Langsung ke konten utama

Ketentuan Malam Lailatul Qadar

Ketentuan Malam Lailatul Qadar
Ketentuan Malam Lailatul Qadar

Malam lailatul qadar yang memiliki 1000 keistimewaan itu menjadi misteri bagi setiap hamba yang mencari dan menanti kehadirannya, hanya sedikit orang yang dapat menemukannya, seakan malam lailatul qadar me njadi rahasia Allah SWT semata, dan hanya hamba-hambaNya tertentu yang dikehendaki untuk menemukannya.

Mengenai ketentuan waktu kapan malam qadar itu terjadi, tidak ada ketetapan secara pasti dalam tanggal-tanggal Ramadhan. Akan tetapi kalau dianalisa dan difahami dari surat al-qadar tersebut akan dikaitkan dengan surat al-Baqarah,


ØÙŽÙ‡Ù'ØÙ ØÙŽÙ...ÙŽØÙŽØÙ†ÙŽ ØÙ„ÙŽÙ'ØÙÙ‰ ØÙŽÙ†Ù'ØÙŽÙ„ÙŽ ÙÙÙŠÙ'Ù‡Ù ØÙ„Ù'Ù‚ÙØÙ'ØÙŽÙ†Ù Ù‡ÙØÙ‹Ù‰ للÙÙ'Ù†ÙŽÙ'ØØÙ ÙˆÙŽØÙŽÙŠÙÙ†ÙŽØÙ Ù...ÙÙ†ÙŽ ØÙ„Ù'Ù‡ÙØÙŽÙ‰ ÙˆÙŽØÙ„Ù'ÙÙØÙ'Ù‚ÙŽØÙ†Ù ÙÙŽÙ...ÙŽÙ†Ù' ØÙŽÙ‡ÙØÙŽ Ù...ÙÙ†Ù'ÙƒÙÙ...Ù ØÙ„ØÙŽÙ'Ù‡Ù'ØÙŽ ÙÙŽÙ„Ù'ÙŠÙŽØÙÙ...Ù'Ù‡Ù ÙˆÙŽÙ...ÙŽÙ†Ù' ÙƒÙŽØÙ†ÙŽ Ù...ÙŽØÙÙŠÙ'ØÙ‹Ø ØÙŽÙˆÙ' ØÙŽÙ„ ÙŽÙ‰ ØÙŽÙÙŽØÙ ÙÙŽØÙØÙŽÙ'ØÙ Ù...ÙÙ†Ù' ØÙŽÙŠÙŽÙ'ØÙ...Ù ØÙØÙŽØÙŽ ÙŠÙØÙÙŠÙ'ØÙ ØÙ„له٠ØÙÙƒÙÙ...Ù ØÙ„Ù'ÙŠÙØÙ'ØÙŽ ÙˆÙŽÙ„ÙŽØ ÙŠÙØÙÙŠÙ'ØÙ ØÙÙƒÙÙ...Ù ØÙ„Ù'ØÙØÙ'ØÙŽ ÙˆÙŽÙ„ÙØÙÙƒÙ'Ù...ÙÙ„ÙÙˆÙ'Ø ØÙ„Ù'ØÙØÙŽÙ'ØÙŽ ÙˆÙŽÙ„ÙØÙÙƒÙŽØÙÙ'ØÙÙˆØ ØÙ„لهَ ØÙŽÙ„ÙŽÙ‰ Ù...ÙŽØÙ‡ÙŽØÙŽÙ‰ÙƒÙÙ...Ù' ÙˆÙŽÙ„ÙŽØÙŽÙ„ÙŽÙƒÙÙ...Ù' ØÙŽØÙ'ÙƒÙØÙÙˆÙ'Ù†ÙŽ


(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bula n itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. al-Baqarah, 2: 185)

Tetapi malam lailatul qadar menjadi kesepakatan ulama, bahwa malam istiwema itu ada dalam satu diantra malam-malam bulan Ramadlon, dan pendapat ulama yang kuat mengatakan; malam lailatul qadar itu terjadi salah satu diantara malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir bulan ramadlon (21, 23, 25, 27, dan 29).


