Langsung ke konten utama

Cinta Mbah Raji kepada Masjid

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda bahwa kelak pada Hari Kiamat ada tujuh golongan orang yang akan mendapatkan perlindungan dari Allah SWT. Pada hari itu tidak ada perlindungan kecuali perlindungan-Nya. Di antara ketujuh golongan itu adalah seseorang  yang hatinya senantiasa bergantung di masjid (rajulum qalbuhu mu'allaqun bil masâjid).

Berbicara tentang seseorang yang hatinya senantiasa tertambat di masjid, Mbah Raji adalah salah satu contohnya. Dalam usianya yang sudah cukup udzur, beliau masih sanggup berjalan sendiri menuju masjid untuk berjamaah shalat lima waktu. Meski jarak rumah beliau dengan tempat suci itu hanya kira-kira 40 meter, beliau membutuhkan istirahat 3 hingga 5 kali untuk sampai ke sana. Maklum usia Mbah Raji telah mencapai 85 tahun.

Di usia ini warna putih banyak mendominasi fisik beliau. Misalnya, setiap hari Jumat beliau selalu mengenakan pakaian serba putih dari ujung kepala hingga kaki. Kopiah beliau putih seputih rambutnya. Baju beliau putih seputih alis dan bulu matanya. Serban beliau putih seputih kumisnya. Sarung beliau putih seputih jenggotnya. Kulit beliau putih seputih cintanya kepada masjid. Mbah Raji memang sudah sepuh sehingga untuk kegiatan ringan saja seperti berjalan ke masjid dan kembali ke rumah membutuhkan banyak istirahat.

Setiap kali beristirahat dalam perjalanannya ke masjid dan pulang ke rumah, Mbah Raji hanya berdiri tegak bersendirian terengah-engah dengan bertumpu pada tongkat kayu di tangan kanannya. Beliau tak pernah meminta tolong siapa pun untuk menopang tubuhnya yang sudah bungkuk dan berjalan tertatih-tatih. Mbah Raji tak mau merepotkan siapa saja dalam ibadahnya kepada Allah SWT. Cintanya kepada masjid dan kepasrahan dirinya kepada Sang Khaliq telah memberinya kekuatan dan kepercayaan diri yang kuat bahwa beliau masih mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Kemandirian Mbah Raji dengan hanya bersandar kepada Allah, semakin tampak jelas ketika beliau merangkak menaiki ondhak-ondhakan (tangga) masjid dan terus merangkak hingga ke tempat kosong di dalam masjid yang dipilihnya untuk bersujud kepada-Nya. Mbah Raji tak mungkin membawa serta tongkatnya ke dalam masjid karena menyadari barang tersebut belum tentu suci dari najis terutama di bagian dasar.  

Oleh karena itu merangkak menuju tempat bersujud di dalam masjid adalah pilihan terbaik bagi Mbah Raji yang sangat disadarinya. Inilah salah satu ungkapan cinta Mbah Raji kepada masjid yang banyak orang menjadi saksi. Dalam keadaan sesulit ini, Mbah Raji tidak memperlihatkan tanda-tanda meminta tolong orang lain untuk memapahnya ke tempat sujud yang diinginkan. Beliau merasa cukup dengan pertolongan dari Allah SWT berupa kesehatan dan kekuatan fisik yang masih tersisa hingga beliau wafat pada hari Rabu, 17 Februari 2016. Inna lillahi wainna ilahi rajiun.

Selamat Jalan Mbah H. Imam Suraji!

Cinta Mbah Raji kepada Masjid
Cinta Mbah Raji kepada Masjid

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta


Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/80111/cinta-mbah-raji-kepada-masjid

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...