Langsung ke konten utama

Ketika Kuasa Ilusi Mendikte Manusia Menurut Ibnu Athaillah

Semua berawal dari salah sangka dan kurang yakin. Manusia berilusi bahwa sesuatu selain Allah dapat memenuhi hajatnya baik untuk mendatangkan kemaslahatan maupun mencegah mereka dari kemudaratan. Ilusi ini selanjutnya mengarahkan manusia menuju jurang kehinaan.

Sebagaimana diketahui, entri ilusi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sesuatu yang hanya dalam angan-angan; khayalan; pengamatan yang tidak sesuai dengan pengindraan; sesuatu yang tidak dapat dipercaya; palsu.

Meskipun hanya bayang-bayang, ilusi ini tampak kuasa menggiring sebagian manusia ke sana-ke sini dalam kesemuan sebagai disinggung Syekh Ibnu Athaillah dalam hikmah berikut ini.

Ketika Kuasa Ilusi Mendikte Manusia Menurut Ibnu Athaillah
Ketika Kuasa Ilusi Mendikte Manusia Menurut Ibnu Athaillah

ما قادك شيء مثل الوهم

Artinya, 'Tiada satupun tenaga yang bisa mendiktemu sekuat ilusi (waham).'

Waham ini yang juga digunakan dalam KBBI sebagai keyakinan atau pikiran yang salah karena bertentangan dengan dunia nyata serta dibangun atas unsur yang tidak berdasarkan logika; sangka; curiga.

Lalu apa dampak dari ilusi ini? Mereka yang berada di bawah pengaruh ilusi akan m engejar arahan ilusinya hingga berujung pada kehinaan. Mereka kurang sabar dan tenang serta tidak yakin pada kepastian yang ditentukan Allah SWT.

Ketika Kuasa Ilusi Mendikte Manusia Menurut Ibnu Athaillah
Ketika Kuasa Ilusi Mendikte Manusia Menurut Ibnu Athaillah
يعنى أن الوهم هو السبب فى الطمع فى الناس وذلك كاف فى قبحه لأن الوهم الذى هو أصله أمر عدمى إذ هو عبارة عن التخيل والحسبان التقديرى لكن النفوس منقادة له أتم من انقيادها الى العقل. ألا ترى أن الطبع ينفر من الحية لتوهمه الضرر فيها بل من الحبل المبرقش لكونه على صورتها ولو انقادت للعقل لم ينفر لأن ما قدر يكون وما لم يقدر لم يكن.

Artinya, 'Maksudnya, waham adalah penyebab kemunculan harapan terhadap manusia. Ia sudah cukup menunjukkan keburukannya karena waham berdasar pada sesuatu yang nihil. Waham adalah ungkapan lain dari takhayyul dan asumsi-praduga tetapi batin banyak orang tunduk lebih sempurna padanya dibanding pada akal. Coba kauperhatikan, secara alamiah manusia itu menjauh da ri ular karena menduga risiko yang ada padanya, tetapi banyak manusia juga menjauh dari tali bercorak hanya karena serupa bentuk dengan ular. Kalau mereka tunduk pada pertimbangan akal, niscaya mereka takkan menjauh. Apa yang ditakdirkan, mesti terjadi. Apa yang tak tersurat, tak mungkin ada,' (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, juz I, halaman 49).

Ilusi yang menghinggapi kalangan awam berbeda dari ilusi yang mempengaruhi kalangan khawash. Ilusi ini yang menghalangi keduanya dari Allah SWT. Mereka merasa cuku dengan ilusinya. Ini merupakan sebuah bahaya besar sebagai disebut Syekh Ibnu Ajibah berikut ini.

Ketika Kuasa Ilusi Mendikte Manusia Menurut Ibnu Athaillah
Ketika Kuasa Ilusi Mendikte Manusia Menurut Ibnu Athaillah

فتحصل أن الوهم حجب عن الله العوام والخواص وأما خواص الخواص فلم يحجبهم عن الله شيء أما العوام فقادهم إلى التعلق بالخلق ومنعهم عن السير إلى الملك الحق فاشتغلوا بمراقبة الأحباب وعداوة من عاداهم من الأصحاب ففاتهم محبة الحبيب ومر اقبة الرقيب وأما الخواص فقادهم الوهم إلى ثبوت الآثار والوقوف مع الأنوار فقنعوا بذلك ولم يتشوفوا إلى ما وراء ذلك فالقناعة من الله حرمان وليس الخبر كالعيان وسمعت شيخنا رضي الله عنه يقول والله ما حجب الناس عن الله إلا الوهم والوهم أمر عدمي لا حقيقة له اهـ وأما خواص الخواص فلم يحجبهم عن الله شيء قطعوا حجاب الوهم وحصل لهم من الله العلم والفهم فلم يتعلقوا بشيء ولم يحجبهم عن الله شيء جعلنا الله منهم بمنه وكرمه ولما كان الوهم ينشأ عنه الطمع والطمع ينشأ عنه الذل والعبودية واليقين ينشأ عنه الورع والورع ينشأ عنه العز والحرية

Artinya, 'Maka hasillah bahwa ilusi m enghijab kalangan awam dan kelompok khawash dari Allah. Sementara kalangan khawashul khawash tak terhijab oleh suatu apapun. Ilusi mendikte kalangan awam untuk bersandar kepada selain Allah dan menghentikan perjalanan mereka dari-Nya sehingga mereka sibuk bercengkerama dengan orang-orang tercinta dan sibuk memusuhi kolega yang menyakiti mereka. Kalangan awam–kalau sudah begini–luput untuk mencintai Allah dan memerhatikan pengawasan-Nya.

