Langsung ke konten utama

Kiai Haji Imron Hamzah

Kiai Haji Imron Hamzah
Kiai Haji Imron Hamzah

KH Rais Syuriyah PBNU Periode 1999-2004 berdasarkan Keputusan Muktamar Lirboyo. Selama dua periode memegang jabatan yang sama untuk tingkat wilayah di PWNU Jawa Timur, yaitu pada 1992-1997 dan 1997-2002. 
<>
Ketika itu Ketua Tanfidziyah PWNU Jatim dipegang oleh KH A. Hasyim Muzadi yang kemudian menjadi Ketua Umum Tanfidziyah PBNU. Karena menjabat Rais Syuriyah, jabatan untuk periode kedua tidak tuntas diselesaikan. Pada 1989-1994 diamanatkan sebagai Sekjen PP Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI).

Kiai Imron Hamzah lahir Desa Ngelom, Sidoarjo, 17 Agustus 1938, sebagai anak kedelapan dari sebelas bersaudara. Ayahnya adalah Kiai Chamzah Ismail. Sedangkan ibunya bernama Nyai Muchsinah. Konon, ia masih keturunan Mas Karebet atau Joko Tingkir.

Latar belakang pendidikannya dimulai ketika ia dikirim ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, bersama kakak tertuanya, KH M. Rifa'i. Saat itu, Imron baru berusia sembilan tahun.

Kemudian ia belajar ke Pesantren Buntet, Cirebon, selama tiga tahun. Selanjutnya, ia belajar di Pesantren Darul Ulum Rejoso, Peterongan, Jombang, hingga 1954. 

Ia juga berguru ke Mbah Maksum di Pesantren al-Hidayah, Lasem, Rembang. Setelah itu, ia berpindah-pindah, seperti ke Salatiga (Jawa Tengah) dan Krapyak (Yogyakarta).

Saat menjadi santri, Imron aktif berorganisasi, khususnya di lingkungan NU. Pada 1952, ia menjadi anggota pleno GP Ansor Cabang Jombang. Dua tahun berikutnya menjadi pengurus IPNU Cabang Jombang. Lima tahun setelah itu, dipercaya sebagai pengurus NU Cabang Lasem, lalu menjadi Ketua NU Lasem Periode 1962-1965.

Pada 1967 ia pulang ke Ngelom. Kemudian ia menjadi pengurus Bagian Penerangan Pertanu Wilayah Jawa Timur. Di tahun yang sama ia menjadi Ketua Departemen Penerangan GP Ansor Jawa Timur. Selanjutnya, pada 1967-1982, menjadi Katib Syuriyah NU Jawa Timur ketika K.H. Machrus Ali menjadi Rais Syuriyahnya.

Dalam karier politik, Kiai Imron pernah menjadi anggota DPRD Tingkat I Jawa Timur (1971-1982). Ia juga menjabat Wakil Ketua PPP Wilayah Jawa Timur (1973-1986) mendampingi Ketua KH M. Hasyim Latif; Wakil Ketua DPRD Tingkat I Jatim (1982-1987); dan dua kali menjadi anggota MPR RI Utusan Daerah Jawa Timur (1987-1992 dan 1992-1997).

Salah satu peran penting Kiai Imron di bidang pengembangan fiqih adalah usahanya merintis kegiatan pengkajian khazanah keislaman salaf melalui berbagai kegiatan halaqah. Upaya itu dilakukannya bersama KH Wahid Zaini, KH Masdar F. Mas'udi, dan sejumlah kiai muda lainnya melalui Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M). Salah satu hasil upaya itu adalah lahirnya rumusan Metode Pengambilan Hukum yang menjadi keputusan Musyawarah Nasional NU di Lampung pada 1992.

K.H. Imron Hamzah tutup usia pada 23 Mei 2000 di Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya. (Sumber: Ensiklopedi NU)

Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/40062/kiai-haji-imron-hamzah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...