan dan minum meski tak seorangpun melihatnya ketika nekat berbuka sebelum waktunya.  

Pentingnya Rasa Malu dan Rasa Bersalah
Pentingnya Rasa Malu dan Rasa Bersalah

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Univeristas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta


Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/79858/pentingnya-rasa-malu-dan-rasa-bersalah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...