Langsung ke konten utama

Bersikap Ramah terhadap Rerumputan, Sebuah Kesalehan Ekologis

Tidak semua orang bersikap ramah terhadap rerumputan. Banyak orang  membabat habis atau mencabut tumbuh-tumbuhan itu sampai ke akar-akarnya. Mereka memandang rerumputan sebagai tumbuh-tumbuhan yang hanya mengotori atau tidak sedap dipandang mata. Cara pandang ini perlu diperbaiki dengan sikap yang lebih ramah karena sebenarnya rerumputan itu justru memberikan manfaat besar kepada kita terutama dalam hubungannya dengan kesehatan, keindahan, dan kebersihan lingkungan.

Belum banyak orang menyadari bahwa di musim kemarau seperti sekarang ini kita sebenarnya membutuhkan rerumputan yang tumbuh, misalnya di halaman atau sekitar rumah untuk mencegah tanah gundul. Tanah gundul di musim kemarau sudah pasti akan menjadi sumber debu yang tidak baik bagi kesehatan. Di dalam debu yang diembuskan angin dan beterbangan ke mana-mana kadang terdapat bibit penyakit yang dapat merugikan kesehatan kita, seperti penyakit mata, berbagai penyakit yang menyerang saluran pencernaan, dan bahkan saluran pernapasan.

Tidak hanya itu, debu juga mengotori lingkungan kita. Lihatlah kaca-kaca, lantai dan dinding rumah kita. Di musim kemarau kaca-kaca-kaca jendela, pintu dan perabot rumah tangga sering kali menjadi sangat kotor karena debu yang beterbangan di sekitar rumah kita. Lantai rumah atau apa pun yang menyelimuti lantai juga penuh debu. Demikian pula perabot-perabot rumah tangga juga tampak kusam penuh debu.

Semua dampak negatif dari debu tersebut seharusnyalah membuka kesadaran kita bahwa kita perlu bersikap lebih ramah terhadap rumput-rerumputan di sekitar kita dengan memberinya kesempatan untuk tumbuh dan berkembang. Namun hal ini memang membutuhkan kesediaan kita untuk rajin merawatnya dengan baik. Sekarang sudah bukan saatnya lagi kita pandang rerumputan sebagai tumbuh-tumbuhan liar yang harus dihabisi. Atau, kita tidak menyukai rerumputan itu hanya karena malas merawatnya.

Di musim penghujan di mana suplai air cukup berlimpah, rerumputan akan tumbuh dan berkembang dengan sangat cepat dan bisa dikatakan cenderung liar. Agar tidak liar maka kita harus merawatnya dengan baik dan merapikannya dengan alat potong yang ada. Hal yang harus selalu kita ingat dalam memotong ini adalah jangan sampai rerumputan itu kita pangkas atau cabut hingga sampai ke akarnya. Justru di musim penghujan inilah rerumputan yang kita rawat dengan baik akan menunjukkan keindahannya karena tampak hijau dan sejuk di mata. Di samping itu, tanah yang ditumbuhi rerumputan cenderung tidak becek atau "jeblok" ketika sering dilewati orang atau kendaraan.

Di musim kemarau dimana suplai air terbatas, kita memang perlu menyiraminya dengan air sesuai ketersediaan agar tidak mati seluruhnya. Biasanya di musim ini, banyak rerumputan tampak kering dan kurang sedap dipandang mata. Namun hal ini bukanlah alasan untuk mencabut dan menghabisinya sebab rerumputan itu meskipun kering dan tampak mati tetap bisa melapisi tanah dan  tidak menghasilkan banyak debu yang dapat mengganggu kesehatan dan kebersihan lingkungan kita.

Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur'an, Surah Ar-Ruum, ayat 41:

Bersikap Ramah terhadap Rerumputan, Sebuah Kesalehan Ekologis
Bersikap Ramah terhadap Rerumputan, Sebuah Kesalehan Ekologis

 ظَهَرَ الفَسَادُ فِي البَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya: "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan-tangan manusia, supaya allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."

Ayat di atas menegaskan bahwa kerusakan yang terjadi di atas bumi, termasuk debu-debu yang menganggu kesehatan dan kebersihan lingkungan kita, disebabkan oleh perbuatan kita sendiri seperti bersikap tidak ramah terhadap rerumputan di sekitar kita. Memang tidak ada jaminan 100 persen bahwa  rerumputan akan menghentikan dihasilkannya debu-debu oleh tanah. Namun setidaknya bisa mengurangi cukup signifikan.

Dengan demikian, bersikap ramah terhadap rerumputan dan membiarkannya hidup serta merawatnya dengan baik merupakan kesalehan ekologis yang selalu ditunggu-tunggu oleh alam lingkungan  kita demi kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan bersama.  Apalagi di saat sekarang di mana kerusakan ekologis dan pencemaran lingkungan terus memburuk dari waktu ke waktu. Adalah manusia dan bukan malaikat yang harus bertanggung jawab terhadap masalah ini karena merekalah yang dijadikan Allah SWT sebagai khalifah di bumi sebagaimana ditegaskan di dalam Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah, Ayat 30 sebagai berikut:

Bersikap Ramah terhadap Rerumputan, Sebuah Kesalehan Ekologis
Bersikap Ramah terhadap Rerumputan, Sebuah Kesalehan Ekologis

 وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِد فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء

Artinya: "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Aku hendak menjadikan khalifah di bumi." Mereka berkata, "Apalah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu."

Singkatnya, ayat di atas menegaskan bahwa justru karena manusialah yang melakukan kerusakan di bumi, maka merekalah yang diberi tanggung jawab oleh Sang Pecipta untuk menjaga kelestariannya dengan dijadikan mereka sebagai khalifah supaya mereka mengetahui sendiri akibat langsung dari apa yang diperbuatnya di muka bumi ini.

Bersikap Ramah terhadap Rerumputan, Sebuah Kesalehan Ekologis
Bersikap Ramah terhadap Rerumputan, Sebuah Kesalehan Ekologis

Muhammad Ishom, adalah dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta


Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/80178/bersikap-ramah-terhadap-rerumputan-sebuah-kesalehan-ekologis

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...