Langsung ke konten utama

Ini Cara Angkat Tangan saat Doa Qunut Nazilah

Pembacaan qunut nazilah disunahkan saat umat Islam mengalami bencana alam atau bencana kemanusiaan. Qunut nazilah–sebagaimana dimaklum–dibaca setelah doa i'tidal pada rakaat terakhir di setiap shalat wajib lima waktu. Qunut nazilah tidak disunahkan lagi ketika bencana yang dialami umat Islam juga surut.

Qunut nazilah disunahkan dibaca ketika shalat wajib sendiri atau shalat wajib berjamaah. Pada saat membacanya, kita dianjurkan untuk menengadahkan tangan ke langit.

Pada saat doa berisi permohonan atas kebaikan untuk umat Islam maka, kita dianjurkan untuk menghadapkan kedua telapak tangan ke langit. Tetapi pada saat doa berisi permohonan keburukan untuk para penganiaya umat Islam atau berisi permohonan pelemahan pihak mereka, maka kedua telapak tangan dihadapkan ke bumi.

Ini Cara Angkat Tangan saat Doa Qunut Nazilah
Ini Cara Angkat Tangan saat Doa Qunut Nazilah

ويسن رفع يديه في القنوت ويجعل بطنهما لجهة السماء عند طلب تحصيل الخير وظهرهما له عند طلب رفع الشر وهكذا سائر الأدعية ولا يسن مسح الوجه عقب الدعاء في الصلاة بل الأولى تركه بخلافه خارج ها

Artinya, 'Sunah mengangkat kedua tangan dalam qunut (nazilah) dengan menghadapkan kedua telapak tangan ke langit saat meminta kebaikan dan membalik kedua telapak tangan hingga mengarah ke bumi saat berdoa tolak bala. Hal ini berlaku pada semua doa. Tidak disunahkan mengusap muka setelah doa di dalam shalat. Afdhalnya justru tidak mengusap muka ketika shalat, lain soal kalau di luar shalat,' (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1999 M/1420 H, juz I, halaman 314).

Sebagai catatan terakhir, setelah membaca doa qunut kita tidak dianjurkan bahkan dimakruh mengusah wajah. Pada prinsipnya, mengusap wajah (setelah doa) di dalam shalat dimakruh. Lain soal kalau di luar shalat. Kalau di luar shalat, kita dianjurkan untuk mengusap wajah setelah berdoa. Wallahu a'lam. (Alhafiz K)

Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/79942/ini-cara-angkat-tangan-saat-doa-qunut-nazilah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...