Langsung ke konten utama

Di sini Manusia Lebih Butuh Kemurahan Allah Menurut Ibnu Athaillah

Ketika melakukan larangan Allah SWT atau meninggalkan perintah-Nya, manusia jelas membutuhkan kemurahan, ampunan, dan kasih sayang-Nya. Ini cukup diterima akal. Tetapi kenapa manusia justru lebih membutuhkan kemurahan-Nya ketika mereka berada dalam ketaatan kepada-Nya? Ini memerlukan pengamatan lebih seksama.

Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam mengatakan sebagai berikut.

Di sini Manusia Lebih Butuh Ke   murahan Allah Menurut Ibnu Athaillah
Di sini Manusia Lebih Butuh Kemurahan Allah Menurut Ibnu Athaillah

أنت إلي حلمه إذا أطعته أحوج منك إلى حلمه إذا عصيته

Artinya, 'Kau lebih membutuhkan kemurahan-Nya ketika taat dibandingkan saat kau bermaksiat.'

Mengapa demikian? Rasulullah SAW membiasakan diri untuk beristighfar seusai shalat, bukan setelah maksiat. Para ulama mencoba mengkaji hikmah di balik istighfar Rasulullah SAW usai shalat. Dari wirid berupa istighfar usai shalat, ulama menyimpulkan bahwa ibadah tidak selalu sempurna karenanya untuk menutupi kekurangan-kekurangan di dalam ibadah kita perlu meminta kemurahan-Nya.

Selain itu, yang perlu diingat adalah bahwa orang yang ibadah tidak lebih istimewa dari mereka yang tidak. Pasalnya, ibadah mereka juga didorong oleh taufiq yang merupakan anugerah dari Allah SWT. Tidak sedikit orang yang memandang dirinya ketika beribadah sehingga melihat bahwa dirinya lebih unggul dibanding yang lain. Dari sinilah muncul sikap ujub yang didorong oleh nafsu yang perlu diwaspadai.

Di sini Manusia Lebih Butuh Kemurahan Allah Menurut Ibnu Athaillah
Di sini Manusia Lebih Butuh Kemurahan Allah Menurut Ibnu Athaillah

لأنك في الطاعة آمن بها أمنا قد يلزم من عدم اليقظة لدسائس نفسك فيها الملتبسة عليك في صورها، فتمضى الطاعة وهي منطوية عليها وأنت لم تعلم. فأنت إلى حلمه ومغفرته وستره المقتضي كل منها عدم المناقشة لك فيها أحوج منك إلى حلمه عليك في المعصية التي ليست ملتبسة عليك فلتتنبه العمال الآمنون بالأعمال

Artinya, 'Karena di dalam ketaatan ibadah kau merasa aman dengan amalmu di mana kerap mengakibatkan kelalaianmu terhadap tipu daya nafsu yang menyelinap di dalam berbagai bentuk ketaatanmu, lalu ketaatanmu berlangsung sementara nafsumu menyelinap tersembunyi di dalamnya tanpa kausadari. Kau lebih membutuhkan kemurahan, ampunan, dan perlindungan-Nya di saat kau menaatinya karena kurang ketelitianmu di dalam ketaatan dibandingkan saat kau bermaksiat kepada-Nya di mana tak ada nafsu tersembunyi di dalamnya. Karena itu, hendaklah orang-orang yang gemar beramal dan merasa aman dengan amalnya untuk waspada,' (Lihat Syekh Burhanuddin As-Syazili Al-Hanafi, Ihkamul Hikam fi Syarhil Hikam Al-Atha'iyyah, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2008 M/1429 H, halaman 95).

Butir hikmah Ibnu Athaillah ini bukan berarti menganjurkan orang untuk berhenti atau mengurangi ibadah, lebih-lebih menganjurkan orang untuk bermaksiat, tetapi mengingatkan mereka untuk lebih waspada. Ibnu Athaillah mengingatkan mereka yang gemar ibadah untuk tidak lupa mewaspadai benih-benih nafsu yang tak terlihat di dalamnya. Wallahu a'lam. (Alhafiz K)

Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/81114/di-sini-manusia-lebih-butuh-kemurahan-allah-menurut-ibnu-athaillah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...