Langsung ke konten utama

Bertemu Orang Mulia di Mana-mana

Bertemu Orang Mulia di Mana-mana
Bertemu Orang Mulia di Mana-mana

Anda dan saya, pasti sering melihat orang yang sangat dihormati karena memang manusia mulia. Derajatnya tinggi di mata Gusti Allah dan makhluknya. Dan karena rasa cinta kita, kita pun senang dan berusaha bisa dekat dengannya. Menciumi tanganya, meminta doanya, dan berharap mendapat hikmat atau berkat darinya.

Menjumpai orang saleh, alim macam itu,  yang biasanya berpenampilan sesuai harkatnya; khas pakaian ulama, bahkan banyak yang secara simbolik menjadi imam, panutan masyarakat, mengasuh pesantren, menjadi guru, dan seterusnya. Itu jelas sudah biasa dan memang begitulah yang kita nikmati selama ini.

Saya sungguh bersyukur, dalam pengembaraan saya berburu kitab-kitab kuno, khususnya kitab-kitab peninggalan Simbah Kiai Sholeh Darat, saya beberapa kali mendapati orang-orang yang luar biasa tapi tersembunyi dari 'kemuliaan permukaan'.

Saya bertemu dengan orang yang sangat alim, sangat kuat spiritualnya, sangat khusyuk ibadahnya, tetapi sangat tawadhu' sehingga sangat tidak kelihatan kalau beliau orang mulia di sisi Tuhannya.

Sebab penampilannya jauh dari kesan seorang kiai, kepala tak pernah ditutupi kopiah atau peci. Busananya selalu kaos oblong, celana panjang pun selalu jeans warna anak muda. Bahkan celana seragam SMA!

Tinggal di rumah sempit di kawasan kumuh kota, berbaur dengan orang-orang pinggiran yang terhempas kerasnya kehidupan kapitalis metropolitan. Di gang sempit dan deretan kos-kosan sesak yang isinya berjejal manusia pengais rezeki karena tidak mau mati kelaparan.

Untuk bisa mencapai rumahnya, saya harus memarkir sepeda motor di mulut lorong, lalu berjalan di jalan sempit yang selokannya mampat berbau pesing. Tapi, Masya Allah, di balik tumpukan pakaian anak-anaknya, tersimpan rapi kitab-kitab mutiara hasil karya ulama nusantara. Dan rutin beliau baca secara diam-diam di malam hari, jangan sampai terlihat tetangga.

Subhanallah, beliau bisa menerangkan kepada saya, aneka ilmu dari kitab-kitab langka itu, yang tidak pernah saya dapatkan dari bangku madrasah maupun semasa mondok di pesantren. Beliau bisa 'saya paksa ' dengan ilmu plekathik saya, sehingga mau cerita tentang hal-hal luar biasa yang pernah dialaminya.

Takjub sekali saya, orang yang  sama sekali tidak tampak sebagai panutan umat, ini kapan pun bisa ditemui Nabi Khidlir, Syeh Abdul Qodir Jailani, dalam keadaan terjaga maupun mimpi. Beberapa kali beliau mimpi ditemui Kanjeng Nabi Muhammad. Dan tentu saja, sangat biasa berjumpa dan muhadatsah dengan Mbah Sholeh Darat.

Salah satu kisah mimpinya ditemui Rasulullah, kala itu beliau usai ditinggal wafat putrinya yang berusia 7 tahun. Sedih kehilangan anak, beliau pun berdoa dengan mendawamkan dzikir entah apa, (beiau tidak mau memberitahu saya).  Dalam tidur usai kantuknya karena lelah, di malam usai tahlilan untuk anak perempuannya itu, beliau bermimpi disapa Kanjeng Nabi.

'Assalamualaikum, Ya ....... (nama beliau).

Gelagapan, dalam mimpi itu, beliau bertanya kepada sosok yang memberi salam.

'Jenengan sinten?'

'Ana Rasulullah. Ini anakmu kuajak bersamaku'.

Di mimpi itu, beliau melihat putrinya yang telah wafat, tampak tersenyum dan melambai sambil digandeng Kanjeng Nabi. Lambaian seperti mengajak ayahnya ikut serta bersama  Kanjeng Nabi.

Subanallah. Saya dan Anda bertemu orang mulia di masjid atau musholla, itu pasti sudah biasa. Melihat orang mulia yang disanjung dan dihormati di keramaian, pasti sudah sering.

Tapi bertemu orang luar biasa yang tidak kelihatan sebagai 'siapa-siapa', mungkin sangat jarang. bahkan tidak pernah. dan bersyukurlah jika Anda pernah diwejang guru atau orang tua, agar bersiap jumpa orang mulia dalam wujud yang sangat beda. Bahkan Nabi Khidir sering muncul dalam rupa penampilan orang yang tidak disukai, seperti gembel berbau tengik atau pria buruk rupa yang mengemis di depan pintu rumah Anda.

 Mohammad Ichwan
Semarang ======NU Online mengajak kepada pembaca semua untuk berbagi kisah inspiratif penuh hikmah baik tentang diri sendiri atau orang lain. Silakan kirim ke email: redaksi@nu.or.id

Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/62258/bertemu-orang-mulia-di-mana-mana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...