Ilusi mendikte kalangan khawash untuk sibuk dengan tetapnya atsar Allah dan terhenti pada cahaya-Nya sehingga mereka merasa cukup dengan itu dan tak memandang di balik semua itu. Perasaan cukup (qanaah) tanpa Allah adalah sebuah keluputan. Informasi saja tentu berbeda dengan menyaksikan kasat mata. Saya ingat guru saya berkata, 'Sungguh, tiada satupun yang menghijab manusia dari Allah selain ilusi. Ilusi itu sendiri nihil, tidak berhakikat.'

Tak satupun kekuatan yang menghijab kalangan khawashul khawash dari Allah. Mereka sa nggup mengatasi hijab ilusi sehingga mereka berhak menerima ilmu dan paham dari Allah. Apapun tak memikat hati mereka dan tak menghalangi pandangan batin mereka–semoga Allah dengan anugerah dan kemurahan-Nya menjadikan kita termasuk kelompok ini–. Ketika ilusi melahirkan keinginan dan harapan, maka keinginan melahirkan kehinaan dan penghambaan. Tetapi ketika keyakinan menumbuhkan sikap wara', maka kewara'an mengantarkan pada kemuliaan dan kemerdekaan,' (Lihat Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam fi Syarhil Hikam, Beirut, Darul Fikr, juz I, halaman 95).

Orang yang dipengaruhi ilusi kerap lalai dengan kehinaan dan penghambaan sebagai muara dari ilusi mereka. Tetapi mereka yang sanggup mengatasi bayang-bayang di benaknya sendiri akan sanggup membebaskan diri dari pengharapan dan penghambaan semu terhadap sesuatu itu sebagai disebutkan Syekh Zarruq berikut ini.

Ketika Kuasa Ilusi Mendikte Manusia Menurut Ibnu Athaillah
Ketika Kuasa Ilusi Mendikte Manusia Menurut Ibnu Athaillah

فإذن إنما يدعو إلى الطمع توهم النفع من المطموع فيه، وبذلك تحصل العبودية له، فمن غلب الوهم عليه نسى ما ي نتهى إليه الطمع من النقص والدنائة، ومن ضعف لديه الوهم ذكر ذلك فانتفى عنه الطمع

Artinya, 'Jadi, pemicu harapan selama ini adalah ilusi atas unsur kemaslahatan pada pihak yang diharapkan. Inilah yang melahirkan penghambaan terhadap sesuatu yang diharapkan. Mereka yang dipengaruhi oleh ilusi akan lupa pada kekurangan dan kehinaan sebagai tujuan akhir harapan terhadap manusia. Tetapi siapa yang berhasil mengatasi ilusi dan menyadari kehinaan, niscaya terbebas dari harapan terhadap pihak lain,' (Lihat Syekh Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 70).

Mereka yang terbebas dari pengaruh waham atau ilusi akan dianugerahkan ketenangan dan ketenteraman hidup oleh Allah SWT. Sedangkan mereka yang terkungkung oleh ilusinya sendiri akan terus berlari mengejar bayang-bayang tersebut bahkan dengan cara hina sekalipun. Mereka hidup deng an penuh kegelisahan seperti diburu oleh sesuatu.

Ketika Kuasa Ilusi Mendikte Manusia Menurut Ibnu Athaillah
Ketika Kuasa Ilusi Mendikte Manusia Menurut Ibnu Athaillah

وأرباب الحقائق بمعزل عن هذا فلا ت� �علق هممهم إلا بالله ولا يتوكلون إلا عليه ولا يثقون إلا به قد سقط اعتبار الأوهام والخيالات التى هي متعلقة بالأغيار عن قلوبهم فزال عنهم الطمع فاتصفوا بصفة القناعة والورع فكانت لهم الحياة الطيبة والعيشة الراضية. والقناعة مقام عظيم من مقامات اليقين وهو من بداية أحوال الراضين

Artinya, 'Ahli hakikat menjauh dari ilusi ini. Semangat mereka hanya terkait pada Allah. Mereka bertawakkal dan berpasrah kepada-Nya. Pertimbangan-pertimbangan ilusi dan khayal yang berkaitan dengan selain Allah runtuh dari benak mereka sehingga tak satupun harapan kepada selain-Nya tergantung di batin mereka. Ketika itulah sifat qanaah dan wara' melekat pada mereka sehingga kehidupan mereka menjadi kehidupan yang baik dan penuh ridha. Qanaah adalah maqam agung dari sekian maqa m keyakinan. Qanaah adalah permulaan dari pengalaman batin mereka yang hidup dengan ridha,' (Lihat Syekh Ibnu Abbad, Syarhul Hikam, Indonesia, Daru Ihayil Kutubil Arabiyah, juz I, halaman 49).

Hikmah Syekh Ibnu Athaillah ini persis dengan makna Surat An-Nahl berikut ini.

Ketika Kuasa Ilusi Mendikte Manusia Menurut Ibnu Athaillah
Ketika Kuasa Ilusi Mendikte Manusia Menurut Ibnu Athaillah

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya, 'Siapa saja laki-laki atau perempuan yang beramal saleh-mereka adalah orang beriman-, niscaya kami hidupkan dia dengan kehidupan yang baik dan kami berikan mereka ganjaran sebaik-baik apa yang mereka amalkan,' (An-Nahl ayat 97).

Mereka yang terbebas dari pengaruh ilusi hidup penuh ketenangan dan keyakinan. Mereka ridha dengan Allah. Allah pun meridhai mereka. Mereka hidup dengan qanaah. Wallahu a'la m. (Alhafiz K)

Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/81887/ketika-kuasa-ilusi-mendikte-manusia-menurut-ibnu-athaillah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...