Langsung ke konten utama

Ini Jalan Tak Terduga Menuju Allah Menurut Ibnu Athaillah

Sebagian orang yang bangga atas amal ibadahnya. Mereka sangat percaya diri dengan amal ibadahnya sehingga tidak berhajat lagi kepada Allah. Tetapi ada sebagian manusia yang kehilangan harga diri di hadapan Allah karena terperosok ke satu lubang dosa. Ia kemudian berusaha bangkit dari keterpurukannya itu dengan memohon ampunan-Nya dan berusaha memperbaiki diri serta menyadari dirinya sebagai manusia adalah makhluk yang dhaif di hadapan kuasa Allah.

Ini Jalan Tak Terduga Menuju Allah Menurut Ibnu Athaillah
Ini Jalan Tak Terduga Menuju Allah Menurut Ibnu Athaillah

ربما فتح لك باب الطاعة وما فتح لك باب القبول وربما قضى عليك بالذنب فكان سبباً في الوصول

Artinya, 'Kerapkali Allah membuka pintu ketaatan untukmu, tetapi tidak membukakan pintu penerimaannya. Namun terkadang Dia menakdirkanmu sebuah dosa, dan itu menjadi wasilahmu sampai ke hadirat-Nya.'

Bagaimana maksud hikmah dari Syekh Ibnu Athaillah ini? Syekh Syarqawi mencoba memahami catatan Syekh Ibnu Athaillah dengan uraian berikut ini.

Ini Jalan Tak Terduga Menuju Allah Menurut Ibnu Athaillah
Ini Jalan Tak Terduga Menuju Allah Menurut Ibnu Athaillah

ذلك أن الطاعة قد تقارنها آفات قادحة في الإخلاص فيها كالإعجاب بها واعتماد عليها واحتقار من لم يفعلها وذلك مانع من قبولها. والذنب قد يق� �رنه الالتجاء الى الله الاعتذار إليه واحتقار نفسه وتعظيم من لم يفعله فيكون ذلك سبباً فى مغفرة الله له ووصوله اليه

Artinya, 'Itu terjadi karena ketaatan kita kerapkali disertai dengan bencana yang mencederai keikhlasan seperti takjub atas amal, pengandalan amal, perendahan (dalam hati) terhadap orang yang tidak mengamalkan ketaatan itu. Ini mencegah penerimaan amal. Sementara dosa seseorang yang disertai dengan penyandaran diri dan permohonan ampunan kepada Allah, perendahan terhadap diri sendiri, dan penghormatan terhadap mereka yang tidak melakukannya, menjadi sebab datangnya maghfirah dan wasilahnya sampai ke hadirat-Allah,' (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, Indonesia, Daru Ihaya'il Kutubil Arabiyah, juz I, halaman 72).

Bagi Syekh Syarqawi, amal ibadah bukan sekadar lahir. Amal ibadah mencakup lahir dan batin. Artinya , ketika seseorang melakukan shalat, puasa, zakat, haji, atau umrah, maka batinnya juga harus ikut beribadah dalam bentuk penahanan diri dari sifat tercela yaitu ujub, tinggi hati, dan merendahkan orang lain yang tidak mengamalkan ibadah itu. Orang yang beribadah secara lahiriyah saja belum sampai kepada Allah seperti keterangan Syekh Zarruq berikut ini.

Ini Jalan Tak Terduga Menuju Allah Menurut Ibnu Athaillah
Ini Jalan Tak Terduga Menuju Allah Menurut Ibnu Athaillah

قلت: الطاعة عطاء، وعدم القبول منع مصحوب بعطاء، بل عطاء مصحوب بمنع فعاد منعا إذ لا عبرة بعمل لا قبول فيه

Artinya, 'Bagi saya, amal ketaatan itu adalah sebuah anugerah Allah. Sedangkan penolakan Allah atas amal itu adalah bentuk penahanan-Nya yang disertai anugerah. Tetapi anugerah yang disertai penolakan berubah menjadi penahanan karena apalah artinya sebuah amal ketaatan tanpa penerimaan?' (Lihat Syekh Ahmad Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 96).

Di sisi lain, kejatuhan seseorang pada sebuah kesalahan dan maksiat yang membuatnya tak percaya diri di hadapan Al lah dan membuatnya berhenti dari penghinaan terhadap orang lain, membuka jalan baru baginya untuk sampai kepada Allah sebagaimana disinggung Syekh Burhanuddin Al-Hanafi berikut ini.

Ini Jalan Tak Terduga Menuju Allah Menurut Ibnu Athaillah
Ini Jalan Tak Terduga Menuju Allah Menurut Ibnu Ath aillah

وأبلغ منه أن قد يقضي بالذنب ويجعله سببا للوصول لاستغناء صاحب الطاعة وإدلاله بها عليه وافتقار صاحب المعصية وإذلاله بها بين يديه لأن مهر تجليات عرائس الأبكار الفاقة والذل والانكسار فتأمل هذا النوال

Artinya, 'Lebih dari itu, Allah menakdirkanmu sebuah dosa dan menjadikannya sebagai wasilah bagimu untuk sampai di hadirat-Nya karena kesombongan dan pamer orang yang beramal kepada Allah, kefakiran orang yang bermaksiat dan perendahan diri di hadapan-Nya. pasalnya, mahar atas penampakan pengantin-pengantin perawan itu adalah kefakiran, kerendahan, dan tak punya kepercayaan diri (di hadapan-Nya). Renungkanlah bagian ini,' (Lihat Syekh Burhanuddin Al-Hanafi As-Syadzili, Ihkamul Hikam fi Syarhil Hikam, Beir ut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2008 M/1429 H, halaman 77).

Penting untuk dicatat bahwa uraian ini jangan dipahami sebagai anjuran untuk berhenti beribadah secara lahiriah atau anjuran untuk berbuat dosa. Uraian ini merupakan buah perenungan Syekh Ibnu Athaillah sebagai koreksi atas sebagian dari kita yang tidak lagi membutuhkan rahmat Allah dan menjadi tinggi hati bahkan cenderung memandang rendah mereka yang tidak beramal seperti kita.

Pada hikmah ini Syekh Ibnu Athaillah mendorong kita untuk menyempurnakan ibadah lahir dengan ibadah batin. Murid Syekh Abul Abbas Al-Mursi ini mengajak kita semua untuk merendahkan diri di hadapan Allah, memperbaiki diri, menghargai orang lain, dan memandang mereka dengan pandangan rahmat. Wallahu a'lam. (Alhafiz K)

Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/81581/ini-jalan-tak-terduga-menuju-allah-menurut-ibnu-athaillah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...