Langsung ke konten utama

Hidangan dan Makanan dalam Upacara Kematian (Ta’ziyah)

Hidangan dan Makanan dalam Upacara Kematian (Ta’ziyah)
Hidangan dan Makanan dalam Upacara Kematian (Ta’ziyah)


Menghormati tamu memang dianjurkan dalam Islam. Bahkan dalam salah satu hadits disebutkan bahwa menghormati tamu merupakan artikulasi keimanan seseorang.


ØÙ† ØØÙŠ Ù‡ØÙŠØØ ØØÙŠ ØÙ„له ØÙ†Ù‡ ØÙ† ØØÙˆÙ„ ØÙ„له ØÙ„Ù‰ ØÙ„له ØÙ„يه ÙˆØÙ„Ù... Ù‚ØÙ„ : Ù...Ù† ÙƒØÙ† ÙŠØÙ...Ù† ØØÙ„Ù„Ù‡ ÙˆØÙ„يوÙ... ØÙ„ØØØ Ùليقل ØÙŠØØÙ‹ ØÙˆ ليØÙ...Ø , ÙˆÙ...Ù† ÙƒØÙ† يوÙ... ØØÙ„Ù„Ù‡ ÙˆØÙ„يوÙ... ØÙ„ØØØ ÙليكØÙ... ØØØÙ‡ , ÙˆÙ...Ù† ÙƒØÙ† ÙŠØÙ...Ù† ØØÙ„Ù„Ù‡ ÙˆØÙ„يوÙ... ØÙ„ØØØ ÙليكØÙ... ØÙŠÙÙ‡

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam telah bersabda : 'Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya'. [Bukhari no. 6018, Muslim no. 47]

Bagaimana jika seorang tamu berkunjung dengan niatan berta'ziyah ikut berbela sungkawa karena kematian seorang anggota keluarga? Tentunya tata cara penghormatannya juga harus disesuaikan dengan kondisi yang ada. Karena situasinya sedang berkabung, maka menghormati tamu hendaknya dilakukan dengan penuh kesederhanaan dan keperhatinan. Berbeda dengan menjamu tamu ketika berpesta (walimatul urusy atau walimatul khitan).

Namun tradisi yang telah berkembang di sebagian masyarakat justru sebaliknya. Mereka membuat acara berkabung ini dengan semacam pesta; dengan menyembelih sapi, atau kerbau ataupun dengan memasak makanan dalam porsi yang besar. Sehingga keadaan duka itu tidak terasa lagi, bahkan hilang sama sekali. Hal ini menyebabkan fungsi ta'ziyah sebagai salah satu wahana pengingat mati (tadzkiratul maut), dengan harapan meningkatkan ketaqwaan tidak tercapai. Bahkan dapat membebani keluarga sohibul mushibah (yang ditinggal mati), lebih-lebih jika sohibul mushibah itu keluarga yang kurang mampu.

Begitu juga dengan berbagai macam suguhan yang dihidangkan ketika tahlil selama seminggu. Sesungguhnya hal itu tidak merupakan kewajiban dan tidak pula sebuah keharusan. Hal ini perlu dipahami karena seringnya masyarakat menyeleggarakan telung dino (tradisi memperingati hari ketiga dari kematian) atau mitung dino (tradisi memperingati hari ke tujuh dari kematian) dengan berbagai macam makanan dan jajanan.

Oleh karena itu hal ini perlu diluruskan kembali, bahwasannya berbagai macam tradisi peringatan kematian itu adalah anjuran syari'at Islam. Akan tetapi berbagai macam makanan dan sesuguhan itu yang selalu dihadirkan bersa maan denga tradisi tersebut adalah bentuk dari perkembangan tradisi dan harus dipilah-pilah lagi. Apabila salah memahami bisa-bisa jatuh pada hukum makruh yang harus dihindari. Misalkan keyakinan bahwa menyuguhkan hidangan/makanan dalam ta'ziyah atau nelung dino juga mitung dino dengan harus pada hari ketiga atau ke-tujuh dan tidak boleh pada selain hari itu, hukumnya bisa menjadi makruh.Meskipun hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala sedekah itu, hendaknya keyakinan semacam itu didudukkan pada tempatnya.

