Langsung ke konten utama

Ini Pilihan Metode untuk Khatamkan Al-Quran


Tadarus Al-Quran adalah suatu kegiatan yang lazim dilakukan oleh seluruh Muslim, khususnya di bulan Ramadhan. Bagi beberapa orang, Ramadhan adalah bulan tadarus. Mereka berlomba-lomba untuk mengisi hari-hari Ramadhan dengan kegiatan yang bermanfaat, yaitu mengkhatamkan Al-Quran.

Beberapa ulama seperti Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi, Abu Bakar bin 'Ayyasy, dan beberapa ulama yang lain telah membuat rumusan jitu untuk segenap umat Islam agar bisa mengkhatamkan Al-Quran sesuai dengan waktu yang ia miliki.

Dengan rumusan-rumusan ini diharapkan semua orang bisa tetap membaca Al-Quran setiap hari khususnya bagi orang-orang yang sangat sibuk. Berikut rumusan-rumusan para ulama yang bisa dipilih sesuai dengan waktu yang dimiliki.

Mengkhatamkan Al-Quran dalam Waktu 7 Hari (Metode Famy Bi Syawqin)
Muslim yang memiliki waktu cukup longgar untuk tadarus Al-Quran di bulan Ramadhan bisa memilih metode ini.

Dengan menggunakan metode ini, setiap orang bisa mengkhatamkan Al-Quran dalam waktu tujuh hari (sepekan).

Caranya dengan menggunakan metode Famy Bi Syawqin.
Fa, untuk hari pertama membaca Surat Al-Fatihah hingga akhir Surat An-Nisa.
Mim, untuk hari kedua membaca Surat Al-Maidah hingga akhir Surat Att-Taubah.
Ya, untuk hari ketiga membaca Surat Yunus hingga akhir Surat An-Nahl.

Ini Pilihan Metode untuk Khatamkan Al-Quran
Ini Pilihan Metode untuk Khatamkan Al-Quran

Ba, untuk hari keempat membaca Surat Al-Isra/Bani Israil hingga akhir Surat Al-Furqan.
Sya, untuk hari kelima membaca Surat Asy-Syu'ara hingga akhir Surat Yasin.
Wawu, untuk hari keenam membaca Surat Ash-Shafat hingga akhir Surat Al-Hujurat.
Qaf, untuk hari ketujuh membaca Surat Qaf hingga akhir Surat An-Nas.
Jika hal ini dilakukan, maka pembaca akan mampu mengkhatamkan Al-Quran selama empat kali dalam sebulan.

Mengkhatamkan Al-Quran dengan Metode 30 Juz
Dengan metode ini, seseorang bisa mengkhatamkan Al-Quran dalam waktu satu hari, yakni dengan membaca 30 juz Al-Quran dalam waktu satu hari, mulai pagi hingga malam atau 30 hari dengan membaca satu juz setiap hari dalam waktu sebulan.

Mengkhatamkan Al-Quran dengan Metode Hizb
Dengan metode hizb ini, seseorang bisa mengkhatamkan Al-Quran selama dua bulan. Karena setiap juz terdapat dua hizb, sehingga jika dihitung maka setiap hari, seseorang bisa membaca satu hizb. Hizb ini biasanya bisa kita temukan dalam Mushaf Madinah atau mushaf-mushaf terbaru Indonesia yang ditulis ala Mushaf Bahriyah dan telah distandardisasi oleh Lajnah Pentashih Mushaf. Hizb biasanya ditandai dengan tulisan hizb berbahasa arab (الحزب) di bagian samping mushaf.

Menghatamkan Al-Quran dengan Metode Tsumun
Para ulama juga membagi setiap hizb menjadi empat bagian. Setiap juz memiliki depalan bagian (tsumun). Pembagian ini diharapkan agar seseorang bisa menghatamkan Al-Quran dalam kurun waktu delapan bulan. Tandanya biasanya menggunakan angka , , dan di atas tulisan hizb yang artinya ar-Rub' (seperempat), an-Nisf (seperdua), dan as-Salasah (tiga perempat).

Selain itu, dengan pembagian tsumun ini juga setiap orang bisa menghatamkan Al-Quran selama sebulan melalui rakaat shalat. Caranya, setiap raka'at pertama dan kedua membaca Al-Quran sebanyak dua tsumun. Jika setiap hari terdapat lima kali waktu shalat, maka secara otomatis orang tersebut telah membaca 10 tsumun setiap harinya atau setara dengan 1 juz sehingga dalam waktu kurang dari satu bulan bisa mengkhatamkan Al-Quran.

Mengkhatamkan Al-Quran dengan Metode Ruku'
Metode ini adalah metode paling mudah dan diperuntukkan untuk orang-orang yang sangat sibuk. Mer eka tidak memiliki cukup waktu untuk membaca Al-Quran. Ruku' biasanya ditandai dengan huruf 'ain (ع) di bagian samping mushaf. Dengan metode ini sesibuk apapun seseorang tetap bisa membaca Al-Quran.

Jumlah ruku' dalam Al-Quran sebanyak 554 ruku'. Surat yang panjang biasanya berisi beberapa ruku', sedang surat yang pendek hanya berisi satu ruku'. Sehingga jika dijumlahkan, maka orang tersebut bisa menghatamkan Al-Quran dalam kurun waktu sekitar 18 bulan setengah. Itupun jika orang tersebut mau istiqamah membaca Al-Quran setiap hari.

Metode-metode di atas adalah usaha para ulama agar semua orang bisa istiqamah membaca Al-Quran di tengah berbagai kesibukan. Siapapun bisa memilih metode mana yang mampu digunakan. Asalkan penggunaan metode tersebut bisa dilaksanakan secara istiqamah.

Dengan metode-metode tersebut tidak ada seorangpun yang masih tidak membaca Al-Quran dengan alasan kesibukan. Wallahu a'lam. (M Alvin Nur Choironi)

Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/78061/ini-pilihan-metode-untuk-khatamkan-al-quran

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...