Langsung ke konten utama

Ketika Rasulullah Dilarang Berdiri dari Ruku'

Ketika Rasulullah Dilarang Berdiri dari Ruku
Ketika Rasulullah Dilarang Berdiri dari Ruku'

Selain memiliki keilmuan yang luar biasa, sahabat Ali bin Abi Thalib merupakan manusia berperikemanusiaan super tinggi pula. Sebab itulah ia tertahbis sebagai manusia termulia di dunia pada urutan ke-4 untuk kategori manusia bukan nabi dan bukan rosul.

Karena sangat tinggi perikemanusiannya, hingga kepada seorang tua renta beragama Yahudi pun ia tetap berakhlaqul karimah, tetap sopan tiada tara. Ini pernah terjadi semasa hidup Rasulullah, saat waktu shalat telah tiba dan selayak hari-hari sebelumnya, Rasulullah pun khusyu' mengimami segenap sahabat shalat fardlu di masjid.
 
Namun ada yang berbeda dalam jama'ahan waktu itu. Satu dari sekian sahabat tidak tampak, padahal ia dikenal sebagai sahabat kesayangan yang sangat dibanggakan oleh Rasulullah. Tak lain dialah sahabat Ali bin Abi Thalib. Di tengah janggalnya pemandangan jama'ah shalat yang tak lengkap hanya karena ketidakhadiran seseorang itu, janggal juga cara Rasulullah mengimami.
 
Baru di rekaat pertama, sesampai di gerakan ruku', tuma'ninah Rasulullah terasa lebih khudhu' dari biasanya. Saking khudhu'nya, Rasulullah begitu lama membungkuk dalam ruku'. Ternyata di antara sekian ma'mum ada juga yang merasakan penasaran, kenapa Rasulullah ruku' lama sekali?
 
Sementara di lain tempat, di ruas jalan menuju arah masjid, sahabat Ali bin Abi Thalib tengah berjalan pelan di belakang seorang tua renta. Entah siapa, tua renta itu berjalan tergopoh sambil dibantu tongkat untuk menyangga tubuh lemahnya. Rupanya sahabat Ali bin Abi Thalib sungkan dan tidak berani untuk sekadar mendahului orang tua itu.
 
Padahal, sedari rumah sahabat Ali bin Abi Thalib sudah bergegas, berburu rekaat bersama Rasulullah. Sungguh, sahabat Ali bin Abi Thalib tak ingin kehilangan yang 27 derajat itu. Tapi apa mau dikata, di jalan ia tidak tega mendahului seorang tua yang jalannya tak lagi kokoh. Agaknya lelaki santun itu benar-benar menaruh hormat pada setiap orang tua, atau ia menganggap setiap orang tua yang ia temui selayak orangtua kandungnya?
 
Lebih mengejutkan lagi ketika ternyata sampai di depan masjid, tua renta yang jalannya tergopoh itu tidak sedikitpun menoleh, apa lagi masuk ke dalam masjid. Iya, sebab orang itu beragama Yahudi! Jadi, sahabat Ali bin Abi Thalib sebegitu berakhlaqul karimah terhadap yang tua, sekalipun ternyata orang itu tak mau memeluk Islam. Saking hormatnya sahabat Ali bin Abi Thalib nyaris ketinggalan rekaat pertama bersama Rasulullah.
 
Syukurlah, Rasulullah memperlama ruku' hingga lelaki santun lagi saleh itu datang. Akhirnya lelaki alim yang kelak melanjutkan keturunan Rasulullah itu tidak jadi kehilangan 27 derajat bersama Rasulullah.
 
Seusai shalat, makmum yang tadinya menyimpan rasa penasaran pun akhirnya memberanikan diri bertanya pada imamnya yang memperlama ruku' rekaat pertama. Jawab Rasulullah, rupanya malaikat Jibril menindih punggunggnya ketika hendak berdiri dari ruku'. Sebabnya, tak lain adalah menunggu sampai kedatangan sahabat Ali bin Abi Thalib bergabung dalam makmum. Dan, Rasulullah pun dilarang berdiri dari ruku'. (Istahiyyah) Tulisan di atas disarikan dari tausiyah KH. M. Sya'roni Ahmadi, pada Akhirussanah MTs-MA NU Nurussalam Besito Gebog Kudus, Ahad (14/06/2015) di halaman madrasah.

Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/60176/ketika-rasulullah-dilarang-berdiri-dari-ruku039

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...