Langsung ke konten utama

Ini Kekhawatiran Orang-orang Saleh Menurut Ibnu Athaillah


Kelompok khawash (hamba-hamba pilihan Allah) selalu waspada dalam menjaga diri. Mereka selalu berusaha menjauh dari larangan-larangan Allah lahir dan batin. Di samping itu, mereka juga memohon perlindungan Allah agar tidak terperosok dalam kubangan larangan-Nya.

Hal ini yang benar-benar diperhatikan oleh kalangan khawash sebagai disinggung oleh Ibnu Athaillah dalam hikmah berikut ini.

Ini Kekhawatiran Orang-orang Saleh Menurut Ibn   u Athaillah
Ini Kekhawatiran Orang-orang Saleh Menurut Ibnu Athaillah


والخاصة يطلبون من الله الستر عنها خشية سقوطهم من نظر الملك الحق

Artinya, 'Kelompok khawas (hamba-hamba pilihan setingkat di atas kalangan awam) meminta Allah agar menjauhi mereka dari maksiat karena takut martabat mereka di mata Allah SWT.'

Mereka tidak peduli pada pandangan manusia. Mereka hanya memerhatikan pandangan Allah SWT. Mereka khawatir kehilangan harga diri di hadapan-Nya karena mereka yakin bahwa Allah mengetahui segala perilaku mereka baik di depan umum maupun di belakang publik sebagai tercantum pada ayat berikut ini.

Ini Kekhawatiran Orang-orang Saleh Menurut Ibnu Athaillah
Ini Kekhawatiran Orang-orang Saleh Menurut Ibnu Athaillah

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

Artinya, 'Dia (Allah) mengetahui pandangan mata khianat dan apa yang te rsembunyi di dalam dada,' (Surat Ghafir ayat 19).

Berbeda dari kalangan awam yang selalu menjaga diri agar tidak kehilangan muka di hadapan manusia, kalangan khawash lebih tertarik pada pandangan Allah. Mereka tidak peduli pada pandangan umum. Bagi mereka, pandangan Allah itu segalanya. Mereka khawatir kehilangan harga diri di hadapan Allah.

Sifat kalangan awam sendiri sudah dibahas. Silakan baca artikel pada link ini:

Ini    Kekhawatiran Orang-orang Saleh Menurut Ibnu Athaillah
Ini Kekhawatiran Orang-orang Saleh Menurut Ibnu Athaillah

Ini Wajah Kaum Awam di Muka Umum Menurut Ibnu Athaillah

Ini Kekhawatiran Orang-orang Saleh Menurut Ibnu Athaillah
Ini Kekhawatiran Orang-orang Saleh Menurut Ibnu Athaillah


والخاصة) لتحققهم بحقائق الإيمان برآء من الوصف الذميم لا يلتفتون الى الخلق مدحا ولا ذما ولا يتوقعون منهم نفعا ولا ضرا ولا يعتمدون عليهم ولا يسكنون اليهم وحالهم انما هو القناعة بنظر الله اليهم

Artinya, 'Kelompok khawash (menuntut demikian) karena mereka menghayati hakikat keimanan di mana mereka terlepas dari sifat tercela. Mereka tak memandang pujian dan celaan manusia. Mereka juga tak mengharapkan datangnya manfaat dan pencegahan mudharat dari orang la in. Mereka tak bersandar dan bertopang kepada makhluk. Mereka menjadi seperti itu karena merasa cukup dengan pandangan Allah atas diri mereka,' (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, juz I, halaman 99).

Adapun kalangan khawashul khawash (hamba-hamba Allah di atas kelompok khawash) lebih memilih pasrah pada ketentuan Allah sebagai qudrah atau kuasa Ilahi. Mereka tidak berdoa agar Allah menutupi pandangan manusia dari maksiat dan kekurangan mereka. Mereka juga tidak meminta Allah menjauhi diri mereka dari maksiat itu sendiri. Bagi mereka, hidup itu mengalir saja mengikuti ke mana gerak kuasa Ilahi mengarahkan mereka tentu dengan menjaga adab di hadapan Allah sesuai tuntunan syariat Nabi Muhammad SAW.

