Langsung ke konten utama

Lima Pemberhentian Bersejarah

Lima Pemberhentian Bersejarah
Lima Pemberhentian Bersejarah


Di tengah perjalanan Rasulullah saw dari Makkah menuju Baitul Maqdis, tiba-tiba jibril mengintruksikan kepada buraq untuk berhenti di suatu tempat dan mempersilahkan Rasulullah saw turun untuk bersembahyang. Setelah itu Jibril mener angkan bahwa tempat ini nantinya akan menjadi tujuan hijrah-mu, inilah kota yang akan dikenal dengan sebuatan Madinah. Nabipun tidak terlalu banyak bertanya. Jibril selaku penunjuk jalan mengisyaratkan bahwa perjalanan akan segera dilanjutkan, dan rasulullah saw dipersilahkan untuk naik kembali ke tempat semual.

Beberapa saat kemudian, jibril kembali memberhentikan perjalanan. Dia menunjukkan bahwa tempat inilah yang disebut dengan kota madian. Kota bersejarah bagi nabi Musa a.s. Kembali Jibril menganjurkan Rasulullah saw untuk melakukan sembahyang di tempat tersebut. Setelah itu perjalanan kembali dilanjutkan.

Setelah sampai di sebuah gunung buraqpun kembali berhenti dan Jibri menerangkan bahwa gunung ini adalah satu-satunya gunung yang terpilih sebagai tempat dimana Allah berbicara langsung dengan nabi Musa as. Maka segeralah Nabi Muhammad saw mendirikan shalat di sana.

Pemberhentian keempat kalinya terjadi di Betlehem (baitullahmi) tempat kelahiran Nabi Isa as. Seperti ketiga tempat lainnya Rasulullah saw pun dianjurkan Jibril untuk bersembahyang di sana. Tidak diterangkan dengan lengkap berapa raka'at Rasulullah saw mendirikan shalat dalam keempat pemberhentian tersebut. Tetapi momentum ini menunjukkan kepada umatnya betapa pentingnya napaktilas dan berziarah ke tempet-tempat bersejarah. Karena sejarah mengandung satu pelajaran yang tidak bisa diajarkan oleh yang lain.

Dan terakhir Rasulullah saw berhenti di Baitul Maqdis, di sana Rasulullah saw melaksanakan jama'ah bersama para nabi, para rasul dan juga para malaikat. Mengenai proses jama'ah ini akan diterangkan dalam tulisan lanjutan. (red. Ulil H)


Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/51910/lima-pemberhentian-bersejarah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...