Langsung ke konten utama

Masih Mendapat Kiriman Uang meski Telah Lama Wafat

Meski Mbah Ngismatun Sakdullah Solo—biasa dipanggil Mbah Ngis—wafat lebih dari 23 tahun lalu, beliau masih diingat oleh beberapa santri yang dulu menjadi pelanggan warungnya. Hal ini tidak lepas dari cara bagaimana Mbah Ngis dahulu semasa hidupnya berinteraksi dengan mereka. Tidak jarang Mbah Ngis bertindak sangat bijak terhadap anak-anak yang berlaku tidak jujur, yakni mengambil dagangannya tanpa bayar. 

Masih Mendapat Kiriman Uang meski Telah Lama Wafat
Masih Mendapat Kiriman Uang meski Telah Lama Wafat

Terhadap anak-anak yang berbuat seperti itu, Mbah Ngis seringkali berpura-pura tidak tahu tetapi tetap berusaha mengingatnya agar sewaktu-waktu ketika sepi dan tidak orang lain, Mbah Ngis dapat menasihatinya dengan baik. Perlakuan seperti ini cukup efektif untuk menyadarkan mereka dari perilakunya yang salah dan cukup membuat jera. Juga tidak jarang membuat mereka merasa dihargai dan ditutup aibnya. Di kemudian hari ketika mereka telah menjadi orangtua, mereka masih ingat Mbah Ngis sekaligus teringat dahulu pernah merugikannya. 

Selama beberapa tahun terakhir ini, Mbah Ngis beberapa kali mendapat kiriman uang dari mereka yang mengaku secara terus terang bahwa dahulu pernah mengambil jajanan di warungnya tanpa bayar. Dua tahun lalu Mbah Ngis dikirimi uang tunai via kurir dengan jumlah cukup besar. Setahun berikutnya sepucuk surat dan wesel dikirim via Pos Indonesia kepada Mbah Ngis atas nama beliau sendiri dengan alamat pondok. 

Dari para pengirim, ada yang mengira Mbah Ngis belum wafat; ada pula yang meragukan atau tidak yakin bahwa Mbah Ngis masih hidup. Oleh karena itu di akhir surat, beberapa pengirim menulis pesan kalau Mbah Ngis sudah meninggal dunia, maka uang itu untuk keluarganya. 

Setiap uang yang dikirim kepada Mbah Ngis, baik via kurir maupun wesel, disertai pesan bahwa mereka meminta maaf atas kesalahan-kesalahannya terutama karena telah mengambil jajanan tanpa bayar ketika dahulu masih nyantri di pondok. Mereka mengakui jumlah uang yang mereka kirim jauh lebih besar daripada yang mereka ambil dari warung Mbah Ngis karena kiriman uang itu sekaligus sebagai syukuran sekaligus tahadduts bin ni'mah bahwa kini mereka telah cukup sukses dalam hidupnya dengan pekerjaan masing-masing. 

Dengan adanya kiriman-kiriman uang yang ditujukan kepada Mbah Ngis pribadi, anak-anak Mbah Ngis merasakan beliau seolah-olah masih hidup karena masih diberi rejeki oleh Allah SWT dan menafkahi keluarganya yang telah lama beliau tinggalkan sejak tahun 1994. Mbah Ngis wafat karena kanker rahim 13 tahun setelah melahirkan anak ke-13. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Rasulullah SAW bersabda: 

Masih Mendapat Kiriman Uang meski Telah Lama Wafat
Masih Mendapat Kiriman Uang meski Telah Lama Wafat


مَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ فِي الدُّنْيَا سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Artinya: "Barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akherat. Sesungguhnya Allah senantiasa menolong seorang hamba selama ia menolong saudaranya." (HR. Tirmidzi)

Masih Mendapat Kiriman Uang meski Telah Lama Wafat
Masih Mendapat Kiriman Uang meski Telah Lama Wafat

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/81534/masih-mendapat-kiriman-uang-meski-telah-lama-wafat

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...