Langsung ke konten utama

Mencari Berkah dari Jubah Rasulullah

Mencari Berkah dari Jubah Rasulullah
Mencari Berkah dari Jubah Rasulullah

Pakaian merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Dari sisi fungsi, pakaian digunakan untuk menghangatkan badan ketika cuaca dingin dan menutupi tubuh dari terik matahari. Dalam agama, pakaian digunakan untuk menutup aurat. Pakaian juga berfungsi sebagai penunjuk identitas kelompok.

Ada sebuah kisah menarik soal pakaian. Kisah tersebut terjadi pada masa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Suatu ketika datang seorang perempuan kepada Rasulullah membawa jubah. "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku menenun (jubah) ini dengan tanganku sendiri supaya aku dapat memakaikannya padamu," kata wanita itu sambil menunjukkan barang yang ada di tangannya. Kemudian Rasulullah SAW mengambilnya, karena beliau butuh jubah tersebut. Setelah itu Rasulullah keluar dengan memakai jubah serta memperlihatkan tenunan wanita tadi kepada para sahabatnya.

Kemudian datanglah seorang laki-laki seraya berkata, "Sungguh indah jubahmu itu wahai Rasul! Bolehkah kau memakaikannya padaku." Beliau kemudian masuk dan melipatnya, lalu memberikannya kepada laki-laki yang beruntung tersebut.

Orang-orang lalu berkata kepada pemuda itu, "Demi Allah, sungguh beruntung kamu, (padahal) Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memakainya karena butuh jubah itu, kemudian kamu memintanya. Kamu sebenarnya sangat tahu bahwa beliau tidak pernah bisa menolak orang yang meminta."

Pemuda itu berkata, "Demi Allah, sesungguhnya aku tidaklah meminta jubah itu untuk aku pakai, tetapi aku minta itu untuk aku pakai sebagai kain kafanku." Maka jubah itu pun menjadi kain kafan lelaki tersebut ketika ia meninggal dunia.

Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah di atas adalah kesesuaian perilaku Rasul dengan Al-Qur'an. Seperti yang telah difirmankan Allah dalam kitab-Nya "Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya." Di sini kita bisa mengatakan bahwa Rasulullah adalah Al-Qur'an berjalan. Beliau mempraktikkan Al-Qur'an yang telah menjadi wahyu sekaligus petunjuk bagi diri serta umatnya. Dari sini, maka sangat layak bila Allah menyebut beliau sebagai uswah hasanah (teladan yang baik dalam menjalankan agama).

Pelajaran berikutnya, bahwa sang sahabat mengajarkan cara tabarruk (mencari berkah). Yaitu dengan meminta jubah yang pernah dikenakan Nabi. Inilah yang disebut oleh para ulama dengan tabarruk bi adz-dzat (mencari berkah dari benda yang digunakan Nabi). Segala yang pernah melekat pada diri Nabi selalu menjadi rebutan di antara sahabat. Termasuk sehelai rambut beliau. Betapa para sahabat mencintai Rasulnya. Subhanallah.

M. Khalimi, alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. [Sindikasi Media]

Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/67783/mencari-berkah-dari-jubah-rasulullah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...