Langsung ke konten utama

Mengenal Prof. K.H.R. Muhammad Adnan

Mengenal Prof. K.H.R. Muhammad Adnan
Mengenal Prof. K.H.R. Muhammad Adnan

Suatu waktu, saya tertarik dengan tulisan besar beraksara Jawa dan Arab. Tulisan tersebut ada di belakang Masjid Tegalsari Surakarta, di depan Sekolah Dasar Ta'mirul Islam, tempat saya mengajar penulis. 
<>
Di tembok masjid itu tertulis tahun berdirinya masjid, 1928, serta nama-nama sang pendiri. Dan diantara nama para pendiri tertulis nama Den Kaji Adnan atau Raden Haj.

Saya tertarik dengan tokoh yang memiliki nama lengkap Prof. K.H.R Muhammad Adnan tersebut, karena di depan namanya terdapat gelar keraton dan gelar akademik. Ini pasti bukan orang sembarangan, pada zamannya ia sudah mendapat gelar prestisius seperti itu. Lalu Siapakah dia, Prof. K.H.R. Muhammad Adnan?

Menurut Agus Himawan, salah satu pengajar di Pesantren Al-Muayyad, beliau merupakan salah satu tokoh pendiri Masjid Tegalsari tersebut ternyata merupakan merupakan pendiri PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri), kini UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. "Beliau merupakan rektor UIN Kalijaga yang pertama," Jelas Agus.

Muhammad Adnan menjabat sebagai rektor mulai tahun 1951 sampai pada tahun 1959, ia digantikan Prof. Dr. H. Muchtar Jahja. Prof. Adnan juga pernah menjadi penasehat Syuriah PBNU serta Dewan Pimpinan Umum PBNU pada tahun 1950.

Shauman, nama kecil Muhammad Adnan, lahir pada hari Kamis Kliwon tanggal 6 Ramadhan 1818 bertepatan dengan tanggal 16 Mei 1889, di dalam rumah pengulon (tempat kediaman Penghulu) di Kampung Kauman Surakarta. Orang tuanya adalah Kanjeng Raden Penghulu Tafsir Anom V (lima), seorang ulama bangsawan sebagai abdi dalem (pegawai) Keraton Surakarta. Tafsir Anom V memangku jabatan pengulu (qadli) ketika Sri Susuhunan Paku Buwana IX (1861-1893) berkuasa.

Tafsir Anom V adalah keturunan Tafsir Anom IV, yang menjabat penghulu semasa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwana (PB) VII-IX. Kalau dirunut silsilahnya maka akan sampai pada Sultan Syah Alam Akbar III (R. Trenggono), sultan Demak terakhir. Adapun saudara Muhammad Adnan berjumlah 9 orang, diantaranya adalah Sahlan yang kemudian meneruskan ayahnya menjadi penghulu bergelar Tafsir Anom VI.

Riwayat pendidikan
Adnan kecil dibesarkan dalam suasana keluarga yang sangat erat kaitannya dengan adat Jawa dan bangsawan. Pendidikannya dimulai dari ayahnya sendiri dan terkadang juga didatangkan guru dari luar untuk mengajarkan baca tulis kepadanya. Dari Tafsir Anom V pula, Adnan mulai belajar ilmu agama Islam.

Tetapi kemudian Adnan berkesempatan juga memperoleh pendidikan formal di Sekolah Rakyat, dan sesudah berdiri Madrasah Manba'ul Ulum, diapun belajar disana sampai selesai. 

Selain di Madrasah Manbaul Ulum, pada usia 13 tahun Muhammad Adnan juga belajar dan memperdalam ilmu agama Islam di berbagai pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Antara lain, Pesantren Mojosari Nganjuk pada Kiai Zaenuddin, pesantren Mangunsari yang diasuh Kiai Imam Bukhari, Pesanten Termas Pacitan asuhan Kiai Dimyati Abdullah, lalu kembali ke Surakarta berguru kepada Kiai Idris di Pondok Jamsaren.

Pada tahun 1908, ayahnya berkeinginan agar putra-putrinya ada yang memperdalam ilmu agama Islam di Makkah. Pilihan ayahnya jatuh pada tiga putranya yakni: Muhammad Adnan, Sahlan, dan Ishom. Muhammad Adnan yang pada saat itu masih berusia 17 tahun bersama kedua saudaranya belajar di Madrasah Darul Ulum dan berguru kepada beberapa ulama, diantaranya Kiai Mahfudz at-Tirmisi, Kiai Idris, Syaikh Syatho dan Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabaui.

