Langsung ke konten utama

Ini Wajah Kaum Awam di Muka Umum Menurut Ibnu Athaillah

Secara umum permintaan manusia terkait maksiat atau kekurangannya terbagi dua. Ada jenis permintaan manusia agar Allah melindunginya dari maksiat. Tetapi ada juga jenis permintaan manusia agar Allah menutupi perbuatan maksiat atau kekurangannya dari pandangan manusia lain. Hal ini disinggung oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam hikmah berikut ini.

Ini Wajah Kaum Awam di Muka Umum Menurut Ibnu Athaillah
Ini Wajah Kaum Awam di Muka Umum Menurut Ibnu Athaillah

الستر على قسمين ستر عن المعصية وستر فيها فالعامة يطلبون من الله تعالى الستر فيها خشية سقوط مرتبتهم عند الخلق

Artinya, 'Tirai itu terdiri atas dua jenis, satu tirai dari maksiat dan dua tirai di dalam maksiat. Orang awam meminta kepada Allah sebuah tirai di dalam maksiat karena takut jatuh wibawa mereka di mata umum.'

Hal ini bisa terjadi karena kaum awam memiliki kepentingan pribadi terhadap publik. Dengan demikian mereka harus menjaga nama baik, citra, wibawa, dan mempertahankan muka mereka di mata khalayak umum sebagaimana disinggung Syekh Syarqawi dalam syarah Al-Hikam-nya.

Ini Wajah Kaum Awam di Muka Umum Menurut Ibnu Athaillah
Ini Wajah Kaum Awam di Muka Umum Menurut Ibnu Athaillah

لعدم تحققهم بحقائق الإيمان يغلب عليهم شهود الخلق ويتوقعون منهم حصول المنافع ود فع المضار فيراءونهم ويتصنعون لهم ويتزينون ويطمعون فيهم ويتملقون بين أيديهم ويكرهون أن يطلعوا منهم على ما تسقط به منزلتهم من قلوبهم ولذا (يطلبون من الله تعالى الستر) لأن يستر عليهم (فيها) فى المعصية أى فى حال كونهم عاملين لها ومستخفين بها ومحبين لها

Artinya, '(Itu terjadi) karena mereka tidak menghayati benar hakikat keimanan di mana mereka lebih tertekan oleh pandangan manusia dan mengharapkan kedatangan manfaat serta penolakan mudharat dari kalangan umum sehingga mereka beramal dengan riya, melakukan sesuatu yang dibuat-buat dan mengada-ada. Mereka menaruh harapan kepada khalayak dan mengambil muka di hadapan umum. Mereka tidak senang kalau khalayak umum melihat kekurangan mereka yang dapat menjatuhkan martabat mereka di muka public. Karena itu mereka meminta kepada Allah agar menutupi maksiat mereka di mana mereka masih aktif, mengecilkan dan menyukai maksiat tersebut,' (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, Indonesia, Daru Kutub Al-Arabiyah, juz I, halaman 99).

Gambaran kalangan awam di hadapan publik ini tampak jelas pada firman Allah berikut ini.

Ini Wajah Kaum Awam di Muka Umum Menurut Ibnu Athaillah
Ini Wajah Kaum Awam di Muka Umum Menurut Ibnu Athaillah

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ

Artinya, 'Mereka bersembunyi dari (pandangan) manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah padahal Dia bersama mereka,' (An-Nisa ayat 108).

Syekh Ibnu Ajibah membawa riwayat hadits qudsi yang menyatakan kecaman Allah atas perilaku kaum awam seperti ini.

Ini Wajah Kaum Awam di Muka Umum Menurut Ibnu Athaillah
Ini Wajah Kaum Awam di Muka Umum Menurut Ibnu Athaillah

وفي بعض الأخبار يقول الله تبارك وتعالى يا عبادي إن كنتم تعتقدون أني لا أراكم فالخلل في إيمانكم وإن كنتم تعتقدون أني أراكم فلم جعلتموني أهون الناظرين إليكم اهـ

Artinya, 'Pada sebagian riwayat, Allah berfirman, 'Hai hamba-Ku, bila kamu sekalian yakin bahwa Aku tak melihatmu, maka imanmu lemah. Tetapi jika kamu yakin bahwa Aku melihatmu, mengapa kamu sekalian menjadikan-Ku sebagai pihak paling lemah dan hina yang memandangmu?'' (Lihat Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam fi Syarhil Hikam, Beirut, Darul Fikr, tanpa tahun, juz II, halaman 194).

Kalau harus menghindari maksiat, kalangan awam melakukannya semata karena melanggengkan citra mereka di muka umum agar mereka tidak kehilangan simpati. Hal ini yang diuraikan oleh Syekh Ahmad Zarruq berikut ini.

Ini Wajah Kaum Awam di Muka Umum Menurut Ibnu Athaillah
Ini Wajah Kaum Awam di Muka Umum Menurut Ibnu Athaillah

قلت: فهم لا يفرون منها أولا وابتداء ولا يرون الفضيحة آخرا وانتهاء ولذلك صح منهم الرياء والتصنع تسترا وتجملا وذلك من قصور همهم ونقص إيمانهم وإذا وجدوها دون فضيحة لم يرجعوا عنها، ثم إذا كان طلبهم للستر فرارهم من ذلك شفقة على عباد الله من الوقيعة

Artinya, 'Bagi saya, mereka sejak awal takkan menjauh dari maksiat. Sedangkan pada ujungnya mereka juga menganggap keburukan maksiatnya takkan terkuak. Karena itu wajar sekali mereka beramal dengan riya dan dibuat-buat sebagai upaya untuk menutup-tutupi dan memoles citra mereka. Hal ini terjadi karena kelemahan semangat dan kekurangan iman mereka. Bila mereka merasa kemaksiatan itu tidak terungkap publik, mereka tidak juga bertobat. Kalau pun mereka meminta kepada Allah agar terjaga dari maksiat, maka penjauhan mereka atas maksiat itu semata bertujuan untuk menarik simpati publik demi kepentingan-kepentingan pribadi mereka,' (Lihat Syekh Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 118-119).

Semua uraian ini bukan alasan kita untuk berhenti ibadah. Uraian ini merupakan koreksi atas keseharian kita yang penuh kepura-puraan. Wallahu a'lam. (Alhafiz K)

Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/81441/ini-wajah-kaum-awam-di-muka-umum-menurut-ibnu-athaillah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...