Hal ini persis dengan yang digambarkan oleh Ibnu Hajar dalam Al-Fatati tamuwal Kubra al-Fiqhiyah:


(ÙˆÙŽØÙØÙÙ„ÙŽ) ØÙŽØÙŽØØÙŽÙ‡Ù ØÙ„له٠ØÙŽÙ„ÙŽÙŠÙ'Ù†ÙŽØ Ù...ÙÙ†Ù' ØÙŽØÙŽÙƒÙŽØØÙÙ‡Ù ØÙŽÙ...ÙŽÙ'Ø ÙŠÙØÙ'ØÙŽØÙ Ù...ÙÙ†ÙŽ ØÙ„Ù†ÙŽÙ'ØÙŽÙ...Ù ÙˆÙŽ ÙŠÙØÙ'Ù...ÙŽÙ� ��Ù Ù...ÙŽØÙŽ Ù...ÙÙ„Ù'ØÙ ØÙŽÙ„Ù'ÙÙŽ ØÙ„Ù'Ù...ÙŽÙŠÙÙ'ØÙ ØÙÙ„ÙŽÙ‰ ØÙ„Ù'Ù...ÙŽÙ‚Ù'ØÙŽØÙŽØÙ ÙˆÙŽ ÙŠÙØÙŽØÙŽØÙŽÙ'Ù‚Ù ØÙÙ‡Ù ØÙŽÙ„ÙŽÙ‰ ØÙ„Ù'ØÙŽÙÙŽÙ'ØØÙÙŠÙ'Ù†ÙŽ ÙÙŽÙ‚ÙŽØÙ' ÙˆÙŽ ØÙŽÙ...ÙŽÙ'Ø ÙŠÙØÙ'Ù...ÙŽÙ„Ù ØÙŽØÙ„ÙØÙŽ Ù...ÙŽÙˆÙ'ØÙÙ‡Ù Ù...ÙÙ†Ù' ØÙŽÙ‡Ù'ÙŠÙØÙŽØÙ ØÙŽÙƒÙ'Ù„Ù ØÙŽÙˆÙ' ØÙØÙ'ØÙŽØÙ...ÙÙ‡Ù Ù„ÙÙ„Ù'ÙÙÙ‚ÙŽØÙŽØØÙ ÙˆÙŽ ØÙŽÙŠÙ'ØÙÙ‡ÙÙ...Ù' ÙˆÙŽ ØÙŽÙ...ÙŽÙ'Ø ÙŠÙØÙ'Ù...ÙŽÙ„Ù ÙŠÙŽÙˆÙ'Ù...ÙŽ ØÙ„ØÙŽÙ'ØØÙØÙ ÙƒÙŽØÙŽÙ„ÙÙƒÙŽ ÙˆÙŽ ØÙŽÙ...ÙŽÙ'Ø ÙŠÙØÙ'Ù...ÙŽÙ„Ù ØÙŽÙ...ÙŽØÙ...ÙŽ ØÙ„ØÙŽÙ'Ù‡Ù'ØÙ Ù...ÙÙ†ÙŽ ØÙ„Ù'ÙƒÙŽØÙ'ÙƒÙ ÙˆÙŽÙŠÙØÙŽØØÙ ØÙÙ‡Ù ØÙŽÙ„ÙŽÙ‰ ØÙÙŠÙÙˆÙ'ØÙ ØÙ� ��Ù†ÙÙ'ØÙŽØØÙ ØÙ„ØÙÙŠ ØÙŽØÙŽØÙ'Ù†ÙŽ ØÙ„Ù'ØÙŽÙ†ÙŽØØÙŽØÙŽ ÙˆÙŽ Ù„ÙŽÙ...Ù' ÙŠÙŽÙ‚Ù'ØÙØÙÙˆÙ'Ø ØÙØÙŽÙ„ÙÙƒÙŽ ØÙÙ„ØÙŽÙ' Ù...ÙÙ‚Ù'ØÙŽØÙŽÙ‰ ØÙŽØØÙŽØÙ ØÙŽÙ‡Ù'Ù„Ù ØÙ„Ù'ØÙÙ„ØÙŽØÙ ØÙŽØÙ‰ÙŽÙ' ØÙŽÙ†ÙŽÙ' Ù...ÙŽÙ†Ù' Ù„ÙŽÙ...Ù' ÙŠÙŽÙÙ'ØÙŽÙ„Ù' ØÙŽÙ„ÙÙƒÙŽ ØÙŽØØÙŽ Ù...ÙŽÙ...Ù'Ù‚ÙÙˆÙ'ØÙ‹Ø ØÙÙ†Ù'ØÙŽ Ù‡ÙÙ...Ù' ØÙŽØÙÙŠÙ'ØÙ‹Ø Ù„ØÙŽ ÙŠÙŽØÙ'ØÙŽØÙÙˆÙ'Ù†ÙŽ ØÙÙ‡Ù ÙˆÙŽ Ù‡ÙŽÙ„Ù' ØÙØÙŽØ Ù‚ÙŽØÙŽØÙÙˆÙ'Ø ØÙØÙŽÙ„ÙÙƒÙŽ ØÙ„Ù'ØÙŽØØÙŽØÙŽ ÙˆÙŽ ØÙ„ØÙŽÙ'ØÙŽØÙŽÙ'Ù‚ÙŽ ÙÙÙŠ ØÙŽÙŠÙ'ØÙ ØÙ„Ù'ØÙŽØÙÙŠÙ'ØÙŽØÙ ØÙŽÙˆÙ' Ù...ÙØÙŽØÙŽÙ'ØÙŽ ØÙ„Ù'ØÙŽØØÙŽØÙ Ù...ÙŽØ ØÙŽØ ÙŠÙŽÙƒÙÙˆÙ'Ù†Ù ØÙ„� �'ØÙÙƒÙ'Ù...Ù ØÙŽÙˆÙŽØØÙ‹Ø ØÙŽÙˆÙ' ØÙŽÙŠÙ'ØÙŽÙ‡Ù. ÙˆÙŽ Ù‡ÙŽÙ„Ù' ÙŠÙÙˆÙ'ØÙŽØÙ Ù...ÙŽØ ØÙØÙÙÙŽ ØÙŽÙ„ÙŽÙ‰ ØÙ†Ù'ØÙØÙŽØØÙ ØÙ„Ù'ÙˆÙŽØÙŽØÙŽØÙŽØÙ ØÙÙ†Ù'ØÙŽ Ù‚ÙØÙ'Ù...