Langsung ke konten utama

Apakah Takdir Seseorang Dicatat pada Nisfu Sya’ban?

Salah satu amaliyah masyarakat di Tanah Air yang dirutinkan turun-temurun adalah peringatan malam Nisfu Sya'ban. Berbagai kalangan ada yang memeringatinya dengan membaca Al Quran, istighotsah, maupun doa-doa bersama disertai tasyakuran bersama tetangga. Selain mengharap berkah dan pahala yang berlimpah dari kemulian Sya'ban, hal lain yang membuat masyarakat memeringati Nisfu Sya'ban adalah adanyakeyakinan berdasarkan pendapat ulama bahwa pada malam Nisfu Sya'ban, segala takdir dan ketetapan, baik itu soal rezeki, usia, prestasi, maupun jodoh, ditulis dalam 'buku catatan takdir' oleh Allah untuk tahun tersebut.

Memperbanyak doa dan ibadah pada malam Nisfu Sya'ban sangat dianjurkan. Karena itu, dalam doa Nisfu Sya'ban, seorang muslim dianjurkan untuk memohon dihindarkan dari takdir-takdir yang buruk, dan dengan kekuasaan Allah, takdir yang buruk tersebut diganti yang lebih baik. Takdir-takdir yang telah tercatat itu, dimohonkan mendapat rahmat dan berkah untuk tahun tersebu t.

Mengapa sekian ulama menyebutkan bahwa di malam Nisfu Sya'ban ini segala takdir dicatat dan ditetapkan? Ada beberapa dalil yang bisa dijadikan acuan. Hal ini sebagaimana disebutkan Syekh Muhammad Alwi Al Maliki dalam kitabnya Madza fi Sya'ban.Meskipun status beberapa hadis ada yang lemah (dla'if)namun sebagai dalil tambahan untuk menambah semangat ibadah maka hal tersebut bisa dibenarkan.

Dasar pemahaman hal tersebut merupakan pemahaman para ulama dari Al Quran surat Ad-Dukhan ayat 3 dan 4:

Apakah Takdir Seseorang Dicatat pada Nisfu Sya
Apakah Takdir Seseorang Dicatat pada Nisfu Sya'ban?

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ. فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

'Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami adalah para pemberi peringatan. Di dalamnya dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah,'

Dalam beberapa tafsir, Ikrimah maupun beberapa mufassir seperti Al-Qurthubi menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan 'malam yang diberkahi' itu adalah malam Nisfu Sya'ban. Selain itu, ada beberapa hadis lain yang juga menyebutkan pentingnya malam Nisfu Sya'ban ini.

Pemahaman ayat di atas ternyata menimbulkan polemik, karena jumhur ulama berpendapat bahwa 'malam yang berkah' itu adalah malam Lailatul Qadar. Tapi Syekh Muhammad Al Maliki tidak serta merta langsung menyatakan bahwa pendapat tentang perihal Nisfu Sya'ban itu salah.

Ulama yang juga mengarang Mafahim Yajibu an Tushahhah ini menyatakan bahwa penafsiran kalimat 'malam yang berkah' dalam surat Ad-Dukhan di atas dengan Lailatul Qadar adalah lewat metode tarjih, yakni mengunggulkan satu riwayat atau penafsiran dengan lainnya. Namun, lanjut Syekh Muhammad, jika digunakan metode jam'ur riwayat, yaitu mengumpulkan beberapa riwayat lain dan berusaha memberi jalan tengah pemahaman, maka pernyataan ulama bahwa takdir dan ketetapan Allah diputuskan serta dicatat di malam Nisfu Sya'ban bisa dibenarkan.

Sye kh Muhammad Al Maliki mengutip riwayat Abu Dluha dari Ibnu Abbas bahwa: 'Sesungguhnya Allah menetapkan putusan dan takdir pada malam Nisfu Sya'ban dan menyerahkannya pada para pengampunya pada malam Lailatul Qadar'.

Komentar Syekg Al Maliki terhadap tafsir dan riwayat tersebut adalah Allah dengan kuasa-Nya menetapkan takdir di Lauh Mahfuzh pada malam Nisfu Sya'ban, dan pada malam Lailatul Qadar, Dia mengutus para Malaikat untuk memenuhi tugas-tugas terkait takdir seseorang yang telah ditetapkan. Semisal pada Malaikat Maut, maka takdir umur seseorang diserahkan Allah padanya. Begitupun terkait takdir rezeki, maka diserahkan kepada malaikat yang mengampu tugas menebar rezeki tersebut.

Selain itu dari riwayat hadis, Al Khatib Al Baghdadi dalam Tarikh-nya meriwayatkan dari Aisyah ra. bahwa Nabi banyak berpuasa pada bulan Sya'ban. Kemudian Aisyah menanyakan kepada Nabi mengapa beliau begitu gemar berpuasa di bulan Sya'ban. Nabi menjawab, 'Sesungguhnya tiada seseora ng meninggal pada tahun tersebut kecuali telah ditetapkan umurnya pada bulan Sya'ban. Aku ingin ketika dicatat takdirku, aku berada dalam keadaan beribadah dan beramal saleh'.

Dari berbagai pendapat di atas, maka melakukan amalan maupun berdoa di Nisfu Sya'ban dengan mengharap takdir dan qadla' yang baik dengan meyakini bahwa segala takdir seseorang dicatat pada Nisfu Sya'ban bisa dibenarkan. Setiap manusia toh pada dasarnya selalu mengharap ketetapan terbaik dari Tuhannya. Dan di malam Nisfu Sya'ban, mari kita pertebal keimanan bahwa takdir dan segala ketetapan hidup seseorang semata-mata adalah kuasa Allah, seraya senantiasa bermunajat pada-Nya memohon 'catatan takdir' yang dipenuhi kemuliaan dunia dan akhirat. Wallahu a'lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)


Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/77886/apakah-takdir-seseorang-dicatat-pada-nisfu-syaban

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...