Langsung ke konten utama

Bertakbirlah 4 Kali atas Kematian Orang Tak Mau Belajar

Bertakbirlah 4 Kali atas Kematian Orang Tak Mau Belajar
Bertakbirlah 4 Kali atas Kematian Orang Tak Mau Belajar

Dalam sebuah  halaqoh, terjadilah diskusi antara guru dan para muridnya mengenai kemuliaan ilmu. Salah seorang murid mengajukan pertanyaan kepada sang guru, "Wahai guru, berikanlah alasan kenapa ilmu bisa memuliakan seseorang yang memilikinya?"

Sang guru tersenyum lirih seraya menjawab, "Dari dirimu sendiri, engkau bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu dan membuktikan bahwa ilmu dapat memuliakan pemiliknya. Pada hakikatnya, engkau akan senang ketika ada seseorang yang memujimu karena keluasan ilmu yang engkau miliki. Demikian sebaliknya, engkau akan sedih dan marah ketika ada seseorang mencela keterbatasan ilmu yang ada dalam dirimu".

Mendengar jawaban sang guru, murid itu akhirnya dapat memahami bahwa ilmu dapat mengangkat derajat seseorang. Artinya, orang yang berilmu lebih tinggi derajatnya beberapa tingkat daripada orang yang tidak berilmu.

Perlu diketahui bahwa tokoh sang guru dalam penggalan cerita di atas adalah Imam Syafi'i, seorang ulama kenamaan yang benar-benar alim dan  mafhum mengenai substansi ilmu. Tentunya ini bukan hal yang mengherankan karena jika kita telusuri sejarah hidupnya, maka kita akan tahu bahwa beliau ini adalah seorang manusia yang menjalankan "thalabul 'ilmi minal mahdi ilal lahdi" (menuntut ilmu dari buaian hingga liang lahat). 

Sehingga, dari beliau kita dapat menelusuri tentang sebab kemuliaan ilmu. Dalam kitab Diwan Imam Syafi'i, beliau pernah berkata:

"Belajarlah! Karena tak seorang pun yang terlahir sebagai ilmuwan. Seorang yang berilmu, tak sama dengan orang yang bodoh. Pembesar suatu kaum jika bodoh, akan menjadi kecil saat pembesar berkumpul. Orang kecil jika pandai, akan tampak besar saat berada dalam perkumpulan."

Sungguh dalam nasihat di atas yang telah dikemukakan oleh Imam Syafi'i, menggambarkan bahwa kemuliaan ilmu tidak serta merta diraih secara mudah dan singkat. Tapi, perlu adanya usaha dari sang pendamba ilmu itu. Usaha yang dimaksud adalah belajar dengan giat dan tekun. Sejalan dengan sabda Nabi:  Uthlubul 'ilma walau bis shin (tuntutlah ilmu sampai ke negeri China).

Pada masa itu, China dianggap sebagai negeri yang paling jauh, sehingga pesan yang dapat kita serap dari hadits Nabi di atas adalah "belajarlah setinggi-tingginya, jangan kamu jadikan jarak suatu negeri dan negeri lain yang berjauhan sebagai alasan yang membuatmu menyerah dalam menuntut ilmu".

Terkadang dalam upaya mencari ilmu, ditemukan kesulitan, rintangan, serta "kegalauan" yang mengiringi para penuntut ilmu. Jika dikaitkan dengan penyakit "galau" yang melanda anak muda jaman sekarang, kegalauan yang sering dialami para pemuda di bangku sekolah adalah menerima sikap yang tidak mengenakkan dari guru.

Mungkin, bagi mereka guru terlalu keras dalam mengajar, otoriter, tidak demokratis, seenak'e dhewe, pilih kasih, dan lain sebagainya. Tapi, janganlah semua itu dijadikan sebagai penghambat. Sebaliknya, jadikanlah semua itu sebagai motivasi. Imam Syafi'i dalam kitab Diwannya berkata:

"Bersabarlah atas pahitnya sikap kurang mengenakkan dari guru, Karena sesungguhnya endapan ilmu adalah dengan menyertainya. Barangsiapa yang belum merasakan pahitnya belajar meski sesaat, Maka akan menahan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya. Barangsiapa yang tidak belajar di waktu mudanya, bertakbirlah 4 kali atas kematiannya. Eksistensi seorang pemuda – Demi Allah – adalah dengan ilmu dan ketakwaan. Jika keduanya tidak ada padanya, maka tidak ada jati diri padanya."

Dari nasihat Imam Syafi'i di atas, ketika menghadapi sikap yang kurang mengenakkan dari guru, kuncinya adalah sabar. Sebagaimana pepatah Arab mengatakan "man shabara dhafira" (barangsiapa bersabar, beruntunglah dia), ini juga sejalan dengan firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 45: "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya keduanya itu sulit untuk dilakukan, kecuali bagi orang-orang yang khusyu". 

Shalat di sini, maksudnya adalah do'a. Dalam menunjukkan shalat dan sabar dalam ayat tersebut, digunakan kata ganti tunggal  fainnaha bukan  fainnahuma. Ini menunjukkan keharusan menggerakkan shalat dan sabar dalam satu gerakan kesatuan, tidak memisahkan diantara keduanya.

Kemudian, untuk menjadikan ilmu yang kita punya itu bernilai penuh kemuliaan, maka amalkanlah ilmu itu sehingga bermanfaat bagi orang lain. Nabi s.a.w pernah bersabda: "Khairun naas anfa'uhum lin naas. Sebaik-baik manusia adalah yang memiliki manfaat kepada manusia lain."

Sehingga dengan ilmu, kita dapat memetik manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain yang ada di sekitar kita, sebagaimana pepatah Arab mengatakan bahwa "al-'ilmu bilaa 'amalin kas syajari bilaa tsamarin", artinya adalah: ilmu yang tidak diamalkan laksana pohon yang tidak berbuah.

Selain belajar, bersabar dan berdoa, ada indikator lain yang perlu diperhatikan dalam menuntut ilmu, yakni ikhlas. Sebagaimana Imam Ghazali dalam  Ihya Ulumuddin-nya pernah berkata: "Manusia pada hakikatnya mati, kecuali orang yang alim. Orang yang alim walaupun hidup pada hakikatnya tidur, kecuali orang yang mengamalkan ilmunya. Orang yang mengamalkan ilmunya banyak yang tertipu, kecuali orang yang ikhlas".

Tepat apa yang dikatakan oleh Imam Ghazali, ikhlas adalah kunci utama dalam menuntut ilmu dan menjadi tolak ukur seberapa tinggi kemuliaan ilmu yang dimiliki oleh seseorang. Tanpa ikhlas, upaya belajar, bersabar, dan berdoa yang telah dilakukan tidak akan ada artinya. Ikhlas juga merupakan sebab kemuliaan ilmu yang dimiliki manusia di mata Allah. Wallahu a'lam bis shawab. (Saekhudin Nurseha*) 
* Mahasiswa semester 7 Prodi Pendidikan Agama Islam STAIN Kudus

Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/46267/bertakbirlah-4-kali-atas-kematian-orang-tak-mau-belajar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...