ÙŽØÙ ØÙ„ØÙÙ'ØÙ'ÙƒÙŽØÙ ÙˆÙŽ ØÙÙ†Ù' Ù„ÙŽÙ...Ù' ÙŠÙŽØÙ'ØÙŽ ØÙÙ‡Ù ØÙŽØÙ'ØÙÙ‡ÙÙ...Ù' ÙˆÙŽ ØÙŽÙ†Ù ØÙ„Ù'Ù...ÙŽÙŠÙÙ'ØÙ ØÙÙ†Ù'ØÙŽ ØÙŽÙ‡Ù'Ù„Ù ØÙ„Ù...ÙŽÙŠÙÙ'ØÙ ØÙÙ„ÙŽÙ‰ Ù...ÙØÙÙŠÙÙ' ØÙŽÙ‡Ù'ØÙ Ù...ÙÙ†Ù' Ù...ÙŽÙˆÙ'ØÙÙ‡Ù Ù„ÙØÙŽÙ†ÙŽÙ' ØÙŽÙ„ÙÙƒÙŽ ØÙÙ†Ù'ØÙŽÙ‡ÙÙ...Ù' ÙƒÙŽØÙ„Ù'ÙÙŽØÙ'ØÙ Ù...ÙŽØ ØÙÙƒÙ'Ù...ÙÙ‡ÙØŸ (ÙÙŽØÙŽØÙŽØØÙŽ) ØÙÙ‚ÙŽÙˆÙ'Ù„ÙÙ‡Ù ØÙŽÙ...ÙÙŠÙ'ØÙ Ù...ÙŽØ ÙŠÙÙÙ'ØÙŽÙ„Ù Ù...ÙÙ...ÙŽÙ'Ø ØÙÙƒÙØÙŽ ÙÙÙŠ ØÙ„ØÙÙ'ØÙŽØÙ„Ù Ù...ÙÙ†ÙŽ ØÙ„Ù'ØÙØÙŽØÙ ØÙ„Ù'Ù...ÙŽØÙ'Ù...ÙÙˆÙ'Ù...ÙŽØÙ Ù„ÙŽÙƒÙÙ†Ù' Ù„ØÙŽ ØÙØÙ'Ù...ÙŽØÙŽ ÙÙÙŠÙ'Ù‡Ù ØÙÙ„ØÙŽÙ' ØÙÙ†Ù' ÙÙØÙÙ„ÙŽ ØÙŽÙŠÙ'ØÙŒ Ù...ÙÙ†Ù'Ù‡Ù Ù„ÙÙ†ÙŽØÙ'ÙˆÙ Ù†ÙŽØØÙØÙŽØÙ ØÙŽÙˆÙ'ØÙŽØÙŽØØÙ ÙˆÙŽÙ...ÙŽÙ†Ù' Ù‚ÙŽØÙŽØÙŽ ØÙÙÙØÙ'Ù„Ù ØÙŽÙŠÙ'ØÙ Ù...ÙÙ†Ù'Ù‡Ù ØÙŽÙÙŽØÙŽ ØÙŽÙ„Ù'ØÙÙ†ÙŽØÙ ØÙ„Ù'ØÙÙ‡ÙŽÙ'ØÙ„Ù ÙˆÙŽ ØÙŽÙˆÙ'ØÙÙ‡ÙÙ...Ù' ÙÙÙŠ ØÙŽØÙ'ØÙÙ‡Ù ØÙØÙŽØÙŽØÙ ØÙ„ØÙŽÙ'ØÙ'ÙƒÙ. ÙŠØÙ'ØÙŽÙ‰ ØÙŽÙ†Ù' ÙŠÙŽÙƒÙ'ØÙŽØÙŽ Ù„ÙŽÙ‡Ù ØÙŽÙˆÙŽØØÙ ØÙŽÙ„ÙÙƒÙŽ ØÙŽØÙ'ØÙ‹Ø Ù...ÙŽÙ†Ù' ØÙŽÙ...Ù'ØÙÙ‡Ù ØÙŽÙ„ÙŽÙ'Ù‰ ØÙ„له٠ØÙŽÙ„ÙŽÙŠÙ'Ù‡Ù ÙˆÙŽ ØÙŽÙ„ÙŽÙ'Ù ...ÙŽ Ù...ÙŽÙ†Ù' ØÙŽØÙ'ØÙŽØÙŽ ÙÙÙŠ ØÙ„ØÙŽÙ'Ù„ØÙŽØÙ ØÙÙˆÙŽØÙ'ØÙ ÙŠÙŽØÙÙ‡Ù ØÙŽÙ„ÙŽÙ‰ ØÙŽÙ†Ù'ÙÙÙ‡Ù. ÙˆÙŽ ØÙŽÙ„ÙŽÙ'Ù„ÙÙˆÙ'Ø ØÙØÙŽÙˆÙ'Ù†Ù ØÙŽØÙ'ØÙÙ‡Ù ØÙŽÙ†Ù' ØÙŽÙˆÙ'ØÙ ØÙ„Ù†ÙŽÙ'ØØÙ ÙÙÙŠÙ'Ù‡Ù ØÙŽÙ„ÙŽÙ‰ ØÙŽÙŠÙ'ØÙ Ù‡ÙŽØÙÙ‡Ù ØÙ„Ù'ÙƒÙŽÙŠÙ'ÙÙÙŠÙŽØÙ ÙˆÙŽÙ„ØÙŽ ÙŠÙŽØÙÙˆÙ'ØÙ ØÙŽÙ†Ù' ÙŠÙÙÙ'ØÙŽÙ„ÙŽ ØÙŽÙŠÙ'ØÙŒ Ù...ÙÙ†Ù' ØÙŽÙ„ÙÙƒÙŽ Ù...ÙÙ†ÙŽ ØÙ„ØÙÙ'ØÙ'ÙƒÙŽØÙ ØÙŽÙŠÙ'ØÙ ÙƒÙŽØÙ†ÙŽ ÙÙÙŠÙ'Ù‡ÙŽØ Ù...ÙŽØÙ'ØÙÙˆÙ'ØÙŒ ØÙŽÙ„ÙŽÙŠÙ'Ù‡Ù Ù...ÙØÙ'Ù„ÙŽÙ‚Ù‹Ø ØÙŽÙˆÙ' ÙƒÙŽØÙ†ÙÙˆÙ'Ø ÙƒÙÙ„ÙŽÙ'Ù‡ÙÙ...Ù' ØÙØÙŽØÙŽØØÙŽ Ù„ÙŽÙƒÙÙ†Ù' Ù„ÙŽÙ...Ù' ÙŠÙŽØÙ'ØÙŽ ØÙŽØÙ'ØÙÙ‡ÙÙ...Ù'.< /strong>