Aktif dalam pendidikan
Darah perjuangan Tafsir Anom V yang mengalir pada dirinya, serta didukung pendidikannya baik di bidang umum maupun agama, menjadikannya sebagai seorang pejuang untuk nusa, bangsa dan agama. Sepulang dari Tanah Suci tahun 1916, Muhammad Adnan yang telah menikah dengan Siti Maimunah, berjuang bersama mertuanya KH Shafawi. Bidang yang digelutinya ialah bidang keguruan dan pendidikan. Bersama mertuanya ini pula beliau mendirikan Masjid Tegalsari Surakarta. Beliau juga menjadi salah satu tokoh perintis Pondok Pesantren Al-Muayyad Solo.

Sebagai pendidik Muhammad Adnan pernah diangkat menjadi guru pada sekolah Madrasah Islamiyah di Pasar Kliwon (1916-1923), yang kemudian menjadi Holland Arabische School. Ia juga menjadi Mahaguru pada "Kenkoku Gakuin" (Persiapan Sekolah Tinggi Hukum) zaman pendudukan Jepang. 

Pada tahun 1948 Kementrian Agama RI, Muhammad Adnan diserahi membentuk SGHI (Sekolah Guru Hakim Islam) di Surakarta, yang kemudian pindah ke Yogyakarta dan berganti nama SGHA (Sekolah Guru Hakim Agama), kemudian menjadi PHIN (Pendidikan Hakim Islam Negeri) dan beliau sebagai ketuanya.

Muhammad Adnan juga pernah memimpin Madrasah Manba'ul Ulum Surakarta, setelah beliau kembali belajar dari Makkah. Pada tahun 1951 Muhmmad Adnan mempelopori berdirinya "Al Djami'atul Islamiyah" Perguruan Tinggi Islam Indonesia (PTII) di Surakarta bersama KH. Imam Ghozali dan KH. As'at. Selanjutnya PTII Solo ini digabung dengan UII Yoyakarta dan dikenal kemudian dengan nama UII cabang Solo.

Pada tahun ini pula beliau diangkat sebagai Dewan Kurator/Pengawas serta diangkat sebagai Guru Besar tidak tetap pada Fakultas Hukum PTII. Tahun 1950 ketika Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) diresmikan diberi kepercayaan menjadi ketuanya sampai perguruan tinggi itu menjadi IAIN (1960), selain itu beliau juga diangkat menjadi guru besar dalam bidang fiqh beliau juga menjadi dosen luar biasa di UGM Yogyakarta.

Perjuangan dan karya
Sejak masa pemerintahan Hindia Belanda, pemerintahan Jepang sampai masa pemerintahan Republik Indonesia, Muhammad Adnan mempunyai tugas sebagai hakim agama dalam lingkungan peradilan agama Islam. Untuk memperjuangkan hak-hak pengadilan Agama, Muhammad Adnan pada tahun 1937 mendirikan organisasi kepenguluan yang diberi nama Perhimpunan Pengoeloe dan Pegawainya (PPDP) yang ruang lingkupnya meliputi wilayah Jawa dan Madura. 

Empat tahun kemudian, ia diangkat menjadi ketua Mahkamah Islam Tinggi di Jakarta. Ia juga pernah menjadi anggota DPA RI pada tahun 1947.

Pernah pada tahun 1945, Menteri Agama saat itu, Kiai H. Masykur pergi ke Surakarta untuk menemui Muhammad Adnan dan Syamsi. Dalam usaha mengirimkan misi haji Republik Indonesia yang pertama ke tanah suci Makkah pada musim haji 1948. 

Pemerintah RI mengutus Muhammad Adnan menjadi Ketua Misi Haji dan Misi Diplomasi pertama ke Saudi Arabia bersama KH. Sholeh Saudi, H. Syamsir dan KH Ismail Banda untuk mengadakan kontak dengan Raja Ibnu Saud dan pemimpin-pemimpin negara Islam yang sedang menjalankan ibadah haji, untuk merundingkan mendapat pengakuan Negara RI dan mengatur perjalanan haji yang pertama setelah Perang Dunia II.

Muhammad Adnan juga aktif menulis, baik dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Jawa, diantara karangannya adalah Tafsir Al-Qur'an Suci Basa Jawi, kitab Hidayatul Islam, buku Tuntunan Iman dan Islam, buku Peringatan Hari-Hari Besar Islam, buku Khutbah Jum'at Basa Jawa, buku Mutiara Hikmah

Pada tengah malam dini hari, Selasa Pon 24 Juni 1969, pukul 03.30 Prof. K.H.R. Muhammad Adnan dipanggil Sang Khaliq pada usia 80 tahun. Jenazahnya dimakamkan hari itu juga di makam Pajang Laweyan Surakarta, setelah disalatkan di Masjid Syuhada Yogyakarta dan Masjid Tegalsari Surakarta, masjid yang menjadi saksi perjuangan beliau. Sampai sekarang, masjid ini masih menjadi salah satu basis perjuangan dan pergerakan Islam di Surakarta. (Ajie Najmuddin)

Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/42224/mengenal-prof-khr-muhammad-adnan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...