Langsung ke konten utama

Manakah Lebih Utama, Menjadi Orang Kaya atau Orang Miskin?

Banyak orang berdoa agar Allah SWT memberinya rezeki yang luas sehingga memiliki banyak harta alias menjadi orang kaya; sementara Nabi Muhammad SAW sendiri berdoa agar dihidupkan dan diwafatkan dalam keadaan miskin. Kedua hal yang bertolak belakang ini kadang menimbulkan kebingungan di sebagian kalangan umat Islam sehingga memunculkan pertanyaan sebagaimana judul di atas.

Manakah Lebih Utama, Menjadi Orang Kaya atau Orang Miskin?
Manakah Lebih Utama, Menjadi Orang Kaya atau Orang Miskin?

Doa memohon keluasan rezeki memang ada contohnya, antara lain sebagai berikut:

Manakah Lebih Utama, Menjadi Orang Kaya atau Orang Miskin?
Manakah Lebih Utama, Menjadi Orang Kaya atau Orang Miskin?

اللّهُمَّ إنِّي أَسألُكَ أَنْ تَرْزُقَنِي رِزْقًا حَلَالًا وَاسِعًا طَيِّبًا مِنْ غَيْرِ تَعَبٍ وَلَا مِشْقَةٍ وَلَا ضَيْرٍ وَلَانِصْبٍ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ

Artinya: 'Ya Allah, aku memohon kepada-Mu rezeki yang halal, luas, dan baik tanpa susah payah, tanpa kesulitan, tanpa kerusakan, dan tanpa penderitaan. Seungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.'

Sedangkan doa Rasulullah SAW yang mengharapkan kemiskinan adalah sebagai berikut:

Manakah Lebih Utama, Menjadi Orang Kaya atau Orang Miskin?
Manakah Lebih Utama, Menjadi Orang Kaya atau Orang Miskin?

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِيناً وَأَمِتْنِي مِسْكِيناً وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِيْن

Artinya: 'Ya Allah, hidupkanlah dan matikanlah aku sebagai orang miskin dan kumpulkanlah aku bersama orang-orang miskin.'(HR: At-Tirmidzi)

Pertanyaan sebagaimana judul di atas dapat ditemukan jawabannya dalam kitab An-Nafais Al-Uluwiyah fi Masailis Shufiyyah, karya Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad, bab Anit Tafdhil bainal Faqri wal Ghina, halaman 66, sebagai berikut:

Manakah Lebih Utama, Menjadi Orang Kaya atau Orang Miskin?
Manakah Lebih Utama, Menjadi Orang Kaya atau Orang Miskin?

بسم الله الرحمان الرحيم الحمد لله الذي جعل الفقر زينة لعباده الصالحين و حلية لخاصته المفلحين، وذالك اذا قارنه منهم الرضا والتسليم، والشكر والصبر على ما ابتلاهم به العزيزالعليم
Artinya: 'Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kemiskinan sebagai hiasan bagi hamba-Nya yang saleh dan mengkhusukannya bagi hamba-Nya yang beruntung, dengan syarat bahwa ujian kefakiran dari Allah Yang Maha Mulia dan Mengetahui diterimanya dengan ridha, tawakal, syukur dan sabar.'

Jadi menurut ulama pembaharu asal Hadhramaut abad 11 H tersebut, kefakiran sesugguhnya bukan merupakan kehinaan, apalagi adzab atau laknat dari Allah SWT, tetapi justru suatu hiasan yang indah bagi hamba-Nya yang saleh. Bahkan juga menjadi tanda keburuntungannya dengan catatan ia dapat menerima kefakiran itu dengan ridha, tawakal, syukur dan sabar.

Namun, jika seseorang tidak ridha menerima kefakirannya, bahkan banyak melakukan protes, maka kefakirannya akan menjadi musibah besar baginya dengan mendapatkan siksa dari Allah SWT. Hal ini seperti dijelaskan lebih lanjut dalam kitab tersebut (halaman 66-67) sebagai berikut:

Manakah Lebih Utama, Menjadi Orang Kaya atau Orang Miskin?
Manakah Lebih Utama, Menjadi Orang Kaya atau Orang Miskin?

فاما اذا قارنه الجزع والضجر والاعتراض على القضاء والقدر فهو من البلاء العظيم, المؤدي الى العذاب المقيم, فالمدح الواقع على الفقر كتابا و سنة, المراد به الفقر المقرون بالصبر والرضا وحسن الادب مع الله تعالىArtinya: 'Akan tetapi jika kefakiran itu diterima dengan gelisah, sedih, dan tidak ridha terhadap qadha dan qadar Allah SWT, maka kefakirannya aka n beralih menjadi bencana yang dapat menyeretnya kepada siksa Allah SWT. Sedangkan menurut Al-Qur'an dan Sunnah, orang fakir yang terpuji adalah yang dapat menerimanya dengan sabar, ridha, dan adab yang baik kepada Alllah SWT.

Jadi bagi orang miskin yang tidak ridha terhadap ketetapan dan takdir Allah SWT, maka kefakirannya akan menjauhkan orang tersebut dari Allah SWT karena tidak bisa bersikap sabar atas ujian dari-Nya dan mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Dalam hal seperti ini, menjadi orang miskin bukan sebuah keutamaan baginya sehingga ia harus berjuang melawan kefakirannya agar menjadi orang mampu yang bersyukur.

Kesimpulannya adalah menjadi orang miskin bisa lebih utama daripada menjadi orang kaya dengan syarat kemiskinannya mampu mendorongnya mendekatkan diri kepada Allah dengan jalan kesabaran, keridhaan, tawakal, dan selalu bersyukur kepada Allah SWT. Jika syarat tersebut tidak terpenuhi, maka menjadi orang kaya akan lebih utama dengan syarat kekayaannya mampu mendorongnya mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan jalan syukur dan ketakwaan kepada-Nya. Jadi masalahnya adalah tergantung pada mana yang lebih efektif mendorong mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Manakah Lebih Utama, Menjadi Orang Kaya atau Orang Miskin?
Manakah Lebih Utama, Menj adi Orang Kaya atau Orang Miskin?

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/82255/manakah-lebih-utama-menjadi-orang-kaya-atau-orang-miskin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...