Langsung ke konten utama

Daging Celeng dan Kunci Kesuksesan Nahi Munkar

Semalam saya terinspirasi waktu diskusi ke-NKRI-an dengan budayawan Purbalingga, Agus Sukoco. Dia menyampaikan di dalam hidup ini memang terdapat wilayah-wilayah radikal yang memang harus dilakukan, khitan sangat radikal, kuncup penis dipotong. Menikah juga radikal sekali, dalam nikah dua warna yang sangat tajam dalam perbedaan; pria dan wanita digesekkan di malam pertama. Shalat juga sangat radikal, ketika Anda shalat sekalipun ada orang lewat di samping Anda, Anda tidak boleh menyapanya. Ini contoh wilayah-wilayah radikal hidup.

Namun ada juga wilayah yang harus toleran, misal Anda menyuguh tamu di rumah Anda, lalu Anda menawarkan, 'Silakan nikmati, jangan sungkan-sungkan, anggap saja di rumah sendiri.' Coba saja andai si tamu menerima tawaran Anda dengan menganggap rumah Anda sebagai rumahnya sendiri tentu Anda merasa risi. Majikan sering ngedumel dengan kelakuan pembantu, ibu tiri sering memarahi anak tirinya, mertua sering tidak sreg dengan menantunya, itu karena pembantu di rumah majikan, anak tiri di rumah ibu tiri, menantu di rumah mertua, hakikatnya mereka tidak hidup di rumah sendiri. Mereka sedikit saja bertingkah neko-neko, si pemilik rumah merespons tidak berkenan. Nah kalau si tamu menganggap rumah Anda sebagai rumahnya, dijamin Anda stres. Artinya tawaran Anda pada tamu itu sekedar rasa toleran, bukan tawaran yang sesungguhnya.

Nahī munkar sering diidentikan dengan wilayah radikal hidup. Profesi dokter sebenarnya profesi nahī munkar, wilayah dokter adalah wilayah radikal, tetapi para dokter itu radikal kepada penyakit, bukan kepada pasiennya. Para dokter mencegah flu dengan anti flu, mereka sangat radikal sikapnya, bahkan kalau perlu amputasi ya dipotong saja bagian tubuh pasien. Sikap dokter yang mencegah penyakit inilah yang disebut nahī munkar. Penyakitnya ditindas habis oleh si dokter, tetapi pasiennya dikasihi setinggi-tingginya. Dokter tidak pernah membenci pasien, dia hanya membenci penyakit yang diderita pasien.

Dokter tidak membenci pribadi pasien, karena ini tindakan nahī munkar dokter berakhir ma'rūf.

Saya pernah ngobrol-ngobrol dengan Djito El Fateh, 'Desaku, Gus, di kawasan pinggir hutan. Budaya berburu sejak nenek moyang sudah ada, sebab dekatnya dengan hutan. Hingga kini budaya ini turun temurun lestari. Namanya berburu, perolehannya juga tidak pasti. Kadang kijang, ayam hutan, dan sering juga celeng,' ungkap Djito.

'Sehingga makan daging celeng sudah biasa dilakukan masyarakat kami sejak dulu pula. Kadang saya--baca, yang sedikit banyak mengenal agama--merasa risi dan kadang merinding dengar tetangga ada yang baru dapat buruan celeng. Jelas 3 hari dagingnya belum habis dikonsumsi satu keluarga walau sudah dibagi tetangga kanan-kiri. Namun kami tetap pura-pura tidak tahu urusan daging celeng tersebut. Mau bagaimana, kami tahu dalam agama kami itu terlarang, tetapi kami mikir-mikir, 'Apa pantas kami teriak-teriak haram, teriak-teriak najis mughalazhah kepada mereka, berdalih nahī munkar, kami beraksi mencegah mereka? Padahal yang ada di hati kami adalah rasa benci pada mereka? Bagaimana jadinya bila kami ingin mencegah kemunkaran tetapi modal kami kebencian? Apa benci bisa mengubah suatu hal ke dalam kema'rufan?'' tandas Djito lagi.

'Karena itulah kami memilih sikap toleran, sikap senyum, tanpa ada rasa sedikitpun mengusik mereka. Kami mengurusi masjid dengan suka hati kami, kami jamaah shalat dengan suka hati kami, kami berupaya tidak ada zona debat dan mengolok-olok pihak lain, khususnya dengan masyarakat adat. Dan alhamdu li-llāh, tanpa kami berbicara ketus, bersikap sok mencegah kemunkaran, sekarang mushala sudah berdiri hampir di setiap RT. Satu-satu masyarakat adat yang waktu saya kecil masih begitu liar dengan daging celeng, perlahan mereka berubah. Dan sekarang ini, shalat, zakat, haji, tadarus, dan masjid sudah ramai syiarnya,' singgungnya.

Djito melanjutkan, 'Mereka berjalan memperbaiki diri dengan sukarela. Tanpa merasa tersinggung mereka mengubah diri. Tanpa dikeruhkan airnya, ikan tertangkap. Jadi mereka yang mengajak orang ke dalam kebaikan dengan sikap antipati hingga sikap antagonis, mendebat, melabrak, menuduh sesat, menyerang, itu sebenarnya mereka ingin nahi munkar tetapi modalnya kebencian.'

Sehingga segala tindakan pencegahan (nahī) lalu berefek ribut-ribut tentu itu kebencian, tindakan tersebut sama sadisnya seorang dokter yang bertindak bukan bertindak mencegah penyakit pasiennya, tetapi dia dokter yang menganiaya pasiennya.

Setiap nahī munkar tentu harus berakhir ma'ruf, karena tidak ada ma'ruf diperoleh dengan rasa benci.

Jikalau tindakan kita mencegah munkar masih saja berakhir ribut-ribut, berakhir panas di hati, sebaiknya cegahlah kemunkaran dengan rasa toleran seperti sikap rekan saya Djito El Fateh di atas. Karena jika berakhir ribut-ribut, berakhir panas di hati, itu pasti tindakan kebencian kita pada orang lain.

Daging Celeng dan Kunci Kesuksesan Nahi Munkar
Daging Celeng dan Kunci Kesuksesan Nahi Munkar

Muhammad Nurul Banan, aktivis muda NU Purbalingga; Pendidik di Ponpes Darul Abror, Bukateja, Purbalingga. Tulisan ini pernah dipublikasikan di akun Facebook pribadi pada 12 Februari 2017.


Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/75444/daging-celeng-dan-kunci-kesuksesan-nahi-munkar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...