Langsung ke konten utama

Kiai Syamsuri, Pendiri dan Penggerak NU Banyuwangi

Salah satu pejuang awal Nahdlatul Ulama (NU) Banyuwangi yang patut dikenang adalah KH Syamsuri Singonegaran. Tak banyak yang tahu kiprah Rais Syuriah PCNU Banyuwangi era tiga puluhan tersebut. Sepanjang hidupnya, ia dedikasikan kepada umat dan NU. 

Kiai Syamsuri, Pendiri dan Penggerak NU Banyuwangi
Kiai Syamsuri, Pendiri dan Penggerak NU Banyuwangi

Sekelumit tentang perjuangan Kiai Syamsuri tersebut terungkap saat peringatan haulnya di Masjid Raudatus Sholihin, Singonegaran, Banyuwangi, Sabtu (17/12).

'Beliau termasuk muasis (pendiri) dan muharik (penggerak) NU Banyuwangi,' ungkap cucu Kiai Syamsuri, Haikal Kafili.

Selama hidupnya, Kiai Syamsuri dikenal gigih dalam memperjuangkan NU. Ia terlibat aktif dalam berbagai muktamar NU mewakili Banyuwangi. Dalam muktamar kedelapan NU di Jakarta pada tahun 1933, misalnya, Kiai Syamsuri tercatat sebagai perwakilan rois syuriah NU Banyuwangi. 

'Dalam muktamar tersebut, Kiai Syamsuri datang seorang diri dari Banyuwangi dengan membawa uang sumbangan sebesar f. 26,' papar salah tim peneliti sejarah NU Banyuwangi Ayung Notonegoro yang hadir dalam haul tersebut.

Berkat lobi dari Kiai Syamsuri tersebut, lanjut Ayung, muktamar NU berikutnya digelar di Banyuwangi. Tepatnya, muktamar kesembilan NU pada tahun 1934. 

Dalam surat kabar The Indische Courant disebutkan pada tanggal 26 November 1933 diadakan pertemuan di Kampung Kemasan untuk membahas persiapan muktamar kesembilan NU di Banyuwangi. Saat itu, hadir KH. Wahab Hasbullah sebagai perwakilan dari Hobbefstur (pengurus besar) NU. 

'Dari hasil penelitian kami, pertemuan tersebut, diadakan di kediaman Kiai Syamsuri di Kemasan. Sekarang masuk Kelurahan Panderejo,' ungkap Ayung.

Hal ini diakui Haikal Kafili. Sebelum pindah ke Singonegaran, Kiai Syamsuri memang berasal dari Kampung Kemasan yang tak jauh dari tempat tinggalnya yang baru tersebut. 'Rumahnya yang pertama memang di Kemasan, kemudian pindah ke Singonegaran dan mendirikan masjid Roudlatus Sholihin ini,' terangnya.

Tak hanya berjuang untuk NU, semasa perang kemerdekaan Kiai Syamsuri juga terlibat aktif. Bersama kolega, Kiai Abdul Wahab Penataban, ia bahu-membahu melawan penjajah yang ingin masuk kembali ke Banyuwangi. 'Ceritanya, dulu banyak pejuang Hizbullah yang terluka parah dirawat di rumah kakek ini. Bahkan, beberapa orang yang akhirnya wafat dimakamkan di pemakaman Astana Eko Kapti,' papar Haikal.

Kiai Syamsuri sendiri berumur panjang. Tak ada keterangan pasti berapa tahun kelahiran ulama yang pernah belajar di Bangkalan, Siwalan Panji dan Mekkah tersebut. 

'Kalau wafatnya sendiri pada 7 Rabiul Awal 1398 H atau bertepatan dengan 15 Februari 1978 dalam usia yang sangat tua. Mungkin lebih dari seratus tahun usianya,' ungkap Haikal.

Sementara itu, KH Abdul Hadi Basri, kemenakan sekaligus santri dari Kiai Syamsuri itu, menceritakan bahwa sosoknya, selain sebagai pejuang dan penggerak NU, juga merupakan figur yang istiqomah shalat jama'ah. 

'Beliau itu, tidak pernah meninggalkan shalat jama'ah. Bersama dengan saudara-saudaranya, beliau memakmurkan masjid yang dirintisnya dengan shalat jama'ah,' ceritanya.

Oleh karena itu, papar Kiai Abdul Hadi, salah satu cara meneladani Kiai Syamsuri adalah dengan senantiasa memakmurkan masjid peninggalannya dengan shalat jama'ah. 'Jangan sampai masjid ini, sepi dengan sholat jama'ah,' pungkasnya. (M. Sholeh Kurniawan/Abdullah Alawi)

Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/73864/kiai-syamsuri-pendiri-dan-penggerak-nu-banyuwangi-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...