Langsung ke konten utama

Penceramah yang Memaki Khalifah Al-Ma’mun

Penceramah yang Memaki Khalifah Al-Ma
Penceramah yang Memaki Khalifah Al-Ma'mun

Oleh KH Ahmad Ishomuddin


Sejak dahulu kala selalu ada saja orang yang melontarkan kritik pedas kepada orang yang sedang berkuasa dan membuat murka orang-orang di sekitarnya. Bayangkan, seorang manusia suci, Nabi Muhammad shalla Allahu 'alaihi wa sallama saat membagi ghanimah (harta rampasan perang) saja pernah dengan cara tidak santun diminta untuk bersikap adil oleh Abdullah bin Dzi al-Khuwaishirah. Sehingga membuat sahabat dan pengikut setia beliau, Sayyiduna Umar bin al-Khaththab naik darah dan meminta izin agar diperkenankan untuk memenggalnya. Tetapi beliau mencegah dan meredakan amarahnya.

Ada sebagian dari para penceramah agama di masjid-masjid atau di jalan-jalan raya atau di tempat lainnya di hadapan para pengagumnya-- tentu dengan niatnya masing-masing--seringkali juga secara vulgar, bahkan ada yang sangat tidak santun, menghardik, memaki-maki, melaknati dan meluapkan amarah hingga kalap plus kehilangan akal sehat saat menyampaikan kritiknya kepada pemerintah yang sedang berkuasa.

Lihatlah wajah-wajah beringas segerombolan orang yang berdemo berkumpul membakar-bakar ban bekas dan sebagainya, dan lalu api disertai asap gelap mengepul di sana sini. Dengarlah mereka yang berteriak-teriak histeris dan berulangkali memekikkan takbir membawa-bawa nama Tuhan demi menyuarakan berbagai tuntutan yang kadang tidak rasional.

Semua itu mereka lakukan tiada lain untuk menuntut sebanyak mungkin hak-hak mereka sebagai rakyat atau mungkin mereka sedang 'berjihad' melawan ketidakadilan pemerintah yang sedang berkuasa. Adapun kewajiban-kewajiban mereka sebagai rakyat terhadap pemerintah, seperti kewajiban untuk menaatinya dan lain-lain mereka lupakan. 

Di negeri manakah ada pemerintahan yang dengan sempurna mampu memenuhi keinginan seluruh rakyatnya?

Dahulu kala, pada era Khalifah al-Ma'mun bin Harun al-Rasyid (wafat tahun 833 M) dari Bani Abbasiyyah pada suatu hari ada seorang penceramah agama yang menyampaikan kritik sangat keras kepadanya. Ia memanggil al-Ma'mun,

يا ظالم يا فاجر !
'Hai zalim, wahai pendosa..!'

Al-Ma'mun bin Harun al-Rasyid adalah seorang yang mampu memahami dan bersikap santun, sehingga ia tidak mengganjar penceramah tersebut dengan hukuman. Sebaliknya ia berkata kepadanya,

يا هذا ارفق فإن الله بعث من هو خير منك إلى من هو شر مني وأمره بالرفق بعث موسى وهارون وهما خير منك إلى فرعون وهو شر مني
'Hai (engkau) ini bersikap lembutlah, sesungguhnya Allah telah mengutus sebelummu seorang utusan yang lebih baik darimu kepada orang yang ia lebih buruk dariku. Sedangkan Allah memerintahkannya untuk bersikap lemah lembut. Allah telah mengutus Nabi Musa dan Nabi Harun 'alaihima al-salam yang mereka berdua itu lebih baik darimu kepada Fir'aun yang dia lebih buruk dariku. Allah berfirman kepada Nabi Musa dan Nabi Harun 'alaihima al-salam,

إذهبا إلى فرعون إنه طغى فقولا له قولا لينا لعله يتذكر أو يخشى ( طه : ٤٣-٤٤ )

Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka, berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan dia ingat (keagungan Allah Ta'ala) atau (ia) takut.' ( Qs. Thaha: 43, 44 ).


Penulis, Rais Syuriyah PBNU 


Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/81766/penceramah-yang-memaki-khalifah-al-mamun-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...