Langsung ke konten utama

Mi’raj Mendaki Tangga Berjumpa Abul Basyar

Mi
Mi'raj Mendaki Tangga Berjumpa Abul Basyar


Demikianlah selesai sudah perjalanan malam (isra') Rasulullah saw di Baitul Maqdis dengan segala macam kejadian yang sarat akan makna ubudiyah. Kemudian saatnya Rasulullah saw dimi'rajkan. Pada hakikatn ya perjalanan mi'raj bagi manusia biasa merupakan perjalanan ruhani yang tidak lagi menyertakan segala macam yang bersifat fisik. Tetapi khusus untuk Rasulullah saw beliau dapat melakukannya secara fisik.

Hal ini jelas sekali diterangkan oleh Ad- Dardir 'ala Qishshatil Mi'raj dengan kalimat:

الذى تعرج عليه ارواح بنى أدم- أى المؤمن عند خروجها من البدن حالة الموت تعرج عليه الى الجنة فهو لجسد النبى خاصة ولأرواج المؤمنين عامة

Karena itulah di tegaskan dalam kitab yang sama bahwa tugas Buraq adalah menghantarkan Rasulullah saw dari Makkah ke baitul Maqdis yang secara bahasa disebut dengan isra' yang artinya perjalanan malam. Adapun perjalanan mi'raj selanjutnya buraq tidak dapat mengikutinya. Karena hanya Rasulullah saw lah yang mempu melakukannya secara ruhani dan fisik sekaligu s.

Demikianlah kemudian Rasulullah saw mi'raj dengan mendaki semacam tangga emas yang indah yang didatangkan dari surga firdaus. Tangga inilah yang menjadi penghubung alam dunia dengan alam langit yang dihubungkan dengan pintu hafadhah. Pintu ini terbuat dari emas, tergembok oleh cahaya dan kuncinya adalah asma Allah al-A'dhzam.

Pintu ini dijaga oleh seorang Malaikat yang bernama Ismail, malaikat yang tidak pernah turun ke bumi kecuali hanya menjemput ruh Rasulullah saw ketika akan meninggalkan jasadnya kelak. Selaku penunjuk Jalan Jibri membukakan pintu seraya mengucap salam kepada malaikat Ismail, mereka saling bercakap tentang manusia yang dibawanya. Kemudian dibkukanlah pintu itu untuk keduanya seraya menyambut dengan perkataan yang halus 'Marhaban bih wa Ahlan hayahullahu min akhin, wamin khalifatin...'

Setelah pintu langit pertama terbuka maka masuklah Rasulullah saw ditemani Jibrril. Di sinilah beliau berjumpa dengan Nabi Adam as- Abu l Basyar ( bapak semua manusia). Penyambutan yang diberikan oleh Nabi Adam as. selayaknya sambutan seorang bapak terhadap anaknya. Diceritakan Nabi Adam as duduk di suatu tempat yang dari sana beliau nampak gembira ketika menoleh ke kanan dan nampak sedih bila melihat ke kiri. Karena disebelah kanannya adalah surga yang didiami anak-cucunya yang taat dan dikirinya tergambar neraka dengan berbagai siksaan yang berisikan anak-cucunya sesat.

Nabi adam as. adalah nabi pertama yang dijumpakan oleh Allah swt. dengan Rasulullah saw dalam mi'rajnya. Tentunya pertemuan ini dapat dibaca dan dimaknai dengan amat dalam. Bahwasannya dalam perjalanan hidup ini mausia harus menyadari posisinya sebagai ibnul basyar anak manusia yang berporses dari tiada menjadi ada. dan setelah ada kemudian hendak kemana? Pastilah haus menuruti Yang Maha Ada, karena ialah yang mengadakan manusia.

Dengan kemurahan-Nya, Allah swt telah mengadakan kita melalui proses pa njang dari mani yang hina, kemudian berupa segumpal darah lalu menjadi segumpal daging dan jadilah manusia. Andaikan tidak karena kemurahan-Nya bisa saja proses ini mandeg ataupun gagal ditengah jalan, dan kitapun tidak akan pernah ada.

Oleh karena itulah yakinlah bahwa manusia itu adalah makhluq yang dhaif yang lemah sekali. Andaikan tidak karena rahmat Allah swt tidak mungkin bisa menikmati kehidupan ini. Inilah salah satu makna yang terkandung dalam pertemuan Rasulullah saw dengan Nabi Adam sebagai Abul Basyar. Seolah Allah swt ingin mengingatkan kembali bahwa manusia adalah manusia yang ada dan hidup karena rahmat-Nya. Maka sadarlah dan kenali dirimu baik-baik. Sungguh kesadaran inilah yang akan membimbing kehidupan manusia menuju hidup yang benar. Karena itulah Rasulullah saw pernah bersabda:

من عرف نفسه فقد عرف ربه

Barang siapa mengen al dirinya, pasti ia dapat mengenal Tuhannya. (red. Ulil H)


Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/52265/mirsquoraj-mendaki-tangga-berjumpa-abul-basyar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...