Langsung ke konten utama

Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung



Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung


Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung


Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung


Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung


Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung


Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung


Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung


Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung


Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung


Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung


Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung


Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung


Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung


Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung


Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung


Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung


Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung

KH Ruhiat atau dikenal dengan panggilan Abah Ruhiat lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat 11 November 1911 dan wafat pada tanggal 28 November 1977 bertepatan dengan 17 Dzulhijjah 1397.

Ayah Ruhiat bernama Abdul Gofur dan ibunya Umayah. Ia adalah Rais Syuriyah PCNU Tasikmalaya, pendiri Pesantren Cipasung Tasikmalaya, sebuah pesantren yang kelak dilanjutkan putranya KH Ilyas Ruhiat yang menjadi Rais Aam PBNU setelah Muktamar NU di Cipasung pada tahun 1994.

Pada usia belia, ia belajar ilmu agama di pesantren Cilenga, sebuah pesantren terkenal saat itu, yang diasuh oleh KH Sobandi atau Syabandi yang merupakan murid dari KH Mahfudz Tremas. Ia mengaji di pesantren tersebut dari tahun 1922 sampai tahun 1926. kemudian ia melanjutkan pengembaraan mencari ilmu ke pesantren-pesantren lain.

Pada tahun 1927 sampai dengna tahun 1928, ia mengaji ke Pesantren Sukaraja Garut dibawah asuhan KH Emed, Pesantren Kudang Cigalontang, Tasikmalaya asuhan KH Abbas Nawawi, dan Pesantren Cintawana asuhan Kiai Toha.  Dengan demikian, silsilah keilmuannya bersambung dengan tokoh-tokoh NU lain yang juga berguru ke kiai tersebut.

Pada tahun 1931, Ruhiat bermukim di Cipasung. Kemudian mengajar santri dan masyarakat sekitar tempat itu. Mulanya mengajar di masjid untuk selanjutnya membangun pesantren yang masih berdiri hingga sekarang. Pesantren tersebut didirikan secara resmi pada tahun 1932 dengan nama Pesantren Cipasung.

Dalam mengajarkan ilmu-ilmu pesantren, Ruhiat menggunakan ngalogat dengan bahasa Sunda. Ia berpandangan, dengan santri yang berbahasa Sunda maka harus digunakan bahasa Sunda. Santri pertamanya berjumlah sekitar 40 orang. Mereka adalah para santri yang dititipkan gurunya dari Cilenga.  

KH Ruhiat dipandang sebagai seorang kiai yang berpikiran maju pada zamannya, terutama dalam bidang pendidikan. Pada tahun 1935, ia mendirikan Madrasayah Diniyah. Pada tahun 1937, mendirikan Kursus Kader Muballighin wal Musyawirin. Pada tahun 1949 mendirikan Sekolah Pendidikan Islam. Pada tahun 1953 mendirikan Sekolah Rendah yang kemudian berubah menjadi Madrasah Ibtidaiyah. Pada tahun 1959 mendirikan Sekolah Menengah Pertama Islam dan ditembah Sekolah Menengah Atas Islam. Serta pada tahun 1969 mendirikan Sekolah Persiapan IAIN yang kemudian berubah menjadi MAN.   

Selain sebagai seorang kiai pendidik, Ruhiat adalah seorang pejuang gerakan kebangsaan yang melawan penjajahan Belanda. Ia pernah ditangkap Belanda dan dipenjara di Sukamiskin Bandung (1941) dan di Ciamis (1942). Pada masa penjajahan Jepang, ia tersangkut pemberontakan yang dilakukan sahabatnya, KH Zainal Mustofa sehingga ia kembali dipenjara di Tasikmalaya (1944). Pada masa Revolusi kemerdekaan lagi-lagi ia dipenjara Belanda (1949).  

Sebagai kiai yang berjuang untuk kemerdekaan, pada tahun 1945, setelah mendengar Proklamasi Kemerdekaan, Ruhiat pergi ke alun-alun Tasikmalaya. Dia kemudian berdiri tegap di atas babancong, podium terbuka yang tak jauh dari pendopo kabupaten. Ia berpidato, menyatakan dengan tegas bahwa kemerdekaan yang sudah diraih bangsa Indonesia cocok dengan perjuangan Islam. Oleh karena itu, kata dia, kemerdekaan harus dipertahankan dan jangan sampai jatuh kembali ke tangan penjajah. Ia meneriakkan pekik merdeka seraya menghunus pedangnya.  

Ketika pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) berlangsung, ia tak goyah sekalipun gangguan dari pihak DI sangat kuat. Ia menolak tawaran menjadi salah seorang imam DI. Ia menampik gerakan yang disebutnya mendirikan negara di dalam negara itu, karena melihatnya sebagai bughat (pemberontakan) yang harus ditentang. Puncaknya ia hampir diculik oleh satu regu DI, tetapi berhasil digagalkan. Akibat sikapnya yang tegas itu ia mengalami keprihatinan yang luar biasa, karena terpaksa harus mengungsi setiap malam hari, selama tiga tahun lamanya. (Abdullah Alawi)

Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung


Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung


Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung


Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung


Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung


Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung


Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung


Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung


Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung


Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung


Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung


Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung


Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung


Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung


Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung


Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung


Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung


Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/71200/abah-ruhiat-pendidik-dan-pejuang-dari-cipasung-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...