Dalam ibarat di atas dikisahkan bahwa Imam Ibnu Hajar ditanya, bagaimanakah hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa bersama mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur? Bagaimana dengan yang dilakukan pada hari ketiga kematian dalam bentuk penyediaan makanan untuk para fakir dan yang lain, dan demikian halnya yang dilakukan pada hari ketujuh, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri prosesi ta'ziyah jenazah? Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak? Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keinginan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dala m pembagian tirkah, walaupun sebagian ahli waris yang lain tidak senang menyalurkan sebagian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti 'wajib'; bagaimana hukumnya?

Beliau menjawab: semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk bid'ah yang tidak baik, meski tidak sampai pada derajat haram; kecuali jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk 'meratapi' atau memuji secara berlebihan (ratsa') pada keluarga mayit.

Hal yang perlu diperhatikan pada saat menghormati tamu yang bertakziyah adalah jangan sampai memaksakan diri untuk menyajikan hidangan yang berlebihan, semata-mata agar dianggap pantas oleh orang lain. Hormatilah tamu dengan hidangan sepantasnya saja, karena sejatinya para tamu memahami kondisi tuan rumah yang sedang berkabung. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi SAW. Kedua, harta yang digunakan tidak boleh diambil/dikurangi dari tirkah (warisan). Sebab, tirkah yang belum dibagikan mutlak harus dijaga utuh, karena bisa jadi sebagian dari ahli waris tidak rela jika tirkah itu digunakan sebelum dibagikan.


Disarikan dari Ahkamul Fuqaha (Jakarta: Sekretariatan PBNU, 2010).

Redaktur: Ulil Hadrawi


Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/37421/hidangan-dan-makanan-dalam-upacara-kematian-taacircziyah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...