Langsung ke konten utama

Dua Dermaga Dibangun Lengkapi Wisata Air Bengawan Solo

Setelah Kali Pepe, wisata air mulai dikembangkan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo di Sungai Bengawan Solo. Dua dermaga dibangun di sepanjang Sungai Bengawan Solo di wilayah Solo.

Satu dermaga sudah dibangun di Beton, Kelurahan Sewu. Satu dermaga lain siap dibangun di wilayah Pucangsawit. Peresmian dermaga Sewu dilakukan Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo didampingi Wakil Wali Kota (Wawali), Achmad Purnomo, Jumat (22/9/2017) pagi.

Dermaga Sewu merupakan bantuan dari Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS). Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo mengatakan pembangunan dermaga sejalan dengan pengembangan wisata air di Sungai Bengawan Solo.

Dua Dermaga Dibangun Lengkapi Wisata Air Bengawan Solo
Dua Dermaga Dibangun Lengkapi Wisata Air Bengawan Solo

“Dermaga bisa melengkapi wisata air yang tengah disiapkan di sini,” kata Rudy, sapaan akrab Wali Kota ketika dijumpai wartawan di sela-sela peresmian.

Menurutnya, dermaga baru tersebut ditargetkan mampu meningkatkan potensi wisata air di sekitar Sungai Bengawan Solo. Bantuan dermaga ini dapat dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kegiatan, seperti pendukung festival gethek dan balap perahu.

Selain itu, warga yang ingin melabuh abu keluarga seusai dikremasi juga dapat dilakukan melalui dermaga tersebut. “Lewat dermaga ini [Sewu] lebih enak, lebih nyaman,” katanya.

Mengenai dermaga di Pucangsawit yang dekat dengan kediamannya, Rudi mengatakan akan membangunnya dengan dana pribadinya dan swadaya masyarakat setempat. “Kami berharap juga PMS mau membantu lagi,” katanya.

Wakil Ketua IV PMS, Rosito Djojo Sutanto, mengatakan bantuan pembangunan dermaga di Beton, Kelurahan Sewu, untuk memfasilitasi warga. Khususnya warga yang ingin melabuh abu keluarga seusai dikremasi.

“Larungan [labuh abu] nanti banyak dilakukan di sini [Dermaga Sewu],” katanya.

Sejauh ini, Djojo mengungkapkan warga Tionghoa kesusahan melabuh abu jasad keluarga ke Sungai Bengawan Solo. Hal itu dikarenakan akses menuju sungai tersebut telah tertutup parapet sebagai pelindung banjir yang dibangun oleh Balai Besar Wilayah Sungai Bwengawan Solo (BBWSBS).

Dermaga Sewu ini pun diharapkan menjadi akses labuh abu yang representatif untuk warga Tionghoa di Solo. “Proses pembangunan dermaga dikerjakan dua pekan saja. Kami juga melakukan pembersihan lingkungan sekitar dermaga agar terlihat bersih dan nyaman,” katanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU

Prof KHR Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Kedua dari NU Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat dikatakan paling singkat menjabatnya. Tercatat di daftar nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946 - 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III, dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU, dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim. Meskipun cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya. Kebijakan lain, yang diambil pada masa Fathurrah...

Tabahnya Hati Seorang Muadzin

Adzan Ashar di masjid dekat tempat tinggalku di sore itu terasa berbeda dari biasanya. Pak Syakur yang biasanya bersuara lantang dan merdu dalam setiap adzannya, di sore itu suaranya terdengar parau dan sendu. Maklum di sebelah kanannya ada peti jenazah yang di dalamnya istri yang dicintainya berbaring disemayamkan. Tabahnya Hati Seorang Muadzin Di akhir adzan suara Pak Syakur terdengar tersendat-sendat dan panggilan untuk shalat itu hampir saja tak bisa diselesaikannya. Pak Syakur pasti menyadari adzan itu adalah adzan perpisahan yang tak akan didengarkan lagi oleh sang istri ketika telah dimakamkan di tempat yang jauh dari rumah dan masjid tempat Pak Syakur sehari-hari bertugas sebagai muadzin.  Sebelumnya di pagi hari pukul 07.00 WIB, istri Pak Syakur–Ibu Sri Bariyah–mengembuskan napas terakhir dalam usia 50 tahun.  Selama beberapa minggu sebelum ajal, Bu Bariyah sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda karena sakit komplikasi. Almarhumah wafat dengan meninggalkan 4 orang anak...

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir. Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan. Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo'a, 'Allâhumma hawâlainâ wa lâ 'alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),' HR Bukhari. Hadi...