Langsung ke konten utama

KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo



KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo

KH Chudlori lahir di Tegalrejo Magelang, Jawa Tengah dari pasangan Muhammad Ikhsan dan Mujirah. Ia anak kedua dari sepuluh bersaudara. Muhammad Ikhsan adalah penghulu Tegalrejo pada masa penjajahan Belanda. Ayah Muhammad Ikhsan bernama Abdul Halim, juga penghulu zaman Belandayang sangat dihormati. Abdul Halim menangani urusan agama di Magelang meliputi kecamatan Candimulyo, Martoyudan, Mungkid, dan Tegalrejo.

Pada tahun 1923, seteleh menyelesaikan Hollandsch-Inlandsche School (HIS), lembaga pendidikan setingkat Sekolah Dasar zaman Belanda, Chudlori kecil dikirim ayahnya ke pesantren Payaman yang diasuh KH Siroj. Ia menghabiskan 2 tahun di pesantren tersebut. Kemudian pindah ke pesantren Koripan di bawah asuhan Kiai Abdan. Tapi kemudian pindah lagi ke pesantren Kiai Rahmat di daerah Gragab hingga tahun 1928.

Kehausan akan ilmu agama, ia kemudian nyantri ke Tebuireng yang waktu itu diasuh Hadrotussyekh KH Hasyim Asy'ari. Di pesantren pendiri NU tersebut, ia mempelajari beragam kitab.

Saat di Tebuireng, ayah Chudlori mengirim uang sebanyak Rp. 750,- per bulan, tetapi ia hanya menghabiskan Rp.150,- dan mengembalikan sisanya. Chudlori hanya makan singkong dan minum air yang digunakan untuk merebus singkong tersebut. Dia melakukan ini dalam rangka riyadlah, amalan yang biasa dilakukan para santri.

Cerita lainnya tentang Chudlori, di kamarnya di Tebuireng, ia membuat kotak belajar khusus dari papan tipis dan menempatkan kotak tersebut diantara loteng dan atap. Kapan saja bila ingin menghafal atau memahami pelajarannya, Chudlori naik dan duduk di atas kotak sehingga bisa berkonsentrasi dengan baik. Kotak ini sempit, tidak nyaman dan berbahaya untuk duduk. Jadi dengan kedisiplinan dia dapat belajar setiap hari hingga tengah malam. Kapan saja tertidur sebelum tengah malam, dia menghukum dirinya sendiri dengan berpuasa pada hari berikutnya tanpa makan sahur

Kemudian pada tahun 1933, ia pindah lagi Bendo, Pare, Kediri, menjadi santri Kiai Chozin Muhajir. Di situ ia belajar fiqih dan tasawuf seperti kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali. Empat tahun berikutnya, ia mengaji di pesantren Sedayu, belajar ilmu membaca Al-Qur'an selama 7 bulan. Pada tahun 1937, ia nyantri lagi ke Lasem, Jawa Tengah, yang diasuh KH Ma'shum dan KH Baidlowi.

Setelah menikahi putri KH Dalhar Watucongol, ia sempat mengajar di pesantren mertuanya tersebut. Namun mengajarkan ilmu agama di kampung halamannya adalah cita-citanya yang menggebu-gebu sehingga ia selalu melakukan mujahadah dan meminta petunjuk Allah Swt untuk niatnya itu.

Setelah mendapat petunjuk dan membicarakan kepada mertuanya, kemudian pada 15 September 1944 KH Chudlori pulang kampung dan mendirikan pesantren di Tegalrejo. Masyarakat desa itu, ketika ia mendirikan pesantren, terbelah menjadi yang pro dan kontra. Kalangan yang pro gembira karena ada anak kampungnya yang menyebarkan ajaran agama. Sebaliknya yang kontra, lebih karena antipati terhadap penyebaran Islam.

Sebagai kiai yang digembleng bertahun-tahun, Chudlori tetap tegar menghadapi kalangan yang kontra. Ia tetap menjalankan misinya mengembangkan syariat Islam.

Awalnya, Chudlori tak memberikan nama khusus pada pesantrennya, namun pada tahun 1947, atas saran teman-teman seperjuangannya, ia menamainya dengan Asrama Perguruan Islam (API). Nama itu merupakan hasil istikharahnya. Dengan nama itu, ia berharap santri-santrinya kelak akan jadi api penerang umat dalam kegelapan.

Pada tahun 1947, ketika Belanda melakukan Agresi Militer, Pesantren API menjadi benteng perjuangan mempertahankan kemerdekaan oleh para gerilyawan. Bahkan Chodlori yang kini sudah bergelar kiai, mengizinkan santrinya untuk turut berjuang. Aktivitas belajar-mengajar dihentikan untuk sementara waktu.

Karena perjuangan itu diketahui Belanda, pesantrennya kemudian dibakar habis. Santri, keluarga, dan Kiai Chudlori sendiri mengungsi dari satu desa ke desa lain. Kemudian di tahun 1949, ia kembali ke desanya dan mebangun kembali pesantren. Prmbangunan kali ini, dibantu warga masyarakat yang telah bersimpati pada perjuangannya. Santri pun bertambah banyak. Pada tahun 1977, ia memiliki sekitar 1500 santri. Di tahun tersebut, pesantren API sedang berkembang pesat, tapi di tahun itu pula Kiai Chudlori dipanggil yang Kuasa. (Abdullah Alawi, dari berbagai sumber)

KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo


Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/71337/kh-chudlori-santri-kelana-pendiri-api-tegalrejo-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...