Langsung ke konten utama

Ini Tanda Orang-orang Merdeka Menurut Ibnu Athaillah

Ketenangan batin memang tidak pandang warna kulit atau kelas sosial. Ia bisa saja dialami oleh mereka yang kaya atau miskin, orang desa atau orang kota, orang tua maupun muda. Ketenangan batin ini dialami oleh mereka yang tidak memiliki keinginan apapun sehingga jiwanya merdeka bebas dari belenggu keinginan dan ambisi tersebut sebagai disebut Syekh Ibnu Athaillah pada hikmah berikut ini.

Ini Tanda Orang-orang Merdeka Menurut Ibnu Athaillah
Ini Tanda Orang-orang Merdeka Menurut Ibnu Athaillah

أنت حر مما أنت عنه آيس وعبد لما أنت له طامع

Artinya, 'Kau bebas merdeka dari sesuatu yang kauputus asa. Tetapi kau menghamba pada sesuatu yang kauharapkan.'

Bagi mereka yang sedang menempuh jalan menuju Allah, keinginan yang diawali dengan menaruh harapan kepada sesuatu merupakan bahaya besar. Harapan atas sesuatu menyandera batin mereka sehingga mereka hanya terpaku pada keinginannya seperti disinggung Syekh Zarruq berikut ini.

Ini Tanda Orang-orang Merdeka Menurut Ibnu Athaillah
Ini Tanda Orang-orang Merdeka Menurut Ibnu Athaillah

قلت: لأن ما أنت له طامع آخذ بقلبك فأنت له بكلك، وما أنت عنه آيس أنت عنه معرض بقلبك فليس له شىء من وجودك...قال فى التنوير وتفقد وجود الورع من نفسك أكثر مما تتفقد سواه، وتطهر من الطمع فى الخلق، فلو تطهر ا لطامع فيهم بسبعة أبحر ما طهره إلا اليأس منهم ورفع الهمة عنهم. ثم ذكر حكاية على كرم الله وجهه وقول الحسن له: فساد الدين الطمع وصلاح الدين الورع.

Artinya, 'Buat saya, hal itu terjadi karena sesuatu yang kauharapkan itu memenjara hatimu sehingga kau mengabdi sepenuhnya untuk itu. Tetapi terhadap sesuatu yang kauputus asa, hatimu tentu berpaling sehingga tak satupun organmu melekat padanya.

Syekh Ibnu Athaillah berkata di kitab At-Tanwir, 'Temukanlah kewara'an pada dirimu melebihi apapun pencarianmu selain wara'. Sucikan dirimu dari harap kepada makhluk (thama'). Kalau saja orang yang menaruh harapan kepada makhluk mencoba bersuci di tujuh laut, niscaya hal itu percuma kecuali kalau ia menanggalkan harapnya dari makhluk dan mengangkat orientasinya jauh dari mereka.'

Syekh Ibnu Athaillah juga meng utip pernyataan Sayyidina Ali RA dan Al-Hasan Al-Bashri, 'Sebab kerusakan agama seseorang adalah thama' (harap kepada makhluk). Sebab kesalehan agama seseorang adalah wara','' (Lihat Syekh Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 70).

Lebih jauh Syekh Ibnu Abbad menjelaskan bahwa menaruh harapan dapat dipahami sebagai sebuah cinta dan keinginan kuat untuk mewujudkannya. Ini yang dihindari kalangan sufi. Mereka lebih memilih wara'. Mereka tidak mengejar kekayaan karena memang tidak ingin kekayaan. Mereka hanya bermuamalah sewajarnya menurut tuntunan syari tanpa mengorbankan dan merugikan orang lain.

Kalangan sufi juga tidak mengejar kekuasaan apalagi dengan cara-cara kotor. Mereka hidup seperti biasa. Diberi amanah kekuasaan, alhamdulillah. Kalau sudah berkuasa, juga tidak berusaha melanggengkan kuasanya. Kalau pun harus turun di tengah jalan seperti Gu s Dur (Allah yarhamuh), ya tinggal turun. Kalau pun tidak berkuasa, tidak lantas frustasi lalu anarki mengganggu ketertiban umum. Mereka orang-orang merdeka dari segala kaitan duniawi.

Ini Tanda Orang-orang Merdeka Menurut Ibnu Athaillah
Ini Tanda Or ang-orang Merdeka Menurut Ibnu Athaillah

الطمع في الشىء دليل على الحب له وفرط الاحتياج الى نيله وذلك عبودية له كما أن اليأس من الشىء دليل على فراغ القلب منه وغناه عنه وذلك حرية منه فالطامع عبد واليائس حر

Artinya, 'Menaruh harapan kepada sesuatu adalah tanda mencintainya dan tanda sangat berhajat untuk menggapainya. Sampai sini seseorang sudah menghamba kepadanya. Demikian halnya putus asa atas sesuatu adalah tanda kekosongan hati dan kekayaan hati darinya. Sampai sini orang merdeka darinya. Orang yang berharap itu hamba. Mereka yang putus asa itu adalah orang merdeka,' (Lihat Syekh Ibnu Abbad, Syarhul Hikam, Semarang, Makatabah Al-Munawwir, juz I, halaman 49).

Hikmah Ibnu Athaillah ini jangan disalahpahami sebagai upaya melem ahkan semangat untuk berprestasi dan mengejar capaian-capaian tertentu. Hikmah ini merupakan peringatan bagi mereka yang menghamba kepada selain Allah seperti kekayaan, kekuasaan, jabatan, pencitraan, dan lain sebagainya.

Hikmah ini peringatan bagi mereka yang menganggap selain Allah segalanya dalam hidup sehingga harus dikejar meski dengan jalan kotor dan jalan merugikan banyak orang. Hikmah ini mengingatkan mereka yang tersandera keinginan lalu menghambakan diri pada keinginan dan harapannya sehingga mereka dipermainkan oleh keinginannya sendiri. Wallahu a'lam. (Alhafiz K)

Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/81949/ini-tanda-orang-orang-merdeka-menurut-ibnu-athaillah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...