Langsung ke konten utama

STAINU Jakarta Dampingi Terbentuknya Muslimat NU Thailand 2017

Setelah sukses mendampingi majelis ulama Thailand Selatan mendirikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCINU) Thailand, STAINU Jakarta kini bergerak untuk lebih luas dengan menginisiasi dan mendampingi PCINU Thailand membentuk PCI Muslimat NU.

Sesaat sebelum mengikuti kuliah umum yang dihelat UNU Indonesia dan STAINU Jakarta (5/9), Syekh Dr. Ali Matee (Ketua PCI NU Thailand) berkesempatan menjalin komunikasi dengan pengurus pusat Muslimat NU di Kantor Pusat, Pengadekan, Jakarta Selatan. Silaturahim ini dilakukan untuk meminta izin pendirian Muslimat di Thailand Selatan, serta meminta mekanisme dan aturan pembentukan Muslimat NU Thailand.

STAINU Jakarta Dampingi Terbentuknya Muslimat NU Thailand 2017

"Kami datang ke PBNU untuk menerima SK pembentukan PCI NU Thailand, ini atas kerja sama kami dengan STAINU Jakarta. Kami ingin NU berkembang di Thailand Selatan, sehingga dapat menginspirasi Islam yang sejuk, damai, rahmatan lil alamin di kawasan Islam rumpun melayu", terang Syekh Ali yang saat ini menjabat sebagai Ketua Jawatan Agama Islam Thailand Selatan.

Pertemuan PCI NU Thailand dengan PP Muslimat NU atas prakarsa STAINU Jakarta. Aris Adi Leksono yang diberikan tugas mendampingi silaturahim tersebut mengatakan, "Sebagaimana kerja sama muslim thailand selatan dengan STAINU Jakarta, khususnya di bidang pendidikan, kami juga ingin mengembangkan kerja sama bidang sosial dan dakwah ala Islam Ahlussunnah wal Jamaah Annahdliyah di Thailand Selatan. Hal itu, diperlukan untuk.memperkuat ukhuwah islamiyah sesama rumpun Melayu. Langkah konkret yang sudah kami lakukan.adalah dengan memfasilitasi mereka dalam pembentukan PCI NU Thailand, dan akan menyusul Muslimat NU Thailand,” terangnya.

"Hasil petemuan dengan PP Muslimat NU, intinya mereka menyambut baik rencana terbentuknya PCI Muslimat NU di Thailand. Secara teknis, AD/ART, aturan organisasi telah diberikan sebagai bahan untuk penyusunan struktur pengurus di Thailand, terang Aris yang juga sebagai Wakil Ketua STAINU Jakarta.

Hadir dalam pertemuan PCI NU Thailand dan PP Muslimat NU sejumlah pengurus harian, di antaranya Nyai Mahfudoh, Nyai Nur Hayati Said Aqil Siroj, Machsana Asnawi, dan masih beberapa pengurus lainnya. (Red: Mahbib)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...