Langsung ke konten utama

Belajar dari Khalifah Umar Tentang Memandang Sebuah Jabatan

Beberapa referensi utama di bidang sirah memberikan kesaksian, saat Umar menjabat sebagai khalifah, rakyatnya kerap kali melihat dirinya tengah membawa sejinjing air di atas pundaknya, juga sekarung tepung dan gandum, sekantung minyak, beberapa sha' kurma, untuk ia sampaikan ke rumah janda-janda dan anak-anak yatim. Dan Umar melakukan itu sendirian, seorang diri saja.

Belajar dari Khalifah Umar Tentang Memandang Sebuah Jabatan
Belajar dari Khalifah Umar Tentang Memandang Sebuah Jabatan

Sahabat Umar benar-benar melihat jabatan yang tengah diembannya sebagai amanat dari Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Umar sadar betul, jika jabatan kenegaraan yang tengah ia sandang adalah sebuah amanat yang besar, sangat besar. Tak lebih. 

Karena itulah, tidak mengherankan jika Umar sepenuh hati melayani umatnya, sepenuh jiwa mengabdi kepada rakyat yang tengah dipimpin dan diurusnya. Dan bagi sahabat Umar, tidak ada bekal terbaik bagi seorang manusia, dalam keadaan apapun ia, saat ia menjadi khalifah atau pun menjadi kaisar, kecuali takwa. Karena tentu hanya ketakwaan bekal utama perjalanan hidup manusia untuk meraih kebahagiaan akhirat.

Umar adalah sosok teladan dan gambaran bagi para pemimpin negara, dan bagi pemimpin apapun. Dalam dirinya terdapat sebuah perpaduan yang benar-benar langka. Umar adalah seorang sosok negarawan, politikus, cendikiawan, filsuf, panglima perang, ulama, sekaligus sosok yang takwa dan taat kepada Rabb-nya. 

Melihat Umar, seseorang sejatinya digambarkan secara nyata tentang tipikal ideal kepemimpinan yang sepatutnya dijadikan salah satu barometer utama, selain tentu kepemimpinan sang manusia agung, Nabi Muhammad SAW.

Atas kesinambungan ideal Umar ini, Montesquieu, negarawan Prancis yang juga inspirator gerakan Renaissance di Prancis dan Eropa dalam sebuah literatur banyak memuji tipikal kepemimpinan Umar serta penguasa-penguasa dan ulama Islam lainnya. Dikatakan Montesquieu tentang Umar dalam Bahasa Prancis:

Je suis un fou de Omar, jusqu'à ce que, j'ai décidé de faire, un site pour lui, j'aimerai tant partager, avec vous, des conaisance, et tout ce, qu'on peut trouve(r) sur Omar.

"Saya adalah orang yang menggilai Omar (Umar), sampai saya memutuskan untuk membuat sebuah situs untuknya, saya sangat ingin berbagi dengan Anda, tentang pencerahan dan semua yang bisa ditemukan pada Omar." (Fathoni)

Diolah dari berbagai sumber.
Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/81681/belajar-dari-khalifah-umar-tentang-memandang-sebuah-jabatan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...