Langsung ke konten utama

Mbah Ngis dan Tanda-tanda Kehebatan Menurut Imam Syafi’i

Guratan wajah atau air muka merupakan ekspresi seseorang paling jujur, kecuali jika ia memang sedang berpura-pura seperti karena tuntutan peran dalam sebuah pertunjukan drama,  atau memang ada maksud tertentu bersifat spiritual. Ekspresi seseorang yang paling dapat dipercaya sebenarnya adalah pada saat sendirian, atau pada saat sedang tidur. Pada diri Mbah Ngismatun Sakdullah Solo (wafat 1994)—biasa dipanggil Mbah Ngis—ekspresi wajah yang benar-benar  mencerminkan suasana batinnya adalah pada saat sendirian.

Mbah Ngis ketika sedang sendirian guratan wajahnya sangat tampak. Kehidupan yang dijalaninya  memang berat sehingga wajahnya kadang menampakkan keseriusan yang mendalam. Maklum, Mbah Ngis memiliki 13 anak dengan ekonomi lemah. Tapi wajah serius itu hanya tampak ketika Mbah Ngis yakin tak ada orang lain di sekitarnya. Begitu disadarinya ada kehadiran orang lain dengan serta merta Mbah Ngis menampakkan wajah  "sumringah" dengan senyum merekah.  

Imam Syafi'I dalam kitab Manaqib Imam Syafi'i, karya Al-Baihaqi (2/188), menyatakan bahwa ada tiga tanda  yang menunjukkan bahwa seseorang adalah sosok yang hebat. Tanda pertama adalah kemampuannya menyembunyikan kefakiran, sehingga orang lain mengira orang itu berkecukupan karena tidak pernah meminta. Imam Syafi'i menyatakan:

Mbah Ngis dan Tanda-tanda Kehebatan Menurut Imam Syafi
Mbah Ngis dan Tanda-tanda Kehebatan Menurut Imam Syafi'i

كتمان الفقر حتى يظن الناس من عفتك أنك غني

Artinya:"Kemampuan menyembunyikan kemelaratan, sehingga orang lain menyangkamu berkecukupan karena kamu tidak pernah meminta."

Kemampuan tersebut dimiliki Mbah Ngis dengan baik. Hal ini tampak dari sikap Mbah Ngis yang tidak suka meminta kepada siapa-siapa meski Mbah Ngis bukan orang berpunya.  Mbah Ngis hanyalah seorang pedagang kecil sekecil modal yang dimilikinya; pun sekecil warung tempat Mbah Ngis berjualan. Justru yang menonjol dari Mbah Ngis adalah hal yang sebaliknya, yakni bersedekah terutama kepada orang-orang lemah yang membutuhkan.  

Setiap kali dalam kesulitan keuangan, Mbah Ngis tidak pernah meminta-minta kepada siapa pun. Dalam keadaan mendesak, Mbah Ngis meminjam uang kepada pihak-pihak tertentu yang mampu meminjami seperti  bendahara arisan di mana Mbah Ngis bergabung sebagai anggota, atau kepada saudara dekat yang berpunya. Kepada anak-anak Mbak Ngis yang sudah bekerja, Mbah Ngis juga tidak pernah meminta uang, tetapi meminjam secukupnya dan selalu berusaha mengembalikannya.     

Tanda kedua adalah kemampuannya menyembunyikan kesusahannya sehingga orang lain mengira ia selalu senang. Imam Syafi'i menyatakan:

Mbah Ngis dan Tanda-tanda Kehebatan Menurut Imam Syafi
Mbah Ngis dan Tanda-tanda Kehebatan Menurut Imam Syafi'i

وكتمان الشدة حتى يظن الناس أنك متنعم

Artinya: "Kemampuan menyembunyikan kesusahan, sehingga orang lain mengiramu selalu senang."

Kemampuan seperti itu juga dimiliki Mbah Ngis. Banyak orang mengenal Mbah Ngis sebagai perempuan yang ramah dan ceria. Mbah Ngis memang tidak suka memperlihatkan kesedihan kepada sesama manusia, tetapi lebih suka mengadukan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya kepada Allah SWT.  Mbah Ngis dapat bermunajat atau berkeluh kesah kepada Sang Pencipta kapan saja menginginkannya terutama ketika di sekitarnya tak ada seorangpun.

Kepada sesama manusia Mbah Ngis lebih suka berbagi kebahagiaan sehingga suka bersenyum dan bersedekah seperti kepada para santri dengan apa yang telah ada di tangannya seperti tahu, tempe, atau bakwan dan uang seadanya untuk para pengemis yang memintanya. Mbah Ngis memang orang kecil sekecil peranannya di komunitas pesantren dimana Mbah Ngis tinggal. Mbah Ngis tidak pernah berpikir kaya dulu baru kemudian berderma.

Tanda ketiga adalah kemampuannya menyembunyikan amarah, sehingga orang lain mengira ia ridha. Imam Syafi'i menyatakan:

Mbah Ngis dan Tanda-tanda Kehebatan Menurut Imam Syafi
Mbah Ngis dan Tanda-tanda Kehebatan Menurut Imam Syafi'i

وكتمان الغضب حتى يظن الناس أنك راض

Artinya:"Kemampuan menyembunyikan amarah, sehingga orang mengiramu merasa ridha

Kemampuan ketiga tersebut juga dimiliki Mbah Ngis dengan baik. Mbah Ngis dikenal sebagai wanita yang sangat sabar dan jarang marah. Mbah Ngis pernah dilabrak seorang perempuan yang datang ke rumah Mbah Ngis dengan marah-marah, padahal Mbah Ngis tidak bersalah. Mbah Ngis tidak membalas kemarahan itu. Malah sebaliknya Mbah Ngis menasihatinya baik-baik.

Selain itu, Mbah Ngis selalu dapat menahan kemarahannya setiap kali melihat ada orang  mengambil barang  dagangannya tanpa bayar. Mbah Ngis hanya berusaha mengingat orang itu. Sewaktu-waktu ketika sepi tak ada orang lain Mbah Ngis dapat menasehatinya agar tidak lagi mengulang perbuatannya. Dipilihnya saat sepi karena Mbah Ngis tidak ingin mempermalukan anak atau orang tersebut di hadapan orang banyak.

Begitulah Mbah Ngis yang mampu menyembunyikan tiga hal yang meliputi kefakiran, kesusahan dan kemarahan. Dengan kemampuan seperti itu Mbah Ngis dikenang oleh saduara-saudara dan teman-temannya sebagai perempuan bukan biasa. Imam Syafi'i mengakui siapapun yang memiliki ketiga kemampuan diatas adalah orang-orang hebat. Dan tentu saja  pantas  diteladani.

Mbah Ngis dan Tanda-tanda Kehebatan Menurut Imam Syafi
Mbah Ngis dan Tanda-tanda Kehebatan Menurut Imam Syafi'i

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Univeristas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta


Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/80718/mbah-ngis-dan-tanda-tanda-kehebatan-menurut-imam-syafii

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...