Langsung ke konten utama

Pemimpin Yang Konsisten

Pemimpin Yang Konsisten
Pemimpin Yang Konsisten

Ketika memberikan sambutan pada Muktamar NU ke 29 di Cipasung 1994 Kiai Munasir mengatakan bahwa dirinya betul-betul orang yang tak tahu diri, sebab di usia yang ke 70 tahun  masih berambisi menjadi Ketua panitia Muktamar, yang semestinya itu bagian anak muda. Karena ambisi saya itu maka proses regenerasi tersumbat. Padahal sudah selayaknya orang setua saya ini mengundurkan diri dari jabatan apapun dan menyerahkan pada yang muda karena lebih enerjik  dan lebih berpengalaman, sementara saya ini sudah ketinggalan jaman.

Sambutan Ketua panitia itu mendapat sambutan gemuruh dari hadirin, sebab hadirin tahu bahwa Kiai Munasir sedang menyindir Presiden Soeharto yang hadir dalam Muktamar itu. Yang dengan kekuasaannya yang tak terbatas berusaha mengintervensi NU  dengan mendongkel kepemimpinan Abdurrahman Wahid, serta menawarkan tokoh yang dijadikan bonekanya. Tentu saja prakarsa itu ditentang keras oleh mayoritas NU, bukan karena Gus Durnya tetapi demi kemandiriannya sebagaimana diamanatkan oleh khittah.

<>

Pidato Kiai Munasir itu tampaknya merupakan kalanjutan upaya NU untuk menolak tunduk pada rezim otoriter yang  pada Muktamar sebelumnya  di Yogyakarta 1989, ketika Soeharto mulai hendak menundukkan organisasi ini ke dalam  korporasi orde baru. Tetapi dengan gagah Kiai Ahmad Shiddiq dalam khutbah iftitahnya mengatakan pada Soeharto yang ada di depannya bahwa NU bukan taksi yang bisa disewa kemana-mana, melainkan ibarat sebuah kereta api yang sudah jelas rutenya, dan memiliki rel yang tidak bisa dibelokkan menurut kemauan penumpangnya dan rel NU adalah khittah 1926 yang di dalamnya tertuang jelas akidah dan prinsip yang dipegangi.

Itulah bentuk kegigihan beberapa tokoh NU dalam mempertahankan independensinya, ketika ormas keagamaan lain telah tunduk pada kemauan rezim yang berkuasa bahkan menjadi aparat negara. Karena itu tidak aneh suara tegas juga muncul dari tokoh NU yang lain, dalam situasi krisis Mantan wakil Rais Aam NU KH Ali Yafie berani menasehati Soeharto bahwa untuk mengatasi krisis politik yang berkepanjangan sebaiknya  mengundurkan diri dari jabatan Presiden. Nasehat yang sangat berani itu akhirnya diikuti oleh Soeharto, sehingga rela melepaskan kekuasaan yang telah digenggam selama 32 tahun.

Kiai Munasir yang lahir pada 2 Maret 1919, memiliki keteguhan moral dan integritas pribadi yang tinggi, semuanya itu tidak dimiliki secara serta merta, melainkan ditempa melalui pengalaman panjang sejak masa kanak-kanak sudah menghadapi berbagai ketidakadilan. Tatkala masih remaja  telah menghadapi diskriminasi Belanda, yakni ketika telah lulus ujian masuk MULO, tetapi tidak diperkenankan masuk sekolah tersebut sebab ia bukan anak seorang priyayi atau bangsawan.

Melihat kenyataan yang diskriminatif itu ia oleh orang tuanya dikirim ke pesantren, sebuah pendidikan keagamaan yang memiliki komitmen kerakyatan. Dengan adanya pendidikan murah ini hampir seluruh rakyat mampu memperoleh pendidikan. Bahkal Munasir juga menjadi santri kelana, yang selalu pindah dari satu pesantren ke pesantren lain untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi.

Walaupun sudah jauh dari jangkauan kolonial, karena telah hidup di pesantren di pedalaman yang masih bebas, tetapi tangan-tangan penjajah masih menjamahnya. Suatu saat sedang menikmati pemandangan pantai utara Rembang, tiba-tiba ia ditempeleng segerombolan konvoi Belanda yang sedang lewat, dan kerumunan masa sore itu langsung bubar. Berbagai ketidak adilan itu menjadi renungan dan mencari solusi  bagaiman melenyapkannya, karena itu ia belajar keras  baik ilmu agama, politik termasuk ilmu kanuragan.

Tidak hanya rajin tetapi santri yang berperawakan kecil itu memang tergolong santri yang cerdas. Selain menguasasi disiplin keilmuan agama dan pengetahuan umum, juga menguasai bahasa Arab dan Belanda, yang merupakan kunci pengetahuan saat itu. Karena itu ketika nyantri di Tebuireng  ia direkrut oleh KH Wahid Hasyim  sebagai kader inti yang tergabung dalam Madrasah Nidzomiyah, beberapa santri terpilih yang masuk dalam kategori ini. Saat itulah Munasir berkenalan langsung dengan organisasi NU, yang kemudian diperjuangkan hingga akhir hayatnya dengan penuh ketegaran.

Berbeda dengan belajar di sekolah Belanda paling akan menjadi ambtenaar, tetapi masuk ke pesantren buat Munasir memperoleh multi faedah, pertama, jelas untuk mendalami berbagai disiplin keilmuan, kedua, sebagai tempat menempa moralitas dan kepribadian, dengan kiai sebagai teladannya, ketika sebagai sarana menjalin networking (jaringan) pergerakan. Sebab melalui pesantren itulah Munasir berkenalan dengan berbagai tokoh lain, yang kemudian menjadi mitra perjuangannya.

Berkecamuknya revolusi mendorong Munasir muda memasuki dinas ketentaraan. Pertama ia mengikuti latihan Hisbullah di Cibarusa, setelah itu kembali ke kampung halamannya Mojokerto membentuk kesatuan Hisbullah. Di daerah itu pula akhirnya ia diangkat sebagai komandan Batalion Condromowo yang lebih dikenal dengan Batalion Munasir. Dari situ karir militernya terus

Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/8094/pemimpin-yang-konsisten

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...