Langsung ke konten utama

Kualat karena Berbohong kepada Sang Ayah

Kualat karena Berbohong kepada Sang Ayah
Kualat karena Berbohong kepada Sang Ayah

Kisah nyata ini aku tulis dari pengalaman pribadiku sendiri. Dulu sebelum aku mendapat pelajaran berharga dari kejadian yang aku alami ini, aku sangat membenci ayahku. Yang paling menyedihkan adalah ayahku seorang yang kurang taat dalam beribadah. Super galak. Jahat kepada ibuku. Sering bertengkar dan main tangan mukul, terutama saat-saat kondisi terhimpit ekonomi.

Oleh karena itu hampir seluruh keluarga membenci ayah. Padahal kalau dipikir lebih dalam dialah yang dengan gaya galaknya dan gaya kerasnya telah menghidupi lima orang anak dan satu istri selama ini.

Hatiku mulai terbuka bahwa ayah juga wajib dihormati adalah ketika aku sudah bisa bekerja. Pada mulanya ayah tidak pernah aku kasih jatah uang. Semua uang gajianku aku serahkan pada ibu karena menurutku selama ini ibu adalah satu-satunya orang yang harus aku bahagiakan, sedangkan ayah tidak. Karena menurutku ayah terlalu jahat dan tidak wajib aku hormati.

Suatu hari di tanggal-tanggal tua, waktu uang tinggal tipis-tipisnya, tersisalah di dompetku 27 ribu rupiah. Seperti biasa, saat akan bekerja aku tidak pernah lupa mencium tangan ibu dan ayah. Walaupun aku benci ke ayah tetapi aku menyembunyikannya dengan tetap juga menyalami dan mencium tangannya—kendatipun kadar hormat dalam hati tak seperti saat aku mencium tangan ibuku.

Selesai aku mncium tangannya, ayahku berbicara, "Nak, njaluk duwike gawe tuku rokok aku gak duwe rokok blas (Nak, minta uangnya buat beli rokok, aku tiak punya uang sama sekali)."

Dalam hati, aku berbicara kalu uang sisa Rp27.000 aku kasihkan ayah maka tujuh ribu kiranya pas buat beli rokok. Artinya, aku berangkat kerja hanya dengan membawa uang Rp20.000—menurutku uang segnini kurang untuk pegangan. Dan ahirnya aku jawab dengan berbohong, 'Nggak ada Pak, uangku cuma sisa tujuh ribu" (sambil aku pura-pura bolak-balik dompetku yang padahal isinya ada Rp27.000.

Dan akhirnya ayah berkata lagi, 'Oh ya sudah, wis buat kamu aja, Nak. Takut nanti di jalan ada apa-apa, ada ban bocor atau gimana. Nggak apa-apa wis Bapak nggak jadi minta, nanti gampang bapak nyari utangan aja buat beli rokok.'

Lalu saya pun berangkat naik sepeda motor. Dah kualatnya, belum sampai 200 meter naik motor aku menabrak bebek tetangga hingga mati. Kebetulan orang yang punya bebek itu ada di situ dan langsung menghampiriku minta ganti rugi sebesar Rp20.000. Subkhanallah, uang Rp27.000 yang tadi aku akui ke ayahku cuma tujuh ribu selang 3 menit sudah benar-benar menjadi Rp7.000.

Perasaanku campur aduk selama perjalanan berangkat kerja. Dan tak terasa air mata tiba-tiba bercucuran sambil aku mengendarai motorku. Teringat wajah ayah yang baru saja aku bohongi, teringat jelas raut wajah-wajah kesedihannya, teringat jelas kata-katanya saat mencoba minta uang padaku. Dan tidak aku beri.

Sejak saat itu aku berjanji akan selalu berbakti kedua orang tuaku yakni ibu dan bapakku. Dan juga berjanji tidak akan pernah lagi membohongi ayahku.

Maafkan saya, Ayah.Selama ini aku keliru menilaimu. Aku kira hanya ibu satu-satunya orang tempat aku wajib berbakti.


Pengirim: Shohibul Imam

======NU Online mengajak kepada pembaca semua untuk berbagi kisah inspiratif penuh hikmah baik tentang diri sendiri atau orang lain. Silakan kirim ke email: redaksi@nu.or.id

Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/78020/kualat-karena-berbohong-kepada-sang-ayah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...