Langsung ke konten utama

‘Memanusiakan’ Ikan

Menangkap ikan dengan jaring sederhana untuk dikonsumsi sendiri itu lebih manusiawi daripada dengan kail. Uraian berikut ini adalah beberapa alasannya yang bisa jadi Anda setuju. Ketika Anda menangkap ikan dengan jaring sederhana, maka dari awal mereka sudah menyadari akan bahaya yang mengancam keselamatannya. Dari saat itulah mereka mengambil sikap waspada dan hati-hati dengan harapan dapat lolos dari bahaya. Sudah tentu mereka senantiasa bertasbih dan berdoa sambil berupaya agar Tuhan melindungi mereka.

Sikap tawakal pun juga terus mereka lakukan karena tiada daya dan upaya kecuali dengan-Nya. Jika ternyata kemudian mereka memang harus mati di tangan Anda, maka kematiannya akan menjadi kematian yang telah disadari dari awal dan tentu saja mereka berdoa agar hayatnya berakhir dengan "husnul khatimah".

Tetapi berbeda ketika Anda menangkap ikan dengan cara mengail. Anda sadari atau tidak, kail adalah bagian dari alat untuk menipu karena bersifat menjebak. Pada awalnya, ikan-ikan senang melihat ada makanan meski sedikit atau tak seberapa jumlahnya. Mereka mengira makanan di ujung mata kail itu akan mengenyangkan perutnya.

"Alhamdulillah... dapat rezeki dari Tuhan," kata ikan-ikan itu dalam hati sambil terus bertasbih. "Lezat sekali rasanya." Begitulah kira-kira kalau mereka bisa berbicara dalam bahasa manusia Indonesia.

Namun betapa terkejutnya mereka ketika tak lama setelah mengunyah dan menelan makanan itu, tiba-tiba dari dalam mulutnya terasa ada benda keras yang dengan cepat bergerak ke atas atau menyamping. Benda keras yang berujung amat runcing itu menerebos langit-langit mulut hingga menembus mata atau leher.

Tak lama setelah itu mereka terangkat dari habitatnya dan menggantung di udara. Semakin lama menggantung semakin terasa sakitnya karena luka di bagian kepala bisa semakin melebar. Darah bisa jadi mulai menetes atau bahkan mengalir deras ketika mereka mencoba berontak ingin lepas dari jebakan bernama kail.

Sementara itu, terdengarlah oleh mereka suara manusia yang bersorak kegirangan atau terlihat senyum manis di bibirnya karena kail yang menjebak itu berhasil menangkap mereka.

"Astaghfirullahal adhim… Apa salah dan dosaku hingga aku harus mengalami nasib seperti ini, ya Tuhan? Aku benar-benar tertipu oleh manusia licik yang tak berani menghadapiku dengan tangan kosong."

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an bahwa apa saja yang ada di bumi dan langit bertasbih kepada-Nya, termasuk ikan-ikan itu sebagaimana temaktub dalam surah Al-Isra', ayat 44:

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ ۚ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

Artinya: "Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun."

Di ayat lain Allah SWT juga berfirman bahwa semua yang ada di bumi ini diciptakan-Nya memang untuk manusia sebagaimana termaktub dalam surah Al-Baqarah, ayat 29:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

Artinya: "Dialah (Allah), yang menjadikan segala apa yang ada di bumi untuk kamu sekalian."

Maka pertanyaannya adalah tidak bisakah manusia menempuh "cara-cara manusiawi" dan jujur dalam menangkap hewan-hewan air bernama ikan itu?

Kejujuran oleh manusia ini penting bagi ikan-ikan karena dengan kejujuran ini mereka dapat menyadari apa yang sedang terjadi. Kalau toh mereka memang harus mati di tangan manusia karena akan dimakan, mereka dapat mempersiapkan kematian itu dengan lebih baik. Tentu saja dengan harapan dapat bertemu dengan Sang Pencipta dalam keadaan ridha. Tidak saja ridha kepada-Nya tetapi juga kepada manusia yang memakannya. Jika ikan saja bisa kita manusiawikan, maka janganlah kita bersikap sebaliknya – mengikankan manusia. Wallahu a'lam bis-shawab.

'Memanusiakan' Ikan

Muhammad Ishom adalah dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta


Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/77382/memanusiakan-ikan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...