Ini Kekhawatiran Orang-orang Saleh Menurut Ibnu Athaillah
Ini Kekhawatiran Orang-orang Saleh Menurut Ibnu Athaillah

وأما خاصة الخاصة فلا يطلبون شيئا ولا يخافون من شئ صارت الأشياء عندهم شيئاً واحداً واستغنوا بشهود واحد عن كل واحد فهم ينظرون ما يبرز من عنصر القدرة فيتلقونه بالقبول والرضي فإن � �ان طاعة شهدوا فيها المنة وإن كان معصية شهدوا فيها القهرية وتأدبوا مع الله فيها بالتوبة والانكسار قياماً بأدب شريعة النبي المختار صلى الله عليه وسلم وقد وردت أحاديث في المقامات الثلاثة تعليماً للامة فقد دعا عليه السلام بالستر على المساوى ومنها وهي العصمة والحفظ وطلب مقام الرضا والتسليم لأحكام الله القهرية كل ذلك منشور في كتب الأحاديث فلا نطيل به ثم إذا ستر الحق تعالى مساويك وذنوبك ثم توجه الناس إليك بالتعظيم والمجد والتكريم فاعرف منة الله عليك وانظر من الممدوح في الحقيقة هل أنت أو من ستر مساويك

Artinya, 'Sedangkan kalangan khawashul khawash (hamba-hamba pilihan di atas kelompok khawash) tidak menuntut dan tidak takut pada apapun. Bagi mereka, semua itu sama saja. Tercukupi oleh pandangan Allah, mereka tidak perlu pandangan lainnya. Mereka memandang unsur qudrah Allah yang tampak, lalu menerimanya dengan tulus dan ridha. Jika qudrah itu berupa ketaatan, mereka memandangnya sebagai karunia dari Allah. Jika qudrah itu berupa maksiat, mereka memandangnya sebagai kuasa Allah di mana mereka menjalani adab kepada-Nya dalam bentuk pertobatan dan kerendahan hati demi menjalankan syariat Nabi Muhammad SAW. Banyak hadits menyebutkan tiga maqam manusia sebagai pelajaran bagi umat Islam. Rasulullah SAW pernah berdoa agar Allah menutupi kesalahannya. Rasul juga pernah berdoa agar Allah menjauhinya dari maksiat; ini yang disebut maqam makshum dan mahfuzh. Tetapi Rasul juga meminta maqam ridha dan pasrah pada kuasa ketentuan-Nya. Semua itu sudah tersebar di kitab-kitab hadits. Kami tidak perlu mengulang penyebutannya. Jadi, ketika Allah menutupi kekurangan dan dosamu, dan manusia memandangmu dengan hormat, takzim, dan agung, maka sadarilah bahwa fenomena itu adalah karunia Allah dan perhatikanlah yang dipuji hakikatnya itu siapa; kamu atau Allah yang menutupi dosamu dari pandangan manusia?' (Lihat Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam fi Syarhil Hikam, Beirut, Darul Fikr, juz II, halaman 194-195).

Dibandingkan kalangan khawash, jumlah kalangan khawashul khawash lebih sedikit. Sudah barang tentu jumlah kedua kalangan ini tidak lebih banyak dibandingkan kalangan awam yang lebih senang menyembunyikan dosa dan kekurangannya dari pandangan manusia. Wallahu a'lam. (Alhafiz K)

Ini Kekhawatiran Orang-orang Saleh Menurut Ibnu Athaillah
Ini Kekhawatiran Orang-orang Saleh Menurut Ibnu Athaillah


Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/81547/ini-kekhawatiran-orang-orang-saleh-menurut-ibnu-athaillah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...