Langsung ke konten utama

Lihatlah ke Bawah, Engkau Akan Dinaikkan

Ketika engkau berkunjung ke orang-orang di atasmu, mungkin engkau sangat terpesona oleh kemewahan rumahnya. Secara spontan mungkin engkau berucap, "Andaikan rumahku seperti ini!"

Ketika engkau berucap seperti itu–meski hanya dalam hati–Allah SWT pasti mendengarnya, dan itu bisa berarti engkau meremehkan nikmat-Nya yang telah diberikan kepadamu berupa rumah yang selama ini engkau tinggali bersama keluarga.

Rasulullah SAW pernah bersabda.

Lihatlah ke Bawah, Engkau Akan Dinaikkan
Lihatlah ke Bawah, Engkau Akan Dinaikkan

اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ.

Artinya, 'Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian itu lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu,' (HR Bukhari dan Muslim).

Oleh sebab itu jangan abaikan untuk berkunjung ke orang-orang di bawah sebagaimana Rasulullah SAW sering melakukan, karena yang demikian itu akan mendorongmu untuk selalu mensyukuri keadaan. Ketahuilah dengan syukur seperti itu Allah SWT akan menambahkan nikmat-Nya kepadamu. Itu artinya derajatmu akan dinaikkan.

Allah SWT berfirman.

Lihatlah ke Bawah, Engkau Akan Dinaikkan
Lihatlah ke Bawah, Engkau Akan Dinaikkan

لان شكرتم لازيدنكم

Artinya, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, maka akan Aku tambah (nikmat) kepadamu,' (Ibrahim ayat 7).

Ayat di atas menegaskan bahwa syukur memiliki hikmah yang besar, yakni orang-orang yang bersyukur akan senantiasa mendapat anugerah berupa nikmat yang lebih luas dan besar daripada apa yang selama ini telah disyukurinya. Kenikmatan itu bisa berupa material maupun non-material yang diperlukan dalam hidup ini dalam rangka beribadah kepada-Nya. (Muhammad Ishom)

Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/79546/lihatlah-ke-bawah-engkau-akan-dinaikkan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...