Langsung ke konten utama

Ketika Cemburu Melanda Istri Nabi Muhammad SAW

Memiliki istri lebih dari satu adalah salah satu budaya Arab saat itu. Bahkan Nabi Muhammad SAW pun memiliki istri lebih dari satu. Salah satu konsekuensi memiliki istri lebih dari satu adalah kecemburuan yang dialami oleh salah satu istri dengan istri yang lain, termasuk para ummul mukminin (istri-istri Rasulullah SAW).

Walaupun Nabi Muhammad SAW ingin dan selalu berusaha keras untuk berlaku seadil-adilnya kepada para istrinya, namun tidak bisa dipungkiri bahwa masih ada saja rasa cemburu yang melanda istrinya bahkan pada orang yang sudah tiada.

Dalam hadits Bukhari dikisahkan bahwa Aisyah RA pernah cemburu kepada Siti Khadijah RA karena nabi sering menyebut-nyebut namanya dan sering memuji-mujinya di hadapan Aisyah RA. Walaupun saat itu Khadijah RA telah meninggal dunia, namun tetap saja Aisyah masih cemburu dengan Khadijah.

Dalam hadits Bukhari juga, suatu hari nabi pulang ke rumah istrinya, yaitu Zainab binti Jahsy. Namun nyatanya di rumah, Aisyah sedang mempersiapkan sesuatu dengan Hafsah. Mereka berdua bersepakat untuk bilang kepada nabi bahwa ia mencium sesuatu yang tidak enak setelah pulang dari rumah Zainab.

Setibanya nabi dari rumah Zainab.

'Nabi, aku mencium bau yang tidak sedap dari mulutmu? Apa yang engkau makan saat berada di sana?' tanya Aisyah kepada nabi.

Nabi pun menjawab, 'Wahai Aisyah, aku hanya minum madu. Mana mungkin madu itu menjadikan mulutku berbau?'

Setelah bertemu Aisyah, nabi pun bertemu dengan Hafsah. Tanpa disangka oleh nabi, Hafsah pun mengatakan hal yang sama seperti Aisyah. Mendengar perkataan Hafsah tersebut, nabi masih tetap berkata sama.

'Tidak, wahai Hafsah. Aku hanya minum madu.'

Dari perkataan dua orang istrinya itu, nabi pun merasa bahwa mulutnya memang benar-benar bau. Sehingga nabi pun bersumpah untuk tidak meminum madu tersebut. Sumpah tersebut tidak lain dan tidak bukan hanya untuk membahagiakan kedua istrinya yang tida k suka dengan bau madu. Turunlah Al-Quran At-Tahrim ayat 1:

Ketika Cemburu Melanda Istri Nabi Muhammad SAW
Ketika Cemburu Melanda Istri Nabi Muhammad SAW

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ م� �ا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ تَبْتَغِي مَرْضَاتَ أَزْوَاجِكَ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya, 'Wahai nabi, mengapa engkau mengharamkan sesuatu yang Allah halalkan kepadamu hanya karena ingin mengharap ridha istri-istrimu. Sungguh Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang.'

Bahkan kitab Durarul Mantsur karya As-Suyuthi menyebutkan bahwa ada kisah lain yang menjadi sebab turunnya ayat di atas selain kisah madu, yakni sebagaimana dikutip As-Suyuthi dari An-Nasai melalui riwayat Anas bahwa nabi memiliki seorang budak perempuan dan tidur dengannya. Kemudian hal tersebut diketahui oleh Aisyah dan Hafsah. Karena peristiwa itu, nabi akhirnya mengharamkan diri untuk tidur dengan budak perempuannya. Padahal saat itu hal itu dihalalkan oleh Allah. Dari situ lalu turunlah ayat di atas (At-Tahrim ayat1).

Dari kisah kecemburuan istri-istri nabi ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa kece mburuan adalah sebuah keniscayaan bagi semua manusia tak terkecuali istri-istri Nabi Muhammad SAW. Namun, jangan sampai kecemburuan itu malah menjadi sebab datangnya murka Allah. Hanya karena kecemburuan seorang istri, suami harus melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah. Inilah yang menjadi sebab datangnya murka Allah. Wallahu a'lam. (M Alvin Nur Choironi)

Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/77480/ketika-cemburu-melanda-istri-nabi-muhammad-saw

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...