Langsung ke konten utama

Kisah di Balik Penyembelihan Putra Nabi Ibrahim Menurut Ibnu Athaillah

Suatu hari Nabi Ibrahim AS berkata di dalam hati bahwa ia adalah makhluk paling belas kasih terhadap sesama. Mendengar ini, Allah SWT kemudian mengujinya. Ia mengajaknya naik ke langit hampir setiap malam.

Allah SWT memperlihatkan kepadanya alam malakut langit dan bumi hingga suatu ketika ia melihat seorang durjana dengan perbuatan kejinya. Tidak tahan dengan itu, Nabi Ibrahim AS berdoa, 'Ya Allah, binasakanlah ia. Ia makan rezeki-Mu, berjalan di atas bumi-Mu, dan ia melanggar perintah-Mu.'

Allah menolak permintaannya. Nabi Ibrahim kemudian diminta turun. 'Aku lebih sayang hamba-hamba-Ku dibanding kau terhadap mereka. Ibrahim, turunlah. Mereka yang kaukecam mungkin akan bertobat dan berharap.'

Lain riwayat menyebutkan, Allah mengabulkan permintaannya. Demikian juga ketika Nabi Ibrahim memandang hamba-hamba durhaka lainnya sehingga banyak jatuh korban dari mereka. Hal ini terus berlangsung sampai pada gilirannya Allah SWT menegurnya, 'Ibrahim, kau ini orang dengan doa yang maqbul. Janganlah berdoa untuk kehancuran hamba-hamba-Ku karena mereka masih memiliki tiga kemungkinan; pertama, mereka bertobat dan Aku menerimanya; kedua, Aku mengeluarkan jiwanya untuk bertasbih memuji-Ku; dan ketiga mereka mati secara wajar yang bisa saja Kumaafkan atau Kusiksa.'

Kekerasan hati Nabi Ibrahim terhadap mereka yang bermaksiat ini disinyalir menjadi penyebab turunnya perintah penyembelihan Nabi Ibrahim AS terhadap anak yang disayanginya seperti diceritakan dalam Surat As-Shaffat ayat 102.

Nabi Ibrahim AS hamba yang taat. Ia memenuhi perintah Allah SWT meski bukan pekerjaan ringan. Ketika akan melakukan penyembelihan terhadap anaknya, Nabi Ibrahim AS sempat berkata ketika pisau sudah di genggaman, 'Tuhanku, inilah anakku, buah hatiku, seorang manusia yang paling kukasihi.'

Ketika itu juga Nabi Ibrahim AS mendengar suara, 'Ingatkah kau Ibrahim, suatu malam kau meminta pembinasaan salah seorang hamba-Ku? Apakah kau tidak tahu bahwa Aku menyayangi mereka sebagaimana kau mencintai anakmu? Kalau kau meminta-Ku membinasakan mereka, maka Aku pun akan memintamu menyembelih anakmu satu per satu.'

***

Hal ini disinggung oleh Ibnu Athaillah dalam butir hikmah berikut.

Kisah di Balik Penyembelihan Putra Nabi Ibrahim Menurut Ibnu Athaillah
Kisah di Balik Penyembelihan Putra Nabi Ibrahim Menurut Ibnu Athaillah

من اطلع على أسرار العباد ولم يتخلق بالرحمة الإلهية كان اطلاعه فتنة عليه وسبباً لجر الوبال إليه

Artinya, 'Siapa yang melihat rahasia hamba-hamba Allah, tetapi tidak berakhlak dengan kasih sayang (rahmat) ilahi, maka penglihatannya berubah menjadi fitnah (ujian) dan penyebab kedatangan bencana baginya.'

Hikmah ini kemudian diterangkan lebih lanjut oleh Syekh Ibnu Abbad. Menurutnya, tanpa rahmat Ilahi mengetahui dosa orang lain, seseorang dapat terjerumus pada sikap ujub dan takabur yang mana keduanya adalah pakaian Allah SWT.

Kisah di Balik Penyembelihan Putra Nabi Ibrahim Menurut Ibnu Athaillah
Kisah di Balik Penyembelihan Putra Nabi Ibrahim Menurut Ibnu Athaillah

المطلع على السرائر التى تقتضى وجود العيب اذا لم يتخلق صاحبه بالرحمة الإلهية فيرحم المذنبين ويح لم على الظالمين ويصفح عن الجاهلين ويحسن إلى المسيئين ويرأف بعباد الله أجمعين فانه يكون ذلك الاطلاع فتنة عليه لأن ذلك يؤديه إلى رؤية نفسه واستعظام أمرها والعجب بعمله والتكبر على غيره وهذا هو أعظم الفتنة ويكون ذلك سببا إلى جر الوبال إليه من ادعائه لصفات ربه ومنازعته لكبريائه وعظمته وهذا هو أعظم الوبال وغاية الخزي والنكال

Artinya, 'Orang yang mengetahui rahasia-rahasia yang mendorong terungkapnya aib, tetapi tidak disertai dengan rahmat Ilahi sehingga tidak mengasih-sayangi mereka yang berdosa; tidak murah hati kepada mereka yang aniaya; tidak memaklumi mereka yang awam; tidak berbuat baik terhadap mereka yang jahat; dan tidak menaruh belas kasih terhadap hamba Allah secara umum, maka pengetahuannya itu akan menjadi ujian baginya. Mengapa? Karena semua itu dapat mengakibatkannya memandang (kehadiran) dirinya (dalam ibadah), menganggap agung dirinya, ujub terhadap amalnya, dan takabbur terhadap orang lain. Itu semua menjadi fitnah terbesar dalam hidupnya dan dapat mendatangkan bencana juga baginya dalam bentuk pendakwaan diri atas sifat-sifat Allah dan perlawanan terhadap kebesaran serta keagungan-Nya. Yang disebut terakhir ini adalah bencana terbesar, petaka dan musibah terberat,' (Lihat Syekh Ibnu Abbad, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, tanpa tahun, juz II, halaman 3-4).

Butir hikmah ini jangan dipahami sebagai anjuran untuk menghalalkan yang haram atau menoleransi kezaliman atau kejahatan. Pelanggaran hukum harus mendapat tindakan tegas. Hukum harus ditegakkan. Kejahatan harus diproses agar masyarakat merasakan kepastian hukum dan memegang jaminan.

Butir hikmah di sini adalah menganjurkan kita untuk memandang manusia secara dengan rahmat Ilahi tanpa membeda-bedakan mereka yang taat dan mereka yang durhaka. Hanya dengan pandangan rahmat Ilahi itu, kita akan mendapat kucuran rahmat dari Allah SWT sebagaimana bunyi hadits berikut ini.

Kisah di Balik Penyembelihan Putra Nabi Ibrahim Menurut Ibnu Athaillah
Kisah di Balik Penyembelihan Putra Nabi Ibrahim Menurut Ibnu Athaillah

الراحمون يرحمهم الرحمن ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء

Artinya, 'Orang yang berbelas kasih adalah orang-orang yang dikasihi oleh Allah Yang Maha Penyayang. Karenanya kasihilah siapa saja yang ada di muka bumi, niscaya penduduk langit akan mencurahkan kasih sayang pula untuk kalian.' Sebaiknya, kita mendoakan agar Allah menurunkan taufiq-Nya untuk mereka. Wallahu a'lam. (Alhafiz K)

Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/81197/kisah-di-balik-penyembelihan-putra-nabi-ibrahim-menurut-ibnu-athaillah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...