Langsung ke konten utama

KH Mahfudz Cholil Tokoh Pejuang Kemerdekaan dari Lasem

Kakak alm Mbah Abdus Salam, Pak Udin berpenampilan sederhana dan rendah hati putra Kiai Mahfudz mewakili keluarga turun langsung selama jalannya renovasi. Makam pejuang tanpa pamrih itu yang telah ditata rapi oleh Pengurus Masjid semakin nyaman bagi peziarah dengan dibangun lantai kramik oleh pihak keluarga. 

KH Mahfudz Cholil Tokoh Pejuang Kemerdekaan dari Lasem
KH Mahfudz Cholil Tokoh Pejuang Kemerdekaan dari Lasem

Letak makam di sebelah selatan Makam Mbah Sambu, hanya berjarak 6 meter. Mudah ditemui, jika berjalan menuju pintu masuk makam Mbah Sambu, sebelumnya peziarah akan menemukan makam Kiai Mahfudz. Di Komplek Masjid Jami Lasem juga terdapat makam tokoh perang sabil yang dikenal juga dengan nama perang kuning tahun 1751 yaitu KH Ali Baidlowi atau Ki Joyo Tirto, timur makam Mbah Sambu

Kiai Mahfudz kakak Kiai Mansyur ayah dari Gus Qayyum. Putra KH Cholil Lasem salah satu pendiri NU, terbilang Keponakan Mbah Ma'shoem Lasem, merupakan putra Kyai Abdur Rasyid mantan Kepala Desa Soditan yang selama hidupnya tercatat sebagai Kontraktor pembangunan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, sehingga banyak warga Lasem diikutkan bekerja. 

Untuk mengenangnya, dulu tokonya di Alun-alun Lasem diberi nama Toko Tanjung Perak, kemudian dibongkar terkena pelebaran jalan raya Lasem-Jatirogo. Jiwa pejuang KH Mahfudz Cholil juga menurun dari kakek jalur ibu yaitu juga bernama Kyai Mahfudz ayah dari KH Sahal Mahfudz Kajen Pati, yang gugur dalam Perang Palagan Ambarawa melawan penjajah, wilayah perjuangan Panglima Besar Jendral Soedirman. 

Dari garis ibu juga ada pertalinan kerabat dengan KH Abdullah Salam Kajen dan KH Syansuri Badawi Denanyar.  Teman seperjuangan Kyai Mahfudz Cholil antara lain KH A Hamid Syarif Pohlandak, KH Zuber ayah KH Maemun Zuber Sarang, dan Kolonel Suyono mantan Bupati Jember.

Selama masa perjuangan di Kab Rembang hidup berpindah-pindah, bergrilya di Watu Pecah, Sedan, Lasem dll, sehingga Pak Udin anaknya lahir di Luar Lasem. Kyai Mahfudz lahir tahun 1920, wafat tahun 1973, pada usia 53 tahun. Beliau biasa disapa Gus Fud, di akhir hidupnya banyak berhidmat di Masjid Jami Lasem aktif mengelola dan merenovasi Madrasah Jailaniyah.

Pasca perjuangan fisik, di masa damai mengundurkan diri dari barak militer kembali ke pesantren atau pengabdian di masyarakat berpangkat Letnan, sebagian teman beliau mengurus status veteran, ada pula yang melebur/ masuk TNI melalui proses seleksi pangkat, tes baca tulis dan lain-lain. Sebagaimana tertulis dalam sejarah Laskar Mujahidin Hizbullah, PETA, BKR, TKR sampai pembentukan TNI.

Tahun 1966 beliau menjadi Kordinator Latihan Tutup Tahun Wisuda AKABRI dulu bernama AMN, Posko latihan berpusat di Soditan Lasem. Berupa latihan darat, laut dan terjun payung di Pemotan, Sedan dan Lapangan sekarang jadi  Pasar Lasem. 

Dihadiri langsung Jenderal Ahmad Taher selaku Gubernur AKMIL, pemerintah kemudian memberikan Piagam Penghargaan atas suksesnya latihan tersebut. Ahmad Taher kemudian menjadi menteri, termasuk Jenderal Agum Gumelar menantunya dan anaknya. (Abdullah Hamid)

Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/70180/kh-mahfudz-cholil-tokoh-pejuang-kemerdekaan-dari-lasem

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...