ØÙŽÙ†Ù' ØÙŽØØÙØÙŽØÙŽ ØÙŽØÙÙŠÙŽ ØÙ„له٠ØÙŽÙ†Ù'Ù‡ÙŽØ ØÙŽÙ†ÙŽÙ' ØÙŽØÙولَ ØÙ„له٠ØÙŽÙ„ÙŽ Ù'Ù‰ ØÙ„له٠ØÙŽÙ„ÙŽÙŠÙ'Ù‡Ù ÙˆÙŽØÙŽÙ„ÙŽÙ'Ù...ÙŽ Ù‚ÙŽØÙ„ÙŽ ØÙŽØÙŽØÙÙ'ÙˆØ Ù„ÙŽÙŠÙ'Ù„ÙŽØÙŽ ØÙ„Ù'Ù‚ÙŽØÙ'ØÙ ÙÙÙ‰ ØÙ„Ù'ÙˆÙØÙ'ØÙ Ù...ÙÙ†ÙŽ ØÙ„Ù'ØÙŽØÙ'ØÙ ØÙ„Ù'ØÙŽÙˆÙŽØØÙØÙ Ù...ÙÙ†Ù' ØÙŽÙ...ÙŽØÙŽØÙ†ÙŽ


Dari Aisyah r.a, ia menuturkan, 'sesungguhnya Rasulullah s.a.w, bersabda: 'carilah malam qadar pada malam-malam ganjil pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan'. (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari:1878 dan Muslim: 1998)


ØÙÙ„Ù'ØÙŽÙ...ÙØÙÙˆÙ'Ù‡ÙŽØ ÙÙÙ‰ ØÙ„Ù'ØÙŽØÙ'ØÙ ØÙ„Ù'ØÙŽÙˆÙŽØØÙØÙ ÙŠÙŽØÙ'Ù†ÙÙŠ Ù„ÙŽÙŠÙ'Ù„ÙŽØÙŽ ØÙ„Ù'Ù‚ÙŽØÙ'ØÙ ÙÙŽØÙÙ†Ù' ØÙŽØÙÙÙŽ ØÙŽØÙŽØÙÙƒÙÙ...Ù' ØÙŽÙˆÙ' ØÙŽØÙŽØÙ Ž ÙÙŽÙ„ÙŽØ ÙŠÙØÙ'Ù„ÙŽØÙŽÙ†ÙŽÙ' ØÙŽÙ„ÙŽÙ‰ ØÙ„ØÙŽÙ'ØÙ'ØÙ ØÙ„Ù'ØÙŽÙˆÙŽØÙ‚ÙÙŠ


'Carilah lailatul qadar pada sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan . bila salah seorang diantaramu merasakan lemah atau lelah, maka jangan kamu kalah dalam mencarinya pada tujuh malam terakhir (bukan Ramadhan)'. (Hadits Shahih, riqayat Muslim: 1989)

Dan diantara pendapat-pendapat di atas yang lebih masyhur adalah malam ke-27 bulan ramadlon itulah turunnya lailatul qadar, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, yang diriwayatkan Imam Ahmad dengan sanad shahih:


ØÙŽÙ†Ù ØØÙ'Ù†Ù ØÙŽÙ...Ù'ØÙ Ù‚ÙŽØÙ„ÙŽ Ù‚ÙŽØÙ„ÙŽ ØÙŽØÙول٠ØÙ„له٠ØÙŽÙ„ÙŽÙ'Ù‰ ØÙ„له٠ØÙŽÙ„ÙŽÙŠÙ'Ù‡Ù ÙˆÙŽ ØÙŽÙ„ÙŽÙ'Ù...ÙŽ : Ù...ÙŽÙ†Ù' Ùƒ� �ŽØÙ†ÙŽ Ù...ÙØÙŽØÙŽØÙÙ'ÙŠÙ'Ù‡ÙŽØ ÙÙŽÙ„Ù'ÙŠÙŽØÙŽØÙŽØÙŽÙ'Ù‡ÙŽØÙÙ‰Ù Ù„ÙŽÙŠÙ'Ù„ÙŽØÙ ØÙŽØÙ'ØÙ ÙˆÙŽØÙØÙ'ØÙÙŠÙ'Ù†ÙŽ


Dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW, bersaabda: barang siapa mencari malam lailatul qadar, maka seyogyanya mencari pada malam ke-27 bulan ramadhan (Hadits Hasan, riwayat Ahmad:4577).

Ubay bin Ka'ab r.a, juga meriwayatkan bahwa malam qadar jatuh pada tanggal 27 Ramadhan:


ØÙŽÙ†Ù' ØÙØÙŽÙŠÙÙ' ØÙ'Ù†Ù ÙƒÙŽØÙ'ØÙ Ù‚ÙŽØÙ„ÙŽ Ù„ÙŽÙŠÙ'Ù„ÙŽØÙ ØÙ„Ù'Ù‚ÙŽØÙ'ØÙ Ù„ÙŽÙŠÙ'Ù„ÙŽØÙ ØÙŽØÙ'ØÙ ÙˆÙŽØÙØÙ'ØÙÙŠÙ'Ù†ÙŽ


Dari Ubay bin Ka'ab r.a, ia berkata: 'malam Qadar adalah malam tanggal 27 (ramadhan)'. (Hadits Hasan, riwayat Ahmad:20265)R iwayat ini didukung pula oleh hadits Zar bin Hubaisy yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:


Ù‚ÙŽØÙ„ÙŽ ØÙØÙŽÙŠÙ' ÙÙÙŠ Ù„ÙŽÙŠÙ'Ù„ÙŽØÙ ØÙ„Ù'Ù‚ÙŽØÙ'ØÙ ÙˆÙŽØÙ„له٠ØÙÙ†ÙÙ'ÙŠ Ù„ÙŽØ ØÙŽØÙ'Ù„ÙŽÙ...ÙÙ‡ÙŽØ Ù‚ÙŽØÙ„ÙŽ ØÙØÙ'ØÙŽØÙ ÙˆÙŽØÙŽÙƒÙ'ØÙŽØÙ ØÙÙ„Ù'Ù...ÙÙŠ Ù‡ÙÙŠÙŽ ØÙŽÙ„Ù„ÙŽÙ'ÙŠÙ'Ù„ÙŽØÙ ØÙ„ÙŽÙ'ØÙÙŠ ØÙŽÙ...ÙŽØÙŽÙ†ÙŽØ ØÙŽØÙول٠ØÙ„له٠ØÙŽÙ„ÙŽÙ'Ù‰ ØÙ„له٠ØÙŽÙ„ÙŽÙŠÙ'Ù‡Ù ÙˆÙŽØÙŽÙ„ÙŽÙ'Ù...ÙŽ ØÙÙ‚ÙÙŠÙŽØÙ...ÙÙ‡ÙŽØ Ù‡ÙÙŠÙŽ Ù„ÙŽÙŠÙ'Ù„ÙŽØÙ ØÙŽØÙ'ØÙ ÙˆÙŽØÙØÙ'ØÙÙŠÙ'Ù†ÙŽ


Ubay bin Ka'ab berkata tentang malam Qadar: 'demi Allah sungguh aku mengetahuinya, syu'bah r.a, berkata: 'pengetahuanku yang paling utama adalah tentang suatu malam yang Rasulullah s.a.w, memerintahkan kepada kami untuk menghidupkannya (malam qadar) adalah malam tanggal 27 (Ramadhan)'. (Hadits Shahih, riwayat Muslim:2000).(Pen. H. Syaifullah Amin / Red. Ulil H)


Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/46216/ketentuan-malam-lailatul